Salib dan Kebangkitan; Tanggung Jawab ikut Yesus

Salib dan Kebangkitan; Tanggung Jawab ikut Yesus

Saudara-saudari yang terkasih, selamat berhari Minggu. Semoga perjalanan hidup kita pada hari kemarin, hari ini dan selanjutnya merupakan pengalaman iman yang membuat kita dapat mengenal Yesus secara pribadi. Dengan demikian, pertanyaan personal Yesus kepada Petrus “menurut kamu, siapakah Aku ini?” dapat kita jawab juga secara pribadi. 

Bacaan Injil pada hari Minggu ini, mengingatkan saya akan seorang Ibu yang saya temu dua tahun lalu, di salah satu Paroki di Jakarta. Dengan raut wajah terharu Ibu itu menceritakan pengalaman imannya kepada saya. Pengalaman itu terjadi dalam hidupnya, beberapa tahun sebelumnya. Kala itu ia masih non-Katolik. Pilihannya menjadi pengikut Kristus bukan sekadar hanya mengikuti suaminya yang beragama Katolik. Tetapi karena suatu pengalaman yang menggugah hati, kemudian pengalaman itu memurnikan pilihannya menjadi Katolik. Meskipun pengalaman ibu itu masih jelas dalam ingatan saya sekarang ini, tetapi saya tidak ingin menulisnya di sini. Yang hendak saya bagikan, tanggapan keluarganya atas pilihannya dan bagaimana kelanjutan hidup ibu itu sebagai Katolik. 

Menurut ceritanya, keluarganya sangat berpegang teguh pada tuhan-nya. Orang-orang di kampungnya juga demikian. Belum ada seorangpun dalam keluarga mereka yang pindah agama, apalagi menjadi Katolik. Dan, untuk urusan itu sangat tidak diinginkan oleh keluargannya. Oleh karena itu, pilihannya menjadi seorang Katolik adalah suatu pilihan yang penuh berani dan berkonsekuensi. Ia diusir dan tidak diakui dalam keluarganya lagi. Tentu saja ini sesuatu yang sangat sulit dipikirkannya. Namun, meskipun demikian konsekuensi berat itu tidak merubah pilihan pribadinya untuk mengikut Kristus. Sejak kepindahannya menjadi seorang Katolik, ia tidak pernah kembali ke kampung halamannya. Menurutnya lebih baik tidak kembali daripada membuat keluarganya murka. 

Setelah menerima rahmat pembaptisan, dengan pengetahuan akan iman Katolik yang masih pas-pasan ia memberanikan diri terlibat dalam kegiatan gereja. Ia mulai mendampingi anak sekolah Minggu. Melalui kagiatan yang masih setia ia jalankan sampai saat ini, pengetahuan dan imannya akan Yesus Kristus semakin mendalam. Lebih dari itu, baginya kegiatan yang ia lakukan adalah salah satu bentuk kecintaannya kepada Kristus. 

Saudara-saudari yang terkasih, pengalaman seorang ibu yang saya bagikan mungkin tidak selengkap dan seakurat yang ia ceritakan. Tetapi pengalaman ibu tadi, bagi saya menunjukkan tiga hal yang digarisbawahi dalam injil hari ini. Pertama, pengenalan akan Yesus Kristus, kedua konsekuensi pengikut Kristus, ketiga tindakan – buah iman. Pengalaman iman yang ibu tadi rasakan, pastinya membuat ia mengenal dan mengerti siapa Yesus baginya. Oleh karena itu ia berani mengambil suatu keputusan yang tidak semua orang dapat melakukannya.  Pertanyaan personal Yesus kepada Petrus semestinya menjadi pertanyaan pribadi kita juga. Sudah sejauh manakah aku mengenal Yesus? Jika ditanya, siapakah Yesus bagiku? Apakah aku bisa menjawabnya? Pengenalan akan Yesus secara pribadi memampukan kita memikul salib kita setiap hari. Memampukan kita memberi makna pada setiap kesulitan yang kita hadapi sebagai pengikut Kristus. Tetapi kita juga dituntut untuk mewujudkan iman kita dalam tindakan baik dalam setiap hari, sebagaimana yang dikatakan rasul Yakobus iman tanpa tindakan hakikatnya mati.

Semoga saya dan anda sekalian semakin mau mendalami pengenalan kita akan Yesus Kristus. Mampu meuwujudkannyatakan iman kita akan Yesus Kristus meskipun kadang menemukan kesulitan atau pilihan yang berat. Amin. 

Fr. Yoris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *