Secuil Pengalaman: Doa Menuntunku Mengenal Yesus

By: Santi Mariance Ndraha*

Aku lahir di Pasaman, 29 Agustus 1991, bersuku Nias namun lahir dan besar di daerah perantuan. Ayahku seorang Kristen dan ibuku seorang Katolik. Sejak kecil aku hidup di lingkungan mayoritas Muslim. Aku tidak begitu peduli dengan urusan agama karena kuanggap itu kurang penting. Lagi pula aku lebih suka bermain dengan teman-temanku.  Aku sendiri masih belum tahu harus ke mana, mengikuti agama ayah atau ibu. Apalagi aku adalah tipe orang yang tidak mau meyakini sesuatu yang belum aku kenal dan mengerti. Aku belum begitu mengenal sosok Tuhan yang selama ini dikenalkan oleh kedua orang tuaku.

Masuk SMP adalah langkah awal perjalananku mengenal Tuhan. Sifat tomboy  membuatku  mendapat  banyak masalah  dalam  bersosialisasi dengan teman-teman baru saat memasuki bangku SMP. Aku sering sekali berkelahi, bahkan pernah suatu kali aku berkelahi dengan seniorku, seorang cowok yang duduk di kelas 3 SMP saat itu. Aku benar-benar mem- bencinya. Suatu kali aku pernah mendengar ungkapan seperti ini “doa orang teraniaya akan terkabul”. Dengan tangis beserta kebencian, aku pun mendoakan seniorku itu agar ia mendapat musibah. Doa itu terlontar be- gitu saja padahal aku belum memahami bagaimana doa itu yang sesung- guhnya. Saat itu doaku lebih terkesan seperti mengutuk seseorang.

Di luar dugaan semuanya terbukti saat pengumuman UN. Seniorku itu dinyatakan TIDAK LULUS. Saat itu aku tersentak dan mulai berpikir apakah ini akibat dari doaku? Sejak itu aku merasa bersalah dengan doaku. Aku tidak mengerti bagaimana cara mendoakan musuhku. Suatu malam aku melihat ibuku berdoa. Ia membuat tanda salib sebelum dan setelah berdoa. Aku tidak mengerti mengapa ibu melakukannya sementara ayah tidak. Namun, sejak saat itu dengan diam-diam  aku selalu meniru apa yang dilakukan ibu setiap kali hendak tidur.

Ketika tamat SMA, aku dihadapkan pada dua pilihan penting, ku- liah atau menyelamatkan saudaraku. Intinya, kalau aku tidak kuliah maka uang kuliahku akan digunakan untuk modal usaha saudaraku yang baru menyelesaikan kuliahnya. “God!!”, seruku dalam hati. Inikah hidup? Kalau aku ngotot dengan ambisiku untuk kuliah, maka keluargaku akan   men- derita. Demi keluarga dan saudara-saudaraku, aku terpaksa memutuskan untuk tidak kuliah.

Aku berusaha mengubur semua kesedihan, kekecewaan, air mata, dan impianku. Aku mulai mengirim beberapa surat lamaran ke berbagai tempat. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu di depan koran sam- bil terus melihat lowongan pekerjaan. Setelah lama berjuang, akhirnya aku diterima bekerja sebagai security wanita. Awalnya aku sungguh merasa malu menjalani pekerjaan tersebut, namun  karena situasi dan  kondisi keuangan menuntut,  aku tetap melakukannya. Aku ingat bahwa “Tuhan Yesus itu baik” kalau kita meminta maka Ia akan memberi. Itulah yang menjadi peganganku saat itu.

Aku pun kemudian pindah ke Nias mengikuti abangku. Dua bulan pertama di Nias, abangku masih belum mendapatkan pekerjaan, semen- tara aku bekerja di konter HP. Tiba-tiba pamanku mengatakan bahwa ada beasiswa dari pengusaha di Jakarta. Aku bersama beberapa orang meng ikuti seleksinya, namun  hasil penerimaan  telah melewati batas    akhir. Aku hanya pasrah kepada Tuhan,  “ya Tuhan,  jika itu memang bukan rezekiku mohon  kuatkanlah hatiku, walau aku benar-benar  mengingin kannya. Berilah aku kesempatan sekali saja, ya Tuhan”. Itulah doaku sem- bari menangis di tempat kerjaku.

Tuhan  mendengar  doaku.  Saat itu  juga secara tiba-tiba  paman mengirim SMS bahwa aku ternyata lulus dan diterima. Aku merasa seperti menjadi orang yang paling diberkati di dunia, karena kali ini rencanaku boleh sama dengan rencana Tuhan. Namun, di tengah kebahagiaan itu, aku kembali dihadapkan pada dua pilihan, tetap mengambil beasiswa dan kuliah di Jakarta demi impianku atau membantu ayah yang baru saja sele- sai dioperasi. “Ya Tuhan, apa sesungguhnya yang Engkau mau dariku? Tu- han, berilah abang perkerjaan sebelum aku berangkat tanggal 8 Juli 2013 ini, . Jika tidak, aku tak akan mengambil beasiswa ini.” Itulah doaku setiap pukul dua pagi selama kurang lebih 3 bulan.

Tepat tanggal 7 Juli 2013, keajaiban itu terjadi. Sehari sebelum ke- berangkatan, aku bermaksud menemui ibu untuk membatalkan rencana kuliahku. Namun, sebelum aku bersuara, ibu lebih dulu menyampaikan kabar bahwa abangku baru saja diterima bekerja di STP Dian Mandala. Hatiku begitu terharu, betapa baiknya Tuhan yang kukenal ini, betapa su- litnya mengerti rencana-Mu, namun betapa manisnya rencana-Mu. Aku bersama 10 orang lainnya akhirnya berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah.

Selama enam bulan kami menjalani kursus bahasa Inggris. Donatur kami akhirnya menguliahkan kami di Universitas Katolik Indonesia Atmajaya. Awal penyicilan uang kuliah berjalan lancar, namun untuk yang se- lanjutnya donatur kami mulai kesulitan membayar. Kuliah pun terancam, bahkan untuk makan kami sehari-hari pun sudah tidak terurus. Akhirnya, awal Januari 2013 donatur kami melarikan diri meninggalkan kami ber- sembilan di gedung kosong yang akhir Februari sudah harus dikosongkan. “Tuhan, inikah rencana-Mu sehingga Engkau mengizinkan aku kuliah di Jakarta? Mampukanlah aku melewati ini semua, ya Tuhan!” pintaku dalam doa.

Aku dan teman-temanku  terus berjuang untuk melanjutkan kuli- ah. Kami pun bertemu dengan semua pemimpin dan petinggi Atmajaya hingga rektor, guna menjelaskan kesulitan yang kami hadapi. “Sungguh Tuhan Yesus amat baik”, kata itulah yang keluar dari mulutku saat rek- tor mengizinkan kami untuk melanjutkan kuliah. Kami bahkan mendapat beasiswa regular kampus sebesar 50%. Tak hanya itu, kasih Yesus kami rasakan juga dari seorang dosen sekaligus pengusaha yang memberikan kami kontrakan gratis selama satu tahun.

Saat ini, aku sedang menjalani masa katekumenat. Aku memilih Ye- sus bukan karena keluargaku, bukan karena teman-temanku, bukan pula karena pekerjaanku. Aku memilih Yesus karena Ia hadir dalam hidupku, melalui doa sederhanaku. Aku sungguh merasakan kehadiran-Nya dalam perjalanan hidupku. Aku tahu doaku tak sempurna, namun doalah yang mengantarkanku  mengenal pribadi Yesus. Pengalaman mengikuti masa katekumenat selama ini, semakin mengenalkanku pada pribadi Yesus yang lembut dan penuh kasih. Semua pengalaman hidupku selama ini meng ajarkan aku bahwa Tuhan Yesus sungguh amat baik. Ia sungguh mencintai saya dan kita semua. Amin.

 

*Penulis adalah seorang katekumen di Atmajaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *