Hari Minggu Evangelisasi

SUKACITA MEWARTAKAN INJIL KEPADA SEGALA BANGSA

HARI MINGGU EVANGELISASI

The Great Commission Matthew 28:16-20

Paus Fransisikus berpesan, “Saudara dan saudari yang terkasih, pada hari Minggu evangelisasi ini saya arahkan perhatian kepada semua Gereja lokal. Saya ajak  kalian menceburkan diri dalam sukacita Injili dan mengembangkan kasih Kristus, yang mulutnya dapat menyinari panggilanmu dan tugas perutusanmu. Saya ajak kalian agak mengenang kembali, bagaikan dalam sebuah ziarah batin, “cinta yang pertama”, ketika Yesus membuat hati kita semua berkobar-kobar, bukan sebagai nostalgia semata, melainkan bertekun dalam sukacita .” dan janganlah membiarkan diri dirampas sukacita evangelisasi!”Pesan ini, menarik untuk direnungkan oleh masing masing dari kita sebagai murid Kristus. Lebih-lebih keluar dari diri, dari Gereja, dan dari kenyamanan kita bahwa di luar sana banyak yang menanti Injil.

Dalam bacaan yang kita dengar pada hari Minggu ini, terlihat jelas bahwa perustusan dari Yesus kepada ketujuh puluh murid lainya ditujukan kepada segala bangsa( bdk. Luk 10:1-23). Ketujuh puluh murid yang lain berarti, bukan para murid yang berada didekat Yesus bahkan bukan pula kita satu-satunya murid, tetapi orang lainpun juga murid Kristus. Yesus memilih kita semua untuk menjadi murid-Nya. ”Ia telah memilih kamu” (1 Tes 1:4), dan “mengutus..ke setiap kota dan tempat”(Luk.10:1). Bahkan Ia telah mempersenjatai kita sekalipun kita tak mengenal-Nya (Yes 45:5) dengan kekuatan Roh kudus (1 Tes 1:5b), ”Supaya orang tahu… Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain”(Yes 45:6).

Kita akan bertumbuh bila hidup kita dibagi-bagikan untuk orang lain. Ibarat sebuah mosaik, yang tersusun dari materi yang pecah, namun sungguh elok dipandang. Bahkan sngat memberi arti. Sabda Allah, senantiasa menunjukan pada kita bagaimana Allah menantang kita untuk selalu bergerak ke luar. Ia tak ingin agar apa kita dapat hanya untuk diri kita sendiri. St. Paulus yang telah mendengar sabda itu tidak tinggal diam, “Sebab kasih Kristus yang menguasai kami” (2 Kor. 5:14). Mereka selalu berusaha agar sabda itu  sampai pada yang lain. Kita harus keluar dari zona nyaman kita agar bisa menjangkau segala mahluk. Jadi, apa gunanya kalau Injil itu hanya untuk sendiri?

Ketujuh puluh murid lainnya merasakan sukacita ketika kembali dari perutusan mereka (bdk. Luk 10:17). Namun Yesus memberi pemahaman baru tentang sukacita, “Janganlah bersukacita karena  roh-roh itu takluk padamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di surga.”(Luk.10:20). Bila kita bersukacita karena kita berhasil melakukan, ada kemungkinan disaat kita tak bisa melaukan kita akan kecewa. Yesus menawarkan sukacita yang ideal. Sukacita karena karena kita adalah anak-anak Allah. Ini tak bisa diambil oleh apapun. Yesus merasakan sukacita ketika Dia bersukacita dalam Roh Kudus dan memuji Bapa karena menyatakan diri-Nya kepada orang miskin dan kecil (bdk. Luk.10:21).

Sukacita Injil adalah bagi semua orang: tak seorang pun dikecualikan. Dalam kesetiaan kepada Yesus, sungguh penting bagi kita untuk bergerak ke luar dan memberitakan Injil kepada segala mahluk. Kita harus menyadari bahwa Tuhan telah mengambil prakarsa, Dia telah lebih dahulu mengasihi kita (bdk. 1 Yoh. 4:19): sehingga kita mampu pergi ke setiap tempat dalam segala kesempatan, tanpa ragu, tanpa kwatir, tanpa cemas dan takut. Memang, kadang kesulitan-kesulitan senantiasa muncul dalam karya kerasulan kita; pengalaman kegagalan dan kelemahan manusiawi yang menimbulkan rasa sakit yang mendalam dan menghambat karya kita. Kita tergodah menjadi lelah.  Namun, apakah kita harus tenggelam terus dalam hal ini, membiarkan Injil semakin terkubur karena sejumlah alasan? Kita lebih besar dari semua yang melumpuhkan kita. Kita adalah aktor bukan reaktor. Bukankah Yesus yang telah memesonakankan kita untuk mewartakan Dia?

Ajakan ini tentu bukan hanya sekali kita melakukan, tapi seumur hidup kita. Allah tak akan mengecewakan kita mengambil risiko ini. Dia telah mendahului kita, menunggu kita di sana dengan tangan tebuka. Meskipun kita bersalah, Allah tak pernah lelah mengampuni kita, hanya kita yang lelah mencari belaskasihan-Nya. Kita harus sadar bahwa Dia telah lebih dahulu mengasihi kita (bdk. 1 Yoh. 4:49). Dia telah dahulu manjadikan kita manusia Injil. Dengan kesadaran ini kita berani mewartakan Injil kepada mereka yang belum mengenal Kristus sehingga kita tidak dirampas oleh sukacita evangelisasi.JAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *