Jembatan Kasih Allah

Saya punya sedikit cerita tentang Ennio, seorang  misionaris awam yang sampai saat ini  masih aktif sebagai anggota Kepolisian National Italia. Sejak tiga tahun lalu, dua kali setahun beliau  datang membantu karya suster Xaverian. Bulan September lalu untuk kesekian kalinya beliau datang tapi sekaligus untuk belajar bahasa Thai. Setelah pensiun nanti beliau akan bekerja sebagai misionaris di Thailand.  Ketertarikannya pada karya misi berawal dari persahabatannya dengan Angela, seorang suster Xaverian.  Suster Angela yang pernah bekerja di sebuah daerah kumuh di Bangkok sekarang mengelola panti untuk anak-anak cacat yang ia temukan di beberapa daerah kumuh di pusat kota Bangkok.

Persahabatan Ennio dan Angela menggarisbawahi fakta bahwa panggilan missioner itu adalah anugerah Roh Kudus kepada setiap orang yang dibabtis. Para misionaris xaverian menerima anugerah Roh Kudus itu dan menjawabnya dengan komitmen yang eksklusif melalui komitmen hidup bakti untuk karya misi seumur hidup. Kata ekslusif sama sekali tidak berarti terbatas atau tertutup. Kata eksklusif tentu tidak mungkin diartikan sebagai hegemoni. Eksklusif dalam konteks ini berarti khas dan unik. Keunikannya adalah kita dipanggil dalam sebuah keluarga (komunitas dan bukan individu) untuk mewartakan Yesus di tempat dan di hati setiap orang yang belum mengenal-Nya. Keunikan ini menjadi makin unik dan khas dalam keunikan dan kekayaaan kepribadian Xaverian yang menghidupinya.

Dari kika-Ennio, Sr xaverian n Fr thailand

Ennio, Sr.Xaverian, dan frater-frater Thailand

Bentuk  kerasulan  kita  yang  paling  mendasar  adalah  animasi  mi-sioner. Lebih baik membuat padanannya dalam bahasa Indonesia dengan istilah jembatan kasih. Tugas para Xaverian, sebagaimana saya alami dari para Xaverian yang saya kenal di Indonesia atau pun di daerah misi, adalah membantu orang Kristiani  sanggup  ‘menyeberang’ untuk membagikan kekayaan hidup mereka. Jembatan kasih itu bagaikan pemantik yang memicu api. Panggilan misioner itu sudah ada dalam diri setiap orang dibaptis. Tugas kita sebagai Xaverian adalah memberi api, memicunya sehingga orang-orang yang dibabtis ini pergi keluar dari Gereja lokal dan negaranya sendiri untuk mewartakan Yesus di tempat Ia belum dikenal. Kita bersyukur bahwa saat ini sudah ada kurang lebih 30 putra Indonesia yang menjadi mi-sionaris. Kita masih menunggu, dan saya kira ini adalah tantangan bagi Paguyuban Awam Xaverian Indonesia, munculnya awam yang mau berkomitmen seperti Ennio, membaktikan hidup mereka juga bagi karya misi.

Sebagai jembatan kasih tugas Xaverian di mana-mana adalah membantu Gereja lokal menyeberang dari ketercukupan diri (self-sufficiency) menuju Gereja lokal yang mau berbagi (share). Tugas kita adalah membantu umat Kristiani menjadi umat Katolik yang tidak hanya parokial tetapi kosmopolit. Orang Katolik seperti ini adalah orang Katolik yang memiliki keprihatinan sebesar dunia. Ennio adalah salah satu contoh orang Katolik yang kosmopolit. Para frater dalam lingkungan kerasulannya dan dalam lingkaran persahabatannya dengan orang muda Katolik Indonesia mesti sanggup memicu dan memancing semangat  kasih Allah yang mereka miliki. Tugas para frater dalam kerasulan adalah membina orang muda Katolik yang kosmopolit. Bukankah itu menantang?

Dalam pertemuan kami yang terakhir, Ennio mengaku semakin termotivasi untuk bekerja setelah tinggal dan melihat apa yang dikerjakan Xaverian di sini meski masih seumur jagung. Saat ini bersama Pastur Alessandro Brai kami diminta keuskupan Bangkok menjajaki kerasulan para buruh Katolik Thailand di daerah industri Samuth Sakhon, Bangkok Selatan. Melewati jam-jam kunjungan kami di lokasi para buruh adalah pengalaman yang tak terlupakan buat Ennio. Adakah yang mau menyusul Ennio?

Saya punya sedikit cerita tentang Ennio, seorang  misionaris awam yang sampai saat ini  masih aktif sebagai anggota Kepolisian National Italia. Sejak tiga tahun lalu, dua kali setahun beliau  datang membantu karya suster Xaverian. Bulan September lalu untuk kesekian kalinya beliau datang tapi sekaligus untuk belajar bahasa Thai. Setelah pensiun nanti beliau akan bekerja sebagai misionaris di Thailand.  Ketertarikannya pada karya misi berawal dari persahabatannya dengan Angela, seorang suster Xaverian.  Suster Angela yang pernah bekerja di sebuah daerah kumuh di Bangkok sekarang mengelola panti untuk anak-anak cacat yang ia temukan di beberapa daerah kumuh di pusat kota Bangkok.

Persahabatan Ennio dan Angela menggarisbawahi fakta bahwa panggilan missioner itu adalah anugerah Roh Kudus kepada setiap orang yang dibabtis. Para misionaris Xaverian menerima anugerah Roh Kudus itu dan menjawabnya dengan komitmen yang ekslusif melalui komitmen hidup bakti untuk karya misi seumur hidup. Kata ekslusif sama sekali tidak berarti terbatas atau tertutup. Kata ekslusif tentu tidak mungkin diartikan sebagai hegemoni. Eksklusif dalam konteks ini berarti khas dan unik. Keunikannya adalah kita dipanggil dalam sebuah keluarga (komunitas dan bukan individu) untuk mewartakan Yesus di tempat dan di hati setiap orang yang belum mengenal-Nya. Keunikan ini menjadi makin unik dan khas dalam keunikan dan kekayaaan kepribadian Xaverian yang menghidupinya.

Bentuk  kerasulan  kita  yang  paling  mendasar  adalah  animasi  mi-sioner. Lebih baik membuat padanannya dalam bahasa Indonesia dengan istilah jembatan kasih. Tugas para Xaverian, sebagaimana saya alami dari para Xaverian yang saya kenal di Indonesia atau pun di daerah misi, adalah membantu orang Kristiani  sanggup  ‘menyeberang’ untuk membagikan kekayaan hidup mereka. Jembatan kasih itu bagaikan pemantik yang memicu api. Panggilan misioner itu sudah ada dalam diri setiap orang dibaptis. Tugas kita sebagai Xaverian adalah memberi api, memicunya sehingga orang-orang yang dibabtis ini pergi keluar dari Gereja lokal dan negaranya sendiri untuk mewartakan Yesus di tempat Ia belum dikenal. Kita bersyukur bahwa saat ini sudah ada kurang lebih 30 putra Indonesia yang menjadi mi-sionaris. Kita masih menunggu, dan saya kira ini adalah tantangan bagi Paguyuban Awam Xaverian Indonesia, munculnya awam yang mau berkomitmen seperti Ennio, membaktikan hidup mereka juga bagi karya misi.

Sebagai jembatan kasih tugas Xaverian di mana-mana adalah membantu Gereja lokal menyeberang dari ketercukupan diri (self-sufficiency) menuju Gereja lokal yang mau berbagi (share). Tugas kita adalah membantu umat Kristiani menjadi umat Katolik yang tidak hanya parokial tetapi kosmopolit. Orang Katolik seperti ini adalah orang Katolik yang memiliki keprihatinan sebesar dunia. Ennio adalah salah satu contoh orang Katolik yang kosmopolit. Para frater dalam lingkungan kerasulannya dan dalam lingkaran persahabatannya dengan orang muda Katolik Indonesia mesti sanggup memicu dan memancing semangat  kasih Allah yang mereka miliki. Tugas para frater dalam kerasulan adalah membina orang muda Katolik yang kosmopolit. Bukankah itu menantang?

Dalam pertemuan kami yang terakhir, Ennio mengaku semakin termotivasi untuk bekerja setelah tinggal dan melihat apa yang dikerjakan Xaverian di sini meski masih seumur jagung. Saat ini bersama Pastur Alessandro Brai kami diminta keuskupan Bangkok menjajaki kerasulan para buruh Katolik Thailand di daerah industri Samuth Sakhon, Bangkok Selatan. Melewati jam-jam kunjungan kami di lokasi para buruh adalah pengalaman yang tak terlupakan buat Ennio. Adakah yang mau menyusul Ennio? Semoga kita dapat semakin termotivasi dalam karya kerasulan kita, apapun bentuknya.

(P. Reynaldo F. Tardelly,  SX)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *