Hanya Berharap Pada-Nya

“Pasrah pada kehendak-Nya”, itulah yang bisa saya lakukan saat ini, karena Dialah yang akan memutuskan bagaimana hidup saya nanti. Menjadi Imam bagi saya adalah sebuah panggilan hidup yang luhur dan mulia. Panggilan hidup menjadi seorang imam merupakan suatu anugerah yang luar biasa, sesuatu yang ‘berbeda’ dibandingkan dengan panggilan hidup yang lainnya. Tidak semua orang mau menghidupi panggilan seperti ini, dibutuhkan keterbukaan hati pada sapaan-Nya, serta relasi yang intim dengan-Nya di dalam menjalani panggilan imamat. Sebagai calon imam, saya hanya bisa berharap agar pilihan hidup saya ini sesuai dengan keputusan-Nya.

Sekarang ini saya sedang dalam masa puncak ketertarikan pada panggilan imamat. Imamat memiliki daya tarik tersendiri bagi saya. Kekaguman saya pada imamat terus menerus mendorong untuk lebih dekat dengan-Nya. Setiap hari saya merayakan Ekaristi bersama di komunitas. Saya selalu tertarik dengan pastor yang memimpin Ekaristi setiap hari. Dari sini saya merasa ada sebuah perjumpaan yang sangat mendalam dengan-Nya. Saya semakin terpesona pada panggilan menjadi imam. Tidak hanya itu, setiap hari saya digeluti dengan pertanyaan-pertanyaan refleksi yang terus menggema dalam batinku. Saya merasa ada sebuah bisikan yang datang dari-Nya yang membuat saya terus bertanya apa maknanya. Saya terus berefleksi dan mencoba mencari arti bisikan itu, agar saya bisa menemukan sebuah jawaban yang pasti.

Saya sadar akan kelemahan saya yang senantiasa terbuai dalam kesenangan jasmani. Seringkali saya digerogoti oleh kemalasan, ketidakdi-siplinan dan kesalahan-kesalahan lainnya. Semua yang saya alami itu merupakan bagian dari kelemahan saya saat ini. Namun demi mewujudkan niat baik dan tekad awal, saya terus berusaha untuk mengatasi segala kelemahan tersebut. Dengan hal itu saya semakin memurnikan kembali motivasi awal saya yakni untuk menjadi seorang imam. Saya tetap berjuang agar kelemahan tersebut tidak terus berlarut di dalam panggilan saya saat ini.

Saya ingin mempersembahkan diri kepada Tuhan. Saya berterima kasih karena Tuhan telah memberikan saya rahmat kehidupan. Cinta Tuhan yang luar biasa terjadi pada saat saya dihadapi pada dua pilihan yaitu hidup dan mati. Saya mengatakan hal ini, karena Tuhanlah yang pertama-tama yang membantu saya sehingga saya dapat merasakan kehidupan hingga saat ini. Saya tidak tahu mengapa Tuhan membantu saya padahal saat itu saya belum bisa berbuat apa-apa. Saya mengalami sebuah peristiwa yang tak bisa saya lupakan hingga kini.

Saya diselamatkan oleh-Nya sebab sebelum saya dilahirkan ke dunia ini, ibu saya mengidap kanker payudara. Dalam keadaan kritis seperti itu, ia tetap berjuang agar saya dapat dilahirkan dengan selamat. Saya akhirnya dilahirkan oleh ibu dan menjadi putra tunggalnya. Keluarga pun menyambut saya dengan penuh kegembiraan. Namun kegembiraan itu hanya bertahan beberapa saat saja.

Kebahagiaan dalam keluarga saya berbalik menjadi suasana duka yang mendalam sebab setelah melahirkan saya, ibu meninggal dunia. Dalam proses pertumbuhan saya, seringkali saya bertanya tentang konsep keadilan. Saya sering membanding-bandingkan keadaan saya dengan keluarga teman-teman saya yang masih utuh. Saya pun sadar bahwa semua yang terjadi dalam hidup saya merupakan awal kebahagiaan saya saat ini. Saya tetap bahagia karena dididik menjadi orang yang baik oleh ibu angkat saya. Ibu angkat saya senantiasa berharap dan terus menanti agar saya menjadi seorang imam yang baik. Kini saya tahu bahwa Tuhan punya cara tersendiri dalam menentukan pilihan hidup saya. Saya pun semakin merasa bahwa tangan kasih-Nya telah memperhatikan saya, hamba-Nya yang dina ini.

Kini ketertarikan saya pada imamat semakin berkembang. Bukan lagi karena tuntutan dari luar atau faktor eksternal, melainkan lebih karena saya sungguh merasa tertarik. Saya ingin benar-benar dekat dengan Tuhan dan juga ingin melayani Tuhan dan sesama dengan menjadi imam yang peduli pada orang kecil, miskin dan tersingkir.

Imamat memang masih jauh dari jangkauan saya karena memang belum saatnya saya berbicara tentang itu. Akan tetapi hati saya benar-benar rindu dan haus akan Tuhan. Yang ingin saya kembangkan saat ini adalah segala potensi yang ada dalam diri saya, sehingga apa yang saya miliki dapat saya bagikan dalam karya kerasulan saya saat ini. Dalam doa, saya selalu memohon Tuhan agar menuntun dan menguatkan keyakinan saya untuk tetap setia dalam panggilan ini. Saya tetap berharap bahwa yang saya pilih ini dan yang sedang saya jalani ini akan memberikan kenyamanan bagi jiwa dan raga saya. Saya pun terus mengolah kepribadian saya agar menjadi seorang yang dewasa dalam iman, cinta dan kasih. Sebagai calon misionaris, saya diharapkan menjadi pewarta yang membawa sukacita Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus. Di dalam semuanya ini, saya hanya bisa berharap pada-Nya.

(Fr.Selestinus Mili Sogho)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *