Menjadi yang Terakhir Dari Semuanya

Menjadi yang Terakhir Dari Semuanya

“Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”(Mrk. 9:35)

Dalam pelayanan pasti ada kecenderungan ingin menonjolkan diri, persaingan, hingga menimbulkan sikap iri hati. Para murid mempertentangkan siapa yang paling terbesar di antara mereka. Meskipun mereka diam tetapi Yesus tahu apa yang telah mereka perbincangkan. Yesus meminta para murid untuk menceritakan apa yang telah membuat mereka bertengkar di perjalanan. Peristiwa ini ingin menunjukkan bahwa Yesus mengetahui apa pun yang kita pikirkan atau rasakan dalam setiap hidup pelayanan kita. Dan rasul Yakobus mengingatkan kembali bahwa kita mesti hati-hati terhadap hawa nafsu, iri hati dan mementingkan diri sendiri. Maka doa itu penting  untuk memperoleh hikmat dari Allah sehingga mampu menjadi pelayan yang menaburkan damai daripada bertengkar tentang siapa yang paling terbesar.

Saya sebagai seorang frater doa adalah sahabat. Saya sebut sahabat bukan karena ketika saya butuh baru saya ingat doa, tetapi karena doa adalah tempat saya mencurah seluruh isi hati saya. Pengalaman suka duka dalam perjalanan panggilan atau pelayanan tercurahkan dalam doa. Dulunya doa bagi saya adalah meminta, dan itu tidak salah. Siapa pun yang meminta pertolongan dari Tuhan karena yakin bahwa Tuhan adalah Allah yang sungguh murah hati yang menurunkan hujan bagi orang benar maupun orang jahat. Namun kali ini saya mau berbagi pengalaman hidup doa yang menyadarkan saya bahwa doa bukan hanya soal meminta tetapi juga berbagi pengalaman dengan Tuhan.

Suatu hari ketika saya sedang berdoa menyadari bahwa “Tuhan, Engkau tahu segalanya yang saya butuhkan sebelum saya meminta.” Setelah itu yang saya lakukan adalah curhat pada Yesus yang tersalib. Curhat pengalaman yang baik atau buruk, tentang perasaan-perasaan saya sepanjang hari, masalah panggilan, relasi, keluarga, pelayanan, harapan, apa saja. Dengan curhat tentang semuanya itu saya merasa semakin dekat dengan Yesus. Dia memandang dan mendengarkan saya yang pendosa ini. Pengalaman ini mengingatkan saya pada St. Guido Maria Conforti yang mengungkap pengalaman rohaninya di hadapan Yesus yang tersalib: “Aku memandang Dia dan Ia memandang aku. Ia mengatakan banyak hal kepadaku.”

Curahkanlah isi hatimu pada Yesus dalam doa, apa saja, sebab Dia pasti mendengarkan. Orang yang berdoa dengan benar pasti mengenal Yesus, dan orang yang mengenal Yesus secara mendalam pasti tahu bahwa Yesus menghendaki hidup pelayanan yang penuh belas kasih dan murah hati, pembawa damai, dan taat.

Tuhan memberkati.

Fr. John Sarorougot, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published.