RENUNGAN MINGGU BIASA XVII

Hal Berdoa

Lukas 11:1-13

Saudara/i yang dikasihi Tuhan, pada awal bacaan ini secara jelas ditunjukkan suatu sikap atau model hidup yang dilakukan oleh Kristus kepada kita, yakni berdoa. Hal berdoa itulah menjadi tuntutan bagi kita sebagai orang kristiani. Kristus selalu menomorsatukan kesempatan untuk berjumpa dengan Bapa-Nya di surga. Betapa kita tidak bersyukur bahwasannya Kristus telah memberi teladan yang tinggal kita ikuti saja ibarat seorang anak yang meminta kail kepada bapanya untuk memancing, toh ayahnya langsung memberi ikan yang tinggal dinikmati.

Saudara/i yang dicintai Tuhan, hal berdoa itu nampaknya mudah untuk dilakukan. AKan tetapi, kenyataannya, banyak orang seringkali cepat merasa bosan untuk duduk hening di hadapan Kristus. Ada orang yang berdoa hanya pada saat-saat susah dan berharap bahwa dengan memohon, Allah pasti memberi jalan keluar. Allah seolah-olah dijadikan seorang tukang angkat beban atau dukun. Lalu, adapula yang berdoa hanya karena takut bahwa menjadi orang kristiani mesti berdoa. Kalau tidak, Tuhan marah. Seolah-olah ke-Ilahi-an Allah bergantung pada jumlah orang yang berdoa kepada-Nya. Semua visi yang salah adalah berasal dari kejauhan posisi kita dari Allah kristiani. Semakin kita menjauh semakin kita sulit menyadari kehadiran-Nya dalam setiap peristiwa hidup kita. Doa Bapa Kami sebenarnya memberi jalan yang indah bagi kita untuk mengenal Allah yang kita imani, yang mengajak kita bagaimana cara hidup yang indah menuju Dia yang selalu bersama kita. Namun sayangnya, kita seringkali mengucapkan doa Bapa Kami hanya sekedar ucapan bibir belaka tanpa menghayati pesan mendalam di balik doa itu.

Kerinduan akan Perjumpaan yang Mesra atau Mendalam dengan Allah

            Permintaan dari para murid kepada Tuhan Yesus merupakan sebuah kerinduan yang mendalam akan dialog yang mesra dengan Allah Bapa (bdk luk 11:1). Memang kata-kata tidaklah sebanding dengan cara hidup yang juga doa itu sendiri, namun paling tidak kata-kata doa itu membantu kita  untuk dari hari ke hari membentuk visi yang benar tentang Allah yang kita imani.

            Orang yang kekurangan roti untuk dihidangkan kepada tamunya pada malam hari berjuang tanpa malu untuk meminta tambahan kepada tetangganya (bdk. luk 11:8). Sikap orang di atas mengajak kita untuk melawan rasa malu dalam melakukan hal-hal baik dan hal itu menjadi misi yang besar bagi kita. Ada sebuah cerita tentang sebuah keluarga yang hidup di lingkungan mayoritas Muslim yang fanatik. Suatu kali mereka mengadakan makan bersama di sebuah restoran di pusat kota itu. Sebelum memulai menyantap hidangan, seorang anak (bungsu) yang usianya baru empat tahun dengan polosnya mengajak ayah, ibu, serta kakak-kakaknya untuk berdoa. Alhasil, ibunya dengan ekspresi bingung menghentikan niat si anak bungsu itu karena takut serta malu dengan keadaan mereka sebagai minoritas. Hanyalah kekecewaan serta pertanyaan besar di balik rasa kecewa yang dialami oleh si bungsu.

Saudara/i yang dicintai Tuhan, seringkali kita berlaku seperti yang dilakukan oleh seorang ibu dalam kisah di atas. Seakan-akan Allah lebih kecil dari rasa takut dan malu yang kita hadapi. Syukurlah, Allah yang kita imani adalah Allah yang maharahim. Kemaharahiman Allah itu mestinya mendorong kita untuk tidak bersikap konformis terhadap segala situasi yang mengajak kita untuk jatuh dan mengkhianati Allah.

Menjadi kristiani berarti memiliki visi yang benar tentang Allah yakni Allah yang tidak pernah jauh dari kita. Dalam bacaan injil ini ditunjukkan gambaran Allah dalam seorang ayah yang ideal, yang selalu memperhatikan anaknya dan selalu hadir bagi anaknya. Itulah Allah yang kita imani, yang betul-betul tak terpisahkan dari kehidupan kita. Tetapi, persoalannya saudara/i, apakah kita mampu merasakan kehadiran Allah dalam seluruh peristiwa hidup kita?

Apa yang mesti kita petik dari bacaan injil yang kita dengarkan hari ini untuk menjadi pribadi kristiani yang sejati?

Pertama, kita mesti menjaga kehidupan doa dan buah dari doa itu sendiri mesti diwujudnyatakan dalam hidup sehari-hari. Kedua, mengucapkan doa Bapa Kami bukan hanya sekedar ucapan belaka, melainkan menghayati makna dan pesan di balik doa itu sendiri. Ketiga, berani untuk melakukan hal-hal baik tanpa memandang reaksi orang lain dengan motivasi yang luhur, yakni demi Allah yang saya imani.

Maka, hendaklah kita sebagai orang kristiani selalu mengusahakan yang indah di mata Tuhan bukan semata-mata untuk menyenangkan Tuhan tetapi agar kita semakin menjadi orang kristiani yang sejati yang selalu mengarahkan pandangan kepada Kristus.

FR. Arnold Kurniawan SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *