Merasul di SD Fransiskus Asisi Kampung Ambon

Merasul di SD Fransiskus Asisi Kampung Ambon

Dalam sharing kerasulan kali ini, ada beberapa hal yang ingin saya bagikan.

  1. Penilaian dari para guru soal kedisiplinan kami yang merasul.

Saya diutus oleh Serikat Xaverian untuk merasul di SD Fransiskus Asisi Kampung Ambon. Pada hari-hari pertama dalam karya kerasulan, kami diberitahu bahwa frater-frater yang merasul di sana semakin berkurang karena ada kongregasi yang kekurangan frater sehingga untuk sementara waktu tidak ada frater yang ditugaskan di sana. Tapi hal itu tidaklah menyurutkan semangat saya untuk merasul. Ada satu hal yang membuat saya merasa bangga dengan perjuangan saya selama satu semester ini yakni usaha yang saya lakukan selama ini ternyata tidak sia-sia. Hal itu saya temukan dalam proses bina iman bersama adik-adik. Ada adik-adik yang semula tidak aktif saat bina iman bahkan ada yang ingin cepat pulang karena merasa kurang tertarik, tetapi pada akhirnya menjadi aktif dan yang merasa kurang tertarik menjadi tertarik. Kadang-kadang, bunyi bel pulang pun menjadi pengganggu bagi mereka saat mereka sedang serius mengerjakan kreativitas yang diberikan. Ini menjadi salah satu bukti konkret perjalanan karya kerasulan saya.

  1. Berhadapan dengan adik-adik yang susah diatur

Kesulitan yang saya hadapi saat merasul di SD Fransiskus Asisi adalah saat menghadapi tingkah adik-adik yang susah diatur. Memang tidak setiap kegiatan bina iman mereka ribut dan susah diatur, tetapi ada saat tertentu mereka sangat sulit diatur. Situasi seperti ini bukanlah peristiwa yang menyenangkan bagi saya saat awal merasul di sana dan bukan pula suatu yang gampang. Saat tingkat satu saya tidak terlalu merasakan adanya hambatan saat merasul di sana karena kerasulan di sana dijalankan secara bergiliran. Tetapi berbeda dengan yang sekarang. Akan tetapi hal itu lagi-lagi menjadikan saya semakin belajar banyak hal, mengenai bagaimana saya terus mengasah semangat dan daya kreatif saya dalam menghadapi adik-adik. Hal itu pun sangat membahagiakan saya terlebih karena saya semakin terlatih sejak dini sebelum karya kerasulan yang lebih besar lagi.

  1. Dasar biblis dalam pelayanan

Dalam Injil Yohanes 15:9 -17, digambarkan jelas bahwa ada aplikasi cinta yang mendalam. Allah mencintai Yesus, Yesus mencintai kita sebagai umatNya dan kita diajak untuk mewujudnyatakan cinta itu. Betapa semuanya telah tersedia dan kita tinggal menjalaninya saja, tetapi toh nyatanya hal itu sangat sulit terlaksana. Saya juga mengalami hal seperti itu. Saat menjalani kerasulan, saya kadang-kadang merasa bahwa saya telah melalaikan rahmat Tuhan yang super hebat itu. Akan tetapi, saya sebagai manusia yang lemah tidaklah menyerah begitu saja. Saya selalu berusaha untuk mengaplikasikan cinta Tuhan itu dalam kerasulan. Satu hal yang saya banggakan dalam hidup saya adalah bahwa saya telah dipanggil Tuhan melalui keluarga Xaverian. Saya telah mengenal sosok Santo Fransiskus Xaverius yang menjadi teladan para Xaverian dalam bermisi. Semangatnya yang selalu berkobar selalu mendorong saya untuk semakin total dalam merasul. Cinta kasih telah menjadi dasar bagi Santo Fransiskus Xaverius dalam misinya dan hal ini juga yang telah menjadi cita-cita saya dalam merasul agar dengan penuh semangat dan setia melayani Tuhan.

  1. Kaitan dengan konstitusi Serikat Xaverian

Dalam konstitusi Serikat Xaverian nomor 38, dikatakan bahwa “diilhami oleh perintah Tuhan yang baru, cintailah seorang akan yang lain , seperti Aku telah mencintai kamu. Kita memandang cinta kasih sebagai dasar kehidupan kita”. Sangat jelas bahwa penekanan akan cinta kasih dalam melayani sesama sudah menjadi yang pertama dan terutama. Maka bagi saya, tidak ada alasan untuk melalaikannya selain usaha untuk selalu mengkonkretkannya dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam hidup kerasulan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: