Kitalah Tunas Perdamaian Itu

Menjadikan Dunia Satu Keluaga

Kitalah Tunas Perdamaian Itu

Refleksif Kegiatan YIPC Jakarta 18-20 November 2022

Pada 18-20 November 2022, saya dan seorang teman dari STF Driyarkara menjadi utusan untuk mengikuti kegiatan dialog yang diadakan oleh YIPC (Young Interfaith Peacemaker Community) Jakarta. Acara YIPC ini diadakan di Desa Pondok Udik, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Secara singkat acara ini adalah upaya untuk menggerakkan toleransi dan dialog agama (Islam dan Kristen) di antara kaum muda-mudi Indonesia. Kali ini, kami peserta hanya terdiri dari NU, Ahmadiyah dan Katolik. Sekalipun saya utusan dari kampus, saya tetaplah seorang Misionaris Xaverian yang mesti membawa nilai-nilai perdamaian di kegiatan ini. Jadi saya seorang mahasiswa filsafat dan saya seorang Xaverian.
Jika melihat konflik dan masalah-masalah agama di Indonesia, tampaklah bahwa keadaan beragama kita sedang tidak baik-baik saja. Kita membutuhkan banyak upaya dan banyak hal lainnya demi terciptanya toleransi yang baik dalam hal beragama. Indonesia indah dengan segala keberagamannya. Namun di sisi lain, kita mesti banyak berbenah dalam sisi pemahaman dan toleransi antaragama. Saya kira cukuplah masalah-masalah agama yang telah terjadi di Indoensia ini menjadi bahan pembelajaran bagi kita untuk membuka ruang untuk keberagaman agama dan tentunya mesti saling manghargai. Kita perlu menjauhi sikap yang menganggap bahwa agama selain agama kita sendiri adalah sesat dan harus disingkirkan. Selain itu, kita mesti sadar bahwa kita adalah sama-sama manusia yang dicipta oleh Allah.

Yesus telah memberi teladan yang baik dalam hal penerimaan akan perbedaan ini. Dalam Injil Matius 8:5-11, seorang perwira datang kepada Yesus dan meminta-Nya untuk menyembuhkan hambanya yang terbaring sakit. Pada cerita itu, Yesus langsung berkenan untuk menyembuhkan hambanya itu. Akan tetapi perwira itu berkata “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh….” Hal pertama yang perlu diketahui adalah bahwa perwira itu bukan seorang pengikut Yesus, akan tetapi ia percaya akan kekuatan sabda Yesus yang berkuasa atas penyakit hambanya itu. Kedua, perwira itu telah menunjukkan kasihnya yang besar pada hambanya itu. Bayangkan saja, pada zaman itu ia yang seorang perwira tetapi begitu peduli akan hambanya. Ketiga, ia datang dengan penuh kerendahan hati. Ia tidak mempedulikan tanggapan orang lain dan kehormatannya sebagai perwira. Bisa saja orang-orang akan menyindir dan mengejeknya, akan tetapi ia tetap berani dan dengan rendah hati datang pada Yesus. Karena imannya itu, Yesus pun memenuhi permintaan perwira itu dan menyembuhkan hambanya itu.

Agaknya dari kisah itu kita dapat belajar tentang penerimaan dalam perbedaan. Yesus dengan jelas menunjukkan contoh untuk mementingkan kasih di atas segala perbedaan. Terkadang kita manusia mengaku percaya pada Tuhan, tetapi kita tidak bisa menunjukkan buah iman kita lewat tindakan kiti pada sesama manusia. Kita masih cenderung egois, memaksakan kehendak, dan sulit menerima kekurangan dan kelemahan sesama kita, termasuk dalam perbedaan keyakinan. Kita mesti sadar bahwa agama kita bukan agama yang baru lagi. Sampai sekarang semua orang masih tetap meyakini agama yang berbeda-beda. Dari hal itu, masihkah kita ingin agar orang lain yang berbeda itu meyakini apa yang kita yakini? Masihkah kita menginginkan bahwa semua manusia di dunia ini meyakini agama yang kita anggap paling benar?

Hal-hal demmikianlah yang ingin dibentuk dari kegiatan YIPC ini; menjadi manusia yang toleran, saling menghargai dan pembawa damai di muka bumi ini. Yang paling saya kagumi adalah target utamanya yakni kaum muda. Karena kaum mudalah yang dianggap mampu mengikis fanatisme dan intoleranisme itu dari sejak dini. Dan pastinya dari kaum muda-mudi inilah yang memiliki kemungkinan untuk menjadi pemimpin agama atau orang yang berposisi penting dalam keagamaan. Dengan semangat muda yang ada dalam dirinya, kaum muda diharapkan mampu menumbuhkan dan merawat rasa toleransi dalam setiap sendi masyarakat. Kita memang berbeda, tetapi bukan berarti kita tidak bisa bersatu. Kita hanya dicipta di jalan yang tidak sama, tetapi bukan berarti kita tidak bisa berjalan bersama. Semua itu demi tercapainya cita-cita kita sebagai bangsa Indonesia yang telah dirumuskan para founding father kita dalam Panca Sila. Itulah yang mesti kita junjung tinggi. Kitalah tunas perdamaian itu.

Dalam satu kegiatan selama tiga hari itu, kami (para peserta) diminta untuk duduk bersama dalam kelompok dan membaca kitab suci masing-masing dalam kelompok dan saling berbagi inspirasi dari bacaan suci tersebut. Dari situ kemudian peserta dapat memahami bahwa ajaran-ajaran kitab suci itu baik, meskipun ada ayat atau bagian tertentu yang harus ditafsir dan didalami lebih jauh. Akan tetapi dari hal itu para peserta sadar bahwa Allah kita menginginkan kebaikan atas semua manusia. Selain itu juga (pada sesi yang lain), kami diminta untuk menuliskan stereotip atau tuduhan-tuduhan kami tentang agama Islam dan begitu juga sebalinya, terkait iman dogmatis dan praktis. Dari situ kemudian kami bisa saling mengerti betapa banyak keburukan yang ada dalam pikiran kami masing-masing tentang agama lain. Setelah itu ada sesi klarifikasi untuk memberitahu atau menjelaskan mengenai tuduhan-tuduhan itu. Jadi selain hanya berdinamika bersama, kami juga belajar tentang ajaran agama lain dan diajak untuk menghilangkan stigma negatif yang ada dalam pikiran kami.
Harapan saya, YIPC ini dapat semakin bertumbuh dan mampu mengajak banyak anak muda untuk menjadi agen-agen perdamaian di Indonesia ini atau bahkan hingga ke suluruh dunia. Saya menginginkan Indonesia yang damai dan toleran dalam kebhinekaan. Saya yakin kita semua bisa menjadi seorang beriman yan baik dengan agama yang kita yakini. Saya juga percaya bahwa kita bisa menciptakan Indonesia yang maju, damai dan toleran sesuai cita-cita bangsa kita, Indonesia.

Salam Peace Shalom

Daniel Natalius Munthe, SX

Frater Tingkat II

Leave a Reply

Your email address will not be published.