Kebahagiaan Sejati

Kebahagiaan Sejati

(Mrk, 10:17-30; Keb, 7:7-11; Ibr, 4:12-13)

Saudari/a yang terkasih, Selamat Hari Minggu. Semoga semuanya dalam keadaan sehat.

Bacaan-bacaan hari ini sangat menarik. Saking menariknya, ada ungkapan yang muncul, yang pernah saya dengar berbunyi demikian, “Kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang saya miliki, melainkan bagaimana ketergantungan saya akan penyelenggaraan Ilahi.” Ungkapan ini sangat menarik perhatian saya dan menimbulkan sebuah pertanyaan, “Dengan demikian, apakah saya tidak harus memiliki harta?” Rupa-rupanya bukan itu pertanyaan yang tepat, melainkan “Bagaimana sikap saya terhadap harta duniawi tersebut?”

Dalam injil Markus dikatakan ‘seseorang’ datang kepada Yesus dengan penuh gembira. ‘Seseorang’ itu berkata, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Bagi saya kata ‘seseorang’ ini menarik karena belum jelas siapakah seseorang itu. Barangkali kita bisa bercermin diri “Apakah saya seperti seseorang yang ada di dalam bacaan ini?” Setelah Yesus mengungkapkan, “Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah…. ayt. 19”, seseorang tersebut begitu berapi-api mengungkapkan bahwa ia sudah melakukan semuanya.  

Akan tetapi, Yesus menilai sesuatu yang penting yang ada kaitannya dengan cinta Kasih (berbagi), yaitu “Juallah apa yang kamu miliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin.” Barangkali muncul pertanyaan lagi “Seandainya dijual atau diberikan semua, apa yang tersisa? Bagi saya ungkapan ini mengarah pada ketidak lekatan akan apa yang kita miliki. Kelekatan itu barangkali tidak hanya harta duniawi, melainkan juga menikmati sendiri berkat yang Tuhan berikan. Ketika kita menikmati sendiri berkat Tuhan itu, kita sebenarnya juga mengambil dan mencuri berkat orang-orang miskin. Kita menjadi tidak lepas bebas dan tetap berada pada zona nyaman. 

Hal inilah yang dikritik oleh Yesus. IA menghendaki agar kita mampu hidup lepas bebas terhadap apa yang kita miliki. Misalnya, berbagi sukacita dan menjadi berkat bagi sesama yang kita jumpai apa pun status dan warna kulitnya. Maka pertanyaan selanjutnya, kita harus terikat sama apa? Pada yang Ilahi. Ketergantungan akan penyelenggaraan Ilahi adalah syarat mutlak bagi pengikut Kristus. Di bagian akhir bacaan injil dikisahkan tentang upah mengikuti Yesus. Petrus yang mewakili para Murid-Nya bertanya tentang apa imbalan setelah mengikuti-Nya. Tentu para murid masih memikirkan imbalan yang serupa dengan pengorbanan mereka.

Dengan penuh kasih, Yesus menjawab mereka, “Setiap orang yang karena Aku dan Injil meninggalkan segala-galanya….akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan menerima hidup yang kekal—Ayat 29-30.” Menarik bahwa Tuhan memberikan jaminan yang sangat kuat, yaitu memperoleh hidup yang kekal. Maka jelas, sebagai pengikut Kristus pertama-tama terikat pada Kristus dan Injil-Nya, bukan pada apa yang kita miliki di dunia ini. Sebab yang kita miliki adalah sarana saja untuk mendukung kehidupan kita di dunia. Di bulan misi ini, marilah kita berlomba-lomba untuk mendahulukan kerajaan Allah (Mat 6:33), menjadi berkat bagi diri sendiri dan sesama.

Firmino, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *