Renungan Awal Tahun

KERAHIMAN ALLAH MENDESAKU UNTUK MENCINTAI*

Tahun 2015 telah berakhir, dan kini, kita memulai petualangan baru di tahun yang baru yakni tahun 2016. Petualangan yang akan menghantar kita kepada tujuan dan cita-cita yang akan kita gapai di kemudian hari. Detik-detik terakhir pergantian tahun merupakan peristiwa yang membuat hati kita berbunga-bunga dan sedikit merinding karena sebentar lagi kita akan meninggalkan masa lalu dan memulai masa yang baru, masa yang penuh harapan. Peristiwa pergantian tahun merupakan ritual yang sering kita gunakan untuk mengububur semua peristiwa kelam yang telah kita lewati, kita berharap peristiwa tersebut tidak akan terulang kembali di tahun yang akan datang. Sangat menarik bagi kita untuk mengaitkan momen pergantian tahun dengan peristiwa yang telah kita lewati di penghujung tahun 2015.

Di penghujung tahun 2015 kita dihadapkan dengan perhelatan pesta demokrasi. Banyak peristiwa yang terjadi yang menyita perhatian publik. Pesta demokrasi tidak akan pernah lepas dengan berbagai pertentangan dan penyelewengan. Di mana-mana terjadi politik uang, pertengkaran antar tetangga yang disebakan perbedaan selera pemimpin yang dipilih, fanatisme pendukung parpol, hingga sikap saling mengklaiam bahwa dirinya yang menjadi pemenang dalam pilkada. Kita berharap momen pergantian tahun mengubur semua peristiwa kelam tersebut. Di tahun 2016 kita diajak untuk memulai lembaran yang baru. Lembaran yang akan diisi dengan semangat cinta dan persaudaraan. Kita berharap tahun 2016 merupakan momen transformasi diri. Di tahun 2016 kita semua diajak untuk tumbuh dalam semangat persaudaraan yang utuh, membebaskan diri dengan sikap fanatisme dan egoisme yang berlebihan. Kita juga diajak untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan rela untuk mengampuni. Berkenaan dengan peristiwa tersebut tidak secara kebetulan Gereja universal menyerukan bahwa tahun 2016 dikhususkan sebagai tahun kerahiman Ilahi. Tahun suci ini dibuka secara resmi oleh Paus Fransiskus pada tanggal 8 Desember 2015 pada pesta Maria dikandung tanpa noda dan akan berakhir pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, tanggal 20 November 2016.

(Doc.Komsos KAJ)

Logo Tahun Kerahiman Allah KAJ (Doc.Komsos KAJ)

Pemakluman resmi dilakukan oleh Paus Fransiskus pada Hari Minggu kerahiman Ilahi, 11 April 2015, dengan mengeluarkan bulla yang berjudul Misericordiae Vultus (wajah kerahiman). Melalui Bulla tersebut, Paus Fransiskus mengajak semua umat Kristiani untuk menunjukan sikap saling mengampuni tanpa batas dan menyerakan diri pada pertobatan. Pertobatan tidak hanya berhenti pada penyesalan diri. Kita diajak untuk hidup dalam semangat belas kasih, saling mengampuni dan selalu berupaya memperbaiki diri dan sesama dengan cara menjunjung tinggi nilai persaudaraan inklusif, berbelarasa, terlibat dalam karya amal kasih serta murah hati kepada sesama dan semua ciptaan-Nya yang dipercayakan kepada kita ( Evangelii Gaudium 24). Tahun kerahiman Ilahi hadir dengan kesadaran Gereja akan pentingnya transformsi dalam hidup Iman Katolik. Tahun Kerahiman hadir dengan tujuan mendorong seluruh umat Allah untuk hidup dalam semangat rekonsiliasi dan pertobatan, memperbaiki cara hidup yang tidak selaras dengan spiritualitas inkarnasi Yesus Kristus dan meningkatkan hidup doa, laku tapa dan amal kasih.

dok.CPR42

Sang Kerahiman Ilahi

Spiritualitas Kerahiman Ilahi merupakan sebuah undangan agar kita mampu menghayati dan mengikuti teladan Bapa yang tidak menghendaki kita menghakimi dan menghukum melainkan mengampuni dan memberi cinta tanpa batas. Sikap saling mengampuni dapat kita nyatakan dalam hidup keluarga, komunitas dan masyarakat. Dengan cara demikian kita menjadi cermin wajah kerahiman Allah bagi sesama. Paus Fransiskus dalam bulla-nya megajak kita untuk tidak jatuh dalam pola pikir yang mengerikan yang beranggapan bahwa kebahagiaan bergantung pada uang. Kecenderungan orang untuk menomorsatukan uang terkadang mengorbankan orang lain yang martabatnya lebih luhur dari pada uang. Sejenak kita berkaca pada realitas yang terjadi di negeri ini. Uang merupakan segalahnya sehingga manusia dikendalikan oleh uang. Sikap demikian menjerumuskan manusia pada pola hidup egoisme dan hedonisme. Sikap ketergantungan akan uang menghantar orang pada tindakan korupsi. Berkaitan dengan masalah korupsi, paus Fransiskus mengatakan, “ Luka-luka bernanah (akibat korupsi) merupakan dosa berat yang berteriak keras ke surga untuk mendapatkan pembalasan karena luka itu telah merongrong dasar-dasar kehidupan pribadi dan masyarakat. Korupsi membuat kita tidak bisa melihat masa depan dengan penuh harapan, karena kerakusanya yang lalim itu menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin. Korupsi adalah skandal publik yang besar”.

Peristiwa kelam yang terjadi di tahun 2015 harapannya sudah terkubur dalam-dalam meski pun masih tersimpan dalam ingatan kita. Segala benih perselisihan, pertentangan, dan permusuhan harapannya telah sirna. Tahun yang baru, kita semua diajak untuk mampu menunjukan wajah Kerahiman Allah dalam kehidupan kita baik di dalam keluarga, komunitas, maupun dalam masyarakat. Hendakanya dengan penuh kerendahan hati kita membuka diri untuk memberikan pemgampunan yang penuh kepada saudara-saudara yang telah menyakiti kita. Hanya dengan cara megampuni, kita sungguh menunjukan Wajah Kerahiman Allah. Dalam hidup berkeluarga kita dipanggil untuk menunjukan diri sebagai bapa atau ibu yang berbelakasih yang setia untuk saling mengampuni. Sikap terbuka dan saling memaafkan menjadi bukti akan ikatan perkawinan telah mencapai sebuah kesatuan yang utuh yang tak terceraikan. Di samping itu, kita diajak untuk menunjukan wajah kerahiman Allah dengan cara mengubah diri, melepaskan diri dari sikap korupsi, egoisme, fanatisme, hedonisme dan konsumerisme, dengan cara demikian kita menjadi cermin wajah kerahiman Allah bagi sesama yang ada di sekira kita. Kita berharap, peristiwa pergantian tahun bukan hanya sekedar acara seremonial belaka, namun lebih dari itu kita mampu menujukan sebuah kulitas hidup yang lebih, yang mengantar kita pada kehidupan yang penuh kasih dan berbelarasa. Kerahiman Allah medesak kita untuk menunjukan nilai cinta kasih dan persaudaraan dalam kehidupan bersama.

*Disarikan dari Panduan umum tahun yubilium kerahiman Allah Keuskupan Agung Jakarta dan surat gembala Mgr. Ignasius Suharyo, Uskup, keuskupan Agung Jakarta, Desember 2015.

Fr.Hebry Handoko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *