You’ll Never Walk Alone

“Selamat siang kakak”, sapa Nurul dan beberapa teman-temannya ketika saya dan Lerry sedang memarkirkan sepeda sambil mengelap butiran ke-ringat yang mengucur deras di dahi dan muka. “Selamat siang juga adik-adik, apakah kalian sudah siap mengikuti les dengan kakak?”, jawab Lerry, sambil mengulurkan tangannya untuk diciumi oleh Nurul dan teman-temannya. “Siap kak!”, jawab anak-anak dengan penuh semangat. “Ok, ayo kita mulai”, kataku sembari mengajak me-reka menuju tempat les.

Kemudian Nurul dan teman-temannya membawa kami ke tempat, yang nantinya akan kami jadikan sebagai tempat les. Sambil bercerita dan bercanda ria, kami berjalan menuju tempat les. Sepuluh menit kemudian kami sampai di beranda sebuah gedung, yang sepintas saya lihat masih kelihatan baru dibangun. Gedung itu rupanya sebuah bangunan kantor pemerintah. Rupanya beranda gedung itulah yang akan kami gunakan untuk belajar. Kondisinya memang agak lebih bagus dari tempat-tempat yang sebelumnya kami gunakan untuk belajar.

“Ayo bro kita mulai, kau me-nemani anak-anak kelas satu sampai tiga”, kata Lerry. “Ok”, jawabku singkat. Tanpa membuang waktu, saya dan Lerry langsung bergabung dengan anak-anak yang memang sudah menanti. Ketika saya memulai pelajaran dengan anak-anak, tiba-tiba perasaan saya menjadi cemas dan khawatir. Akan tetapi karena sudah berada di depan anak-anak, saya pun membuang rasa cemas dan khawa-tir yang saya rasakan, dan langsung memberikan pelajaran matematika kepada anak-anak. Perasaan cemas saya pun hilang karena melihat anak-anak yang begitu antusias mendengarkan saya dan juga sangat bersemangat mengerjakan soal-soal yang saya berikan.

Kami belajar dengan penuh semangat. Tanpa terasa waktu sudah berlalu satu jam lebih. Karena sudah panjang lebar saya menjelaskan dan karena kondisi anak-anak sudah agak kacau, saya mengajak anak-anak untuk bernyanyi. Anak-anak kembali antusias dan begitu bersemangat ketika bernyanyi. Selesai bernyanyi, saya mempersilahkan anak-anak untuk beristirahat seje-nak. Kesempatan itu saya gunakan untuk berbincang-bincang dengan beberapa anak. Saya menanyakan banyak hal kepada mereka. Pada saat bersamaan, dari arah samping gedung muncullah sebuah sepeda motor dengan dua orang yang bertubuh kekar. Dan tanpa saya duga, sepeda motor itu berhenti tepat di depan saya. Saya pun berdiri, dan memberikan salam kepada mereka.

“Selamat siang, kalau boleh tau ini ada apa?”, salah seorang dari mereka berkata. “Kami sedang belajar pak”, jawabku. Kedua orang itu lalu memandang sekeliling kepada anak-anak yang pada saat itu sudah berdiri disamping saya dan Lerry. “Ma’af ya mas, ini adalah institusi. Jadi mas harus memiliki izin untuk menggunakan tempat ini”, kata se-seorang dari mereka yang berbadan besar dan berkumis, dengan nada sedikit kasar, “dan kalau mas tidak mempunyai izin, kami harap kalian semua harus meninggalkan tempat ini sekarang juga”, sambungnya.

“Aduh pak, kami mohon ma’af, karena kami telah menggunakan tempat ini tanpa sepengetahuan dari bapa-bapa semua”, jawabku. Saya pun langsung memberikan isyarat kepada anak-anak supaya segera bergegas untuk pulang. Tanpa menunggu lama, kami pun langsung pulang dan segera berpamitan kepada kedua bapak tadi. Dalam perjalanan, saya merasa agak malu dan terpukul, karena ini merupakan kali pertama saya diusir ketika saya merasul. “Udahlah kak, nggak usah dipikirin, kami sudah sering kok diusir seperti ini”, kata Nurul kepadaku. “Enggak kok Rul, kakak tidak memikirkan hal itu” jawabku. Rupanya Nurul mengetahui apa yang sedang saya pikirkan.

Ketika merefleksikan kembali pengalaman ini, saya terkesan dengan apa yang dikatakan Nurul kepada saya ketika dia melihat saya dalam perasaan cemas. Mereka seringkali mengalami seperti apa yang saya rasakan bersama mereka yaitu diusir. Pada kenyataannya, Nurul dan teman-temannya tetap gembira sedangkan saya ketika mengalami hal yang sama saya langsung ‘jatuh’. Saya menjadi sadar ternyata saya masih membutuhkan pengakuan akan eksistensi diri saya dari orang lain. Saya adalah seorang Misionaris, pengalaman akan ditolak pasti akan selalu ada. Bukankah Yesus juga mengalami hal yang demikian dalam pewartaan-Nya? Inilah yang menguatkan saya.

(Fr.Adrianus Safrudin)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *