Salib: Wajah Mesianik Yesus

Salib: Wajah Mesianik Yesus

 

Secara Kristiani, kita memandang salib sebagai puncak pewahyuan diri Allah. Pewahyuan berarti suatu penyingkapan misteri ilahi, suatu cara Allah menyatakan siapa diri-Nya. Dokumen Gereja, Dei Verbum menjelaskan hakekat wahyu demikian, “Dalam kebaikan dan kebijaksanaan-Nya Allah berkenan mewahyukan diri-Nya dan memaklumkan rahasia kehendak-Nya (lih. Ef1:9); berkat rahasia itu manusia dapat menghadap Bapa melalui Kristus Sabda yang menjadi daging, dalam Roh Kudus, dan ikut serta dalam kodrat ilahi (lih. Ef2:18 ; 2Ptr1:4) melalui wahyu itu kebenaran yang sedalam-dalamnya tentang Allah dan keselamatan manusia nampak bagi kita dalam Kristus, yang sekaligus menandai pengantara dan kepenuhan seluruh wahyu” (DV Art. II).  Dalam dokumen lain dikatakan, “Melalui Yesus, segala sesuatu dibaharui. Demikianlah, untuk memenuhi kehendak Bapa Kristus memulai kerajaan Sorga di dunia, dan mewahyukan rahasiaNya kepada kita, serta dengan ketaatanNya Ia melaksanakan penebusan kita.” (bdk. KV. II Perutusan Putera).

 

Mesianisme

Mesiansme berasal dari tradisi religius Judeo-Kristen. Istilah mesias sendiri berasal dari bahasa Ibrani (Mashīah) yang berarti “yang diurapi,” (oleh Tuhan). Mesias berati orang yang diutus Tuhan utnuk memulihkan kejayaan Israel. Mesianisme merupakan ajaran tentang kedatangan kembali seorang atau sekelompok penyelamat pada akhir zaman untuk mengembalikan segala kebaikan dari masa lalu yang kini telah hilang. Kejayaan masa lalu itu merujuk pada keadaan ketika bangsa Israel hidup dalam kedamaian, kemakmuran, dan kejayaan di masa kepemimpinan Daud. Hal itu dikontraskan dengan keadaan bangsa israel yang menderita di bawah kepemimpinan politik Roma. Maka pembebasan yang dimaksud selalu dikaitkan dengan pemberontakan politis. Mesias selalu dikaitkan dengan peribadi yang gagah berani, mempunyai kemampuan untuk melawan kekuasan poltik asing yang menjajah mereka.  (BASIS, NO. 09-10, H. 15, 2018). Mesianisme Yahudi ini serentak bermakna politis dan spiritual.

 

Wajah Mesianik Yesus di salib

Melalui Salib, segala visi/cara pandang kita tentang Allah, mesias atau penyelamat mulai dibentuk. Manusia sering merasa telah mengenal Allah dan memiliki kriteria tertentu bagaimana seharusnya Allah itu. Maka sebenarnya problemnya ialah bagaimana menundukkan konsep itu sejenak di hadapan kenyataan salib sebagai wajah mesianik yang ditawarkan Yesus.

 

Cinta Tanpa Syarat

Keallahan yang Yesus tawarkan ialah cinta belaka, yang tidak pernah lebih ataupun kurang dari kepenuhan cinta itu sendiri. Perlu digarisbawahi, “Yesus rela disalibkan, bukan ingin disalibkan.” Allah tidak menghendaki kematian Yesus, melainkan menghendakiNya taat. Lagi, Yesus bukanlah seorang masokiz yang begitu merindukan penderitaan. Melalui salib, Yesus ingin menyatakan kesetiaanNya pada misi keselamatan. Jika mewartakan kerajaan Allah harus melewati salib/penderitaan, itu bukanlah masalah. Kira-kira secara sederhana dapat digambarkan demikian. Jadi, fokus utama adalah misi penyelamatan, bukan penderitaan. Kita tidak diselamatkan oleh penderitaan Yesus melainkan oleh ketaatan Yesus pada kehendak Allah yang berwujud cinta tanpa syarat. Cinta akan menjadi cinta yang sesungguhnya ketika cinta juga rela disakiti. Yesus yang dengan rela menanggung penderitaan salib, justru menunjukkan wajah Allah yang mencintai tanpa syarat bahkan bila cinta itu ditolak dan penolakan itu berwujud kekerasan. Dan justru karena itu cinta “menang” atas kekerasan dan hukum balas dendam. Itulah mengapa salib disebut tanda kemenangan. Semakin besar bobot dosa yang kita lakukan, bobot pengampunan itupun semakin besar. Ide Allah, melalui salib, sangat jelas mengajak semua orang untuk bebas dari perbudakan dosa melalui pengosongan diri dan mencintai tanpa menuntut balas. Disinilah ktitik dimana kita mesti bertobat, yaitu bahwa tujuan tidak menghalalkan cara. cinta kasih selalu lebih dibesar dari apapun. Kekerasan harus berhenti di tangan kita dengan hukum cinta yang tidak tahu membalas, rendah hati dan tidak mendendam.

 

Salib sebagai kemiskinan yang membebaskan

Dalam Kristus, Allah menyatakan diri dalam kurun waktu, masuk dalam pergulatan dunia, masuk dalam kenyataan sejarah kehidupan kemanusiaan kita, berkenan menyatakan diri di dalam dan dengan menjadi manusia beserta kondisi-kondisinya. Misteri inkarnasi ini harus mampu menghantar kita pada kesadaran akan kelemahan kita sebagai manusia yang tak dapat menyelamatkan diri kita sendiri dan sebaliknya, melihat kemiskinan Allah (salib) sebagai satu-satunya jalan yang memerdekakan kita. Dengan demikian, penghayatan kemiskinan tidak melulu berarti penyangkalan akan harta benda, dsb., melainkan keikutsertaan atau ikut ambil bagian dalam keprihatinan Kristus pada kita melalui perhatian kita pada orang lain.

Kemiskinan kristiani mesti mengarahkan kita untuk terlibat dalam karya penyelamatan Allah lewat pengorbanan diri demi injil. Hidup Kristus adalah ide pembebasan Allah yang hanya dapat terwujud jika manusia meneladaninya. Sebab melalui kemiskinan, Allah ingin agar manusia bebas dari perhambaan akan kebutuhan daging dan mengarahkan diri menuju hidup dalam roh yang bebas. Menjadi miskin bisa dilakukan dengan menjual kesombongan dengan kerendahan hati, menjual kekerasan dengan cinta, membantu seseorang bebas atau diselamatkan dari perbudakan kebutuhannya sendiri sebagaimana dinyatakan dalam salib Kristus. Maka, menjadi miskin juga berarti memberi ruang bagi wajah manusiawi Yesus yang tampak dalam kerendahan hati, pengorbana, pengampunan, dll. Semua ini akan menjadi sebuah pembebasan sebab kemiskinan model salib melepaskan kita dari perbudakan terhadap ambisi-ambisi pribadi yang kadang-kadang terlalu egois. Pembebasan ini dimulai saat kita memutuskan untuk tunduk pada tuntutan salib.

 

Kekuatan penguasaan diri

Yesus menggambarkan Allah yang kuat penuh penguasaan diri. Kita ingat ketika Yesus mendoakan para algojo yang menyiksaNya. Jika Yesus lemah, minimal ia akan mengutuki para serdadu itu, karena lemah berarti mengalah terhadap amarah, nafsu balas dendam, terhadap ambisi-ambisi murah untuk memperoleh pengakuan dan tepuk tangan. Kadang hal ini terjadi pada kita, yaitu selalu tergoda untuk turun dari salib, menonjolkan diri, pamer, ingin diakui. Akan tetapi, dengan pengampunan yang Ia tunjukkan dengan mendoakan para algojo itu, Yesus membuktikan bahwa cintaNya sungguh tak bersyarat dan bahwa hanya orang yang kuat dapat melakukannya dengan sangat lembut, (bdk. Luk 23:34).

 

Belas Kasih

Coba pikirkan jika Allah menghukum, siapakah di antara kita yang masih bertahan hidup? (bdk. Luk. 15:11-32). Jika penyelamatan hanya terjadi dalam hukum retribusi (Allah akan baik hanya jika aku baik), apakah ada yang dapat selamat? Jika Allah berpikiran seperti kita, bahwa penyelamatan tergantung pada perbuatan baik kita, Yesus akan turun dan ‘menyalibkan’ kita semua, sebab tidak ada yang layak, (Luk. 25:37). Di sini jelas bahwa Allah kristiani adalah Allah yang berbelaskasih dan Maha pengampun. Ia tidak menghukum tetapi Ia juga tidak membenarkan dosa. Dan bahwa, keselamatan yang kita peroleh adalah anugerah belaka yang merupakan inisiatif dari Allah sendiri atas dasar cintaNya pada kita. Persoalannya ialah, kita sering merasa dapat memberi sesuatu untuk Allah atau bahwa kita dapat membalas cinta-Nya. Kita menciptakan sebuah hubungan kontrak dengan Allah. Jika suatu saat semuanya lunas, kedudukanku dengan Allah sama. Aku terlepas dariNya dan bahkan dapat menuntut balik, (bdk. Luk. 8:9-14).

Di sini kita diharapkan bisa melihat bahwa, kita tidak berjasa sedikitpun untuk memeroleh keselamatan. Keselamatan yang kita terima bukanlah sebuah hadiah di akhir pertandingan yang hanya diraih oleh para pemenang. Sebab Allah memenangkan kita semua. (bdk. Luk. 20:38). Pada Allah tidak ada retribusi. Allah bekerja karena Ia adalah Allah. Tak ada kekuatan lain yang dapat membuat Allah merasa terdesak selain belaskasih-Nya sendiri.

Memaknai pengampunan/kemurahan hati Allah jelas sama sekali tidak berarti sebagai sebuah ajakan untuk berbuat dosa. Orang yang berpikir seperti ini sesungguhnya belum menerima keselamatan. Sebab penyelamatan terjadi jika manusia mau menampung Allah dengan hidup menurut kehendakNya. Dengan kata lain, hidup sebagai orang Kristen berarti bagaimana kita menghayati hidup sebagai pemenang/orang yang diselamatkan Allah atau orang yang terpesona dengan kemurahan hati Allah. Hal ini diungkapkan dengan sangat indah oleh St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, “ jika demikian, apakah yang dapat kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekalikali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa (dalam pembaptisan), bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? (Rom. 6:1-2). Hidup sebagai pemenang berarti meneladani Allah secara total dalam mencintai. Kita tak pernah dapat membalas cinta Allah tetapi suatu keberuntungan bahwa Allah memberi kita peluang untuk terpesona dan meneladaniNya dalam hidup kita dengan memberi sebagaimana kita telah menerimanya.

Seorang ibu yang mengadung tetapi tidak ingin melahirkan anaknya membunuh keduanya. Hal ini juga senada memberi gambaran bahwa hidup sebagai pemenang berarti harus memberi (Mat 10:7-8). Cinta Allah yang kita terima dengan cuma-cuma harus kita berikan dengan cuma-cuma pula. Jika Allah memberikan rahmatnya pada semua orang, siapakah kita sehingga menghalangi rahmat itu dan menyimpanya untuk kita saja yang pada gilirannya akan mati.

 

Hidup sebagai Orang Kristiani

Jadi, menjadi orang kristen berarti meneladani sikap Kristus yang Ia tunjukkan melalui salib. Kita diajak untuk melihat salib sebagai lagkah pertobatan visi kita tentang Allah sebagaimana yang dialami oleh kepala pasukan di bawah kaki salib Yesus “sungguh, orang ini adalah anak Allah” (Mrk. 15:39) dengan keterangan penting “melihat MATInya demikian” bukan saat Ia melakukan mukjizat. Kita diajak untuk tidak melihat salib sebatas sebuah kenangan akan luka, penghinaan, sengasara, dan penderitaan semata tetapi lebih jauh sebagai bukti cinta, pemberian diri, pelayanan, dan ketaatan. Dengan menyadari ini, salib menjadi jalan pertobatan untuk hidup dengan cara Yesus sebagaimana Gereja pun terus mendesak kita. Masa pra paska yang dibuka dengan rabu abu (penerimaan abu) dan ditutup dengan kamis putih (pembasuhan kaki) mengajak kita untuk “tunduk” sampai pada kaki sesama yang adalah kehadiran Allah yang nyata. Kita sadar bahwa hal ini adalah panggilan dan pekerjaan seumur hidup yang tidak menemukan kesempurnaannya di dunia ini. Tugas kita ialah terus berusaha dalam memperbaharui diri.

 

Fr. Patris Arifin SX

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *