Kita Semua Misionaris!

Kita Semua Misionaris!

Dalam salah satu episode di kanal podcast Noice, yaitu “Berbeda tapi Bersama” yang dibawakan oleh Habib Husein Ja’far, ia berdialog dengan Sujiwo Tedjo membicarakan titik temu beragama dan berbudaya. Salah satu topik yang menarik adalah ketika mereka menyampaikan bahwa semua orang adalah budayawan, dan semua orang adalah ulama. Sujiwo Tedjo mengatakan bahwa semua orang adalah budayawan, karena kita semua pasti setiap hari secara alami mempertanyakan suatu peristiwa yang terjadi, menjawabnya dari batin, dan mengambil maknanya. Itulah proses kebudayaan. Contohnya, kita tahu jalanan macet jam 5 sore, kenapa? Karena orang-orang pulang kerja. Lalu, supaya saya gak kena macet, saya putuskan gak akan bawa mobil sendiri, atau saya akan lewat jalan lain. Lalu, Habib Husein membalasnya, bahwa semua orang adalah ulama. Dari asal katanya, Ulama adalah orang yang ahli, orang yang mengerti. Orang ahli karena mendalami ilmu tertentu dan Semua ilmu punya keberkahan apabila dibuat bermanfaat bagi orang lain. Jadi, apabila kita menggunakan keahlian kita untuk membantu orang lain, saat itulah kita menjadi ulama.

Ketika saya mendengar dialog tersebut, saya jadi ingat pada gagasan yang saya dapatkan sejak saya jadi frater, khususnya frater Xaverian, yaitu bahwa pada dasarnya, kita semua adalah Misionaris. Mungkin yang biasa kita pikirkan, misionaris itu pastor, biarawan-biarawati yang pergi ke luar negeri dan melayani umat di sana. Oke, ada benarnya.. karena kalau kita cari di KBBI artinya kurang lebih seperti itu. Tapi kalau hanya segitu, bagaimana Bunda Maria bisa mendapat gelar ‘Misionaris Pertama’? Juga ada Santa Theresia dari Liseux yang menjadi ‘Pelindung Misi’, setara dengan Fransiskus Xaverius. Santa Theresia, gak pernah keluar dari biara seumur hidupnya. Benar-benar seluruh hidupnya dibaktikan di biara, berdoa.

Mungkin bagi setiap orang, misionaris punya arti sendiri-sendiri, sesuai pengalamannya. Dari asal katanya sendiri, yaitu misio, yang punya keterkaitan dengan kata kerja ‘mittere’ yang berarti mengirim, mengutus. Nah, kita sendiri sebagai orang Kristiani pasti sudah menerima baptisan, yang mana makna dari babtisan itu sendiri adalah perutusan. Jadi, sejak dibabtis, kita sebenarnya sudah menjadi misionaris.

Tapi bagi saya, ada hal lain yang membuat kita disebut misionaris dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita dalam kehidupan sehari-hari, melakukan segala sesuatu melebihi motivasi pribadi, menjalankan perintah Yesus, teladan Yesus, atau bahkan berbuat sesuatu dengan kesadaran ‘demi Yesus’, di situ kita sudah menjadi misionaris. Contoh sederhana, di keluarga, kita bangun pagi, setelah bangun menyiapkan makanan dengan sadar penuh ‘aku siapkan makanan ini agar keluargaku sehat dan bisa jalankan aktivitas hari ini dengan baik’. Buat kita yang masih sekolah, belajar bukan hanya untuk mendapat nilai, tapi sadar ‘aku belajar, supaya makin banyak ilmu yang bisa aku pakai untuk kebaikan orang lain’.

Jadi ketika kita melakukan segala sesuatu bukan demi kepentingan diri sendiri, tapi demi kebaikan orang lain, karena sadar bahwa ada Yesus dalam diri orang lain, di situ kita sudah menjadi misionaris, sebab kita ‘diutus’, dan makna diutus selalu keluar. Bukan hanya keluar secara posisi, tapi keluar dari diri kita sendiri.

Selamat hari Minggu Misi. Semoga hari ini menginspirasi kita untuk lebih ‘keluar’ dari diri sendiri, tapi melihat dan mengasihi Kristus dalam diri orang lain.

Tuhan memberkati!

Fr. Dito, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *