Kasih Kristus
yang mendesak kami

Menjadikan Dunia Satu Keluarga

Relasi yang Mendalam dan Mesra dengan Kristus 

Fransiskus Xaverius lahir di puri Xavier di tengah keluarga bangsawan Kerajaan Navarra yang saleh. Di puri tempat ia tinggal memiliki sebuah kapel keluarga; salibnya sebesar ukuran manusia. Sering digambarkan bahwa St.Fransiskus Xaverius sejak kecil selalu terkesan akan patung Kristus yang tersalib itu; luka-lukanya yang dicat merah menyala, tulang-tulang rusuk yang menonjol, kepala tertunduk, mata tertutup, mulut yang terbuka dan mahkota yang durinya yang panjang-panjang. Di hadapan Kristus yang tersalib itu pula lah keluarga Xavier memperoleh kekuatan saat mengalami ketakutan dan kesedihan pada masa-masa perang. Lagi pula, keluarga Xavier memiliki ciri kesalehan utama berupa devosi kepada Bunda Maria dan para Kudus.

Tidak banyak diceritakan tentang kehidupan rohani St.Fransiskus Xaverius semasa ia kuliah sampai menjadi dosen. Bisa saja kesibukan dan rutinitas yang ia jalani sebagai mahasiswa dan dosen filsafat banyak menyurutkan kehidupan rohaninya, ditambah lagi ia belum memiliki seorang bapa rohani. Hingga pada suatu saat St.Fransiskus Xaverius berjumpa dan tinggal bersama St.Ignasius yang mengambil peran besar bagi pertobatannya. Di kalangan para Yesuit pertama percaya bahwa St.Ignasius berhasil mematahkan perlawanan yang berkecamuk di hati Fransiskus Xaverius untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus dengan mengulang kata-kata Injil yang terkenal ini: “Apa untungnya bagi seseorang bila ia memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan jiwanya sendiri?.” Bagi St.Fransiskus, St.Ignaisus merupakan “bapa kekasih jiwaku”.

Di dalam perjalanan selanjutnya, “para Sarjana dari Paris”- julukan bagi kelompok yang beranggotakan St.Fransiskus Xaverius, St.Ignasius, Petrus Faber, Yakobus Lainez, Alfonso Salmeron, Nikolaus Babadilla dan Simon Rodrigues- selalu menyediakan waktu senggangnya untuk menyanyikan mazmur dan berdoa. Salah seorang dari mereka yang menjadi imam wajib mempersembahkan misa setiap hari dan yang lain menerima komuni.

Tak jarang juga St.Fransiskus Xaverius mengalami trans atau ekstase saat melakukan doa pribadi atau saat merayakan misa. Misalnya saja ketika ia bersama Bobadilla mengadakan misa di tengah umat di Bologna pada Misa Salib Suci ia mendapat ekstase yang berlangsung satu jam lebih pada saat mendoakan “Anamnesis” dalam Doa Syukur Agung.

Selama perjalanannya di atas kapal pun tak pernah St.Fransiskus Xaverius  melupakan Sakramen Ekaristi dan berdoa dalam hatinya. Bahkan ia selalu mendorong semua orang yang melakukan perjalanan bersamanya di atas kapal (para perwira, pelaut dan penumpang) untuk menerima Sakramen Tobat dan Komuni kudus. Hal inilah kiranya yang  membuat St.Fransiskus tidak hanya disebut sekedar “Bapa Fransiskus” tatapi  “Bapa yang Kudus” oleh semua orang yang mengiringi perjalanannya di atas kapal.[1]

Setibanya di daerah misi, St.Fransiskus tidak terlarut pada kegiatan pewartaan Injil dan karya-karya cinta kasih. Betapa pun sibuknya berkarya di tengah umat ia masih ingat akan keselamatan jiwanya sendiri. Sering kali dikisahkan bahwa “sesudah begitu banyak bekerja di siang hari, ia masih juga mengurangi waktu tidurnya untuk berdoa. Beberapa kali ada orang yang melihat wajah Fransiskus cemerlang tatkala sedang berhubungan akrab dengan Allah dalam doa.”[2] Keteladanan St.Fransiskus Xaverius ini nampaknya menambah bukti kebenaran dari apa yang tertulis dalam konstitusi Xaverian bahwa, “doa merupakan kegiatan pertama dan utama seorang misionaris Xaverian.”[3]

Kobaran Api Pewartaan Injil

Tanpa disadarinya, St.Fransiskus sebenarnya sudah disiapkan secara istimewa oleh Allah untuk menjadi misionaris. Seperti yang pernah diungkapkan oleh bapa-bapa gereja KV II,”Para misionaris merupakan orang-orang yang dikhususkan oleh Allah untuk melaksanakan karya misi dengan cakap berkat kurnia-kurnia serta bakat pembawaan.”[4] Salah satu rahmat yang dimiliki oleh St.Fransiskus Xaverius adalah kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dengan berbagai bangsa dan watak bangsa yang berbeda-beda. Oleh karena itu, bukan persoalan yang berarti baginya untuk menjalani kehidupan misioner di negeri yang beraneka ragam dan di antara bangsa-bangsa yang lebih asing lagi baginya.

“Saya bersedia!”, jawab Fransiskus dengan cepat dan gembira tatkala mendengar tugas perutusan yang diberikan St.Ignasius untuk pergi ke India. Kiranya seruan yang terkesan spontan ini menunjukkan betapa ia telah merindu untuk diutus bagi keselamatan jiwa-jiwa; suatu kerinduan yang muncul dari desakan Kasih Kristus di dalam hatinya. Memang benar bahwa tidak ada yang mampu untuk menghambat desakan Kasih Kristus ini, bahkan di hadapan bahaya-bahaya, penganiayaan, penderitaan, cuaca buruk, penyakit fisik dan moral semakin meningkatkan semangat dan ketekunannya dalam karya pewartaan Injil.

Dihadapan berbagai Kesulitan

            Bahaya dalam Perjalanan

Berikut ini adalah beberapa hal yang mungkin sempat menggoncangkan namun tidak menyurutkan apalagi menghentikan kobaran api pewartaan Injil dalam hati St.Fransiskus Xaverius. Pertama, dalam perjalanannya melalui laut dengan kapal tak jarang St.Fransiskus menghadapi bahaya-bahaya yang mengantarnya pada iman akan Tuhan. Misalnya, dalam kisah perjalanan yang ia lakukan menuju Ambon, tiba-tiba saja badai mengamuk. Fransiskus mengambil salib yang tergantung di lehernya, mencelupkannya ke air dan berdoa kepada Allah agar menolongnya. Akan tetapi, tali salib itu putus dan salib pun jatuh ke dasar laut. Badai yang terus mengamuk selama dua puluh empat jam lebih itu pun menghempaskan kapal Fransiskus ke pantai Pulau Seram. Untunglah mereka semua selamat. Selain selamat dari bahaya, St.Fransiskus mendapat mukjizat yang lain, yakni salib yang jatuh ke laut itu dikembalikan oleh kepiting dengan sapitnya. Sambil memeluk hartanya yang baru ia temukan kembali itu, ia berlutut selama tiga puluh menit untuk bersyukur kepada Allah karena mukjizat yang besar itu.

Risiko ditolak penduduk lokal

Kedua, nyatanya ada banyak orang yang risih dan terganggu dengan karya pewartaan Injil. Dari percakapannya dengan tentara-tentara dan imam-imam Spanyol di Ambon, Fransiskus mendengar bahwa orang-orang Kristen di Kepulauan Moro menjadi korban penganiayaan pemeluk agama lain, dan dua orang dari imam-imam yang ada di sana dibunuh oleh mereka. Pada minggu terakhir bulan Agustus, di akhir musim hujan, Fransiskus memutuskan untuk pergi ke kepulauan Moro. Walaupun mendapat halangan dari para sahabatnya yang membujuk ia untuk pergi ke sana, ia tetap siap pergi ke kepulauan Moro sekalipun harus berenang sendirian menempuh jarak sejauh itu.

Dalam sepucuk surat yang ia tulis satu tahun kemudian, dari Cochin, tanggal 20 Januari 1548, Fransiskus memberi kesaksian akan sukacita (penghiburan rohani) yang ia alami dalam karya pewartaannya,”…sebab semua bahaya dan penderitaan ini, jika ditanggung dengan rela hati demi cinta yang murni serta demi pengabdian kepada Allah Tuhan kita, kepulauan ini sangat mungkin menyebabkan orang kehilangan pengelihatan matanya berkat banyaknya air mata yang dicucurkan karena sukacita. Saya tidak ingat apakah saya pernah mengalami hiburan rohani yang begitu besar dan terus-menerus seperti yang saya alami di kepulauan ini, dan begitu sedikit kesulitan jasmani. Semuanya itu karena saya terus menjelajahi kepulauan yang dikelilingi musuh-musuh dan dihuni oleh sahabat-sahabat yang penuh keraguan, dengan tidak adanya obat untuk penyakit jasmani dan tidak adanya bantuan yang diperlukan untuk mewujudkan suatu kehidupan yang sehat. Kiranya, nama yang lebih tepat untuk menyebut kepulauan itu adalah ‘Kepulauan Kepercayaan kepada Allah,’ bukan “Kepulauan Moro”.[5]

Lagi pula, St.Fransiskus Xaverius merupakan sosok yang tegas dalam hal melawan nilai-nilai atau budaya yang berlawanan dengan nilai-nilai Injili. Misalnya saja saat ia menjalankan misinya di Jepang, ia banyak bergaul dengan para rahib Buddha; mengunjungi biara-biara Buddha, berdiskusi dan mengkritik cara hidup para rahib yang kurang baik, yang melawan nilai-nilai Injil. Memang cara pewartaan yang frontal seperti ini tidak lagi berlaku di zaman sekarang, namun semangat St.Fransiskus yang berkobar untuk mewartakan Injil tetap perlu diteruskan.

Tuntutan Bahasa

Mengetahui dan mengenal Bahasa Setempat merupakan salah satu tuntutan yang mesti diemban oleh St.Fransiskus sebagai seorang misionaris. Tahun 1579, St.Fransiskus melanjutkan perjalanan menuju ke Jepang. Setelah meminta dan mendapatkan izin mewartakan Injil kepada raja, ia pun memulai karya pewartaannya di Jepang. Hambatan pokok yang dihadapi Fransiskus dalam mengajarkan iman Kristiani adalah bahwa ia tidak mengenal bahasa Jepang.[6] Walau berat dan sulit ia tetap memiliki kehendak yang kuat untuk belajar bersama Anjiro dirumahnya selama empat puluh hari dan tak takut untuk berdialog bersama orang yang ia jumpai di Jepang.

Berhadapan dengan kegagalan

Dapat dikatakan bahwa misi St.Fransiskus Xaverius kandas atau gagal di pulau Sancian. Kegagalan untuk memenuhi kerinduannya mewartakan Kristus dan InjilNya di Cina dengan terlebih dahulu menaklukkan perjalanan yang paling berbahaya. Seperti yang diketahui bahwa pedagang yang akan membawanya ke Kanton tidak datang kembali. Timbullah serangkaian kekecewaan secara bertubi-tubi. Namun, hal ini justru membuat hati Fransiskus semakin lepas bebas dan semakin berharap pada Tuhan Yesus.

Pada 21 November 1552 Fransiskus mulai jatuh sakit. Ia hanya mampu berbaring dan berdoa mengulangi seruan, “Yesus Anak Daud kasihanilah aku.” Hingga pada akhirnya ia pun menghembuskan nafas terakhir dengan terlebih dahulu berkata, “Pada-Mu Tuhan aku berharap, janganlah aku dipermalukan.” Memang hidupnya sebagai misionaris berakhir, namun tidak dengan semangatnya yang terus membara dan menghidupkan cita-cita misioner Uskup Santo Guido Maria Conforti.

Option for the Poor

Keberpihakannya pada yang misikin dan tersingkir telah St.Fransiskus tunjukkan sejak awal keberangkatannya menuju Goa. Kendati ia mabuk laut dan tubuhnya lemah, St.Fransiskus tetap berkeliling mengunjungi orang-orang yang menderita dan menolong mereka sesuai kebutuhan mereka.

Lebih menarik lagi pengalaman St.Fransiskus jauh hari sebelum keberangkatan misinya yang pertama ke Asia, saat berada di Venisia di tengah orang yang sakit raja singa. Pada suatu hari seorang pasien meminta kepada Fransiskus supaya menggaruk punggungnya yang penuh luka. Tiba-tiba timbul rasa takut yang mencekam dalam hatinya, rasa takut bila tertular penyakit tersebut. Untuk mengatasi perasaan itu, Fransiskus memasukkan jari-jari tangannya ke dalam mulutnya. Alhasil, ia terbebas dari rasa jijik dalam melayani orang-orang yang disingkirkan karena penyakit.

Pokoknya, saat menjalanankan misinya di daerah Asia pastilah St.Fransiskus Xaverius tidak pernah melupakan orang-orang yang miskin, terlantar dan tersingkirkan. Misalnya, ketika berada di Malaka (1545) sambil menunggu kesempatan berlayar ke Makasar, ia memanfaatkan waktunya untuk mengunjungi orang sakit dan orang miskin, mengajar agama kepada pelbagai macam orang , dan berkeliling mengemis untuk orang miskin. Begitu pula saat ia berada di Ambon (1546), Fransiskus segera terjun melayani orang sakit, bahkan berkeliling meminta-minta untuk membantu orang-orang yang berkekurangan.

Semangat Mengeluarga

Semangat mengeluarga telah terlihat sejak St.Fransiskus Xaverius melakukan ziarah bersama sahabat-sahabatnya ke Venesia dengan berjalan kaki. Pada perjalanan itu mereka berjalan bersama-sama, saling membantu, menyanyikan mazmur dan berdoa bersama, serta merayakan Ekaristi bersama. Kiranya semangat kekeluargaan yang telah dibangun ini turut mendorong karya misioner St.Fransiskus pun saat ia terpisah jauh oleh para sahabatnya.

Salah satu ciri khas St.Fransiskus saat berada di daerah misi adalah menulis surat untuk sahabat-sahabatnya. Selama misinya di daerah Timur, ditemukan 13 surat Fransiskus Xaverius kepada Ignasius, 12 kepada Simon Rodriguez, 10 surat untuk semua sahabat di Eropa. Hal unik yang dilakukan St.Fransiskus Xaverius setelah menerima dan membaca surat-surat dari sahabat-sahabat dan Ignasius adalah memotong bagian tanda tangan dari surat itu dan meletakkannya di dalam kantong kecil yang ia kalungkan di lehernya. Dalam surat menyurat ini tercermin semangat mengeluarga; bahwa jalinan kekeluargaan masih terjaga walaupun masing-masing di antara mereka berpisah jauh satu dengan yang lain. Dengan inilah mereka merasakan bahwa mereka tetap dekat dan saling mendukung satu dengan yang lain, serta mengingatkan mereka akan semangat awal untuk mengabdi Allah dan mewartakan Injil kepada bangsa yang belum mengenalNya.

Semangat Kerjasama

Banyak yang mengakui betapa hebat kepiawaian St.Fransiskus dalam mewartakan Injil. Jika dilihat dengan teliti, dalam setiap karya pewartaannya St.Fransiskus Xaverius tidak berperan protagonis seperti Superman yang dapat melakukan banyak hal secara bersamaan, tetap saja ia membutuhkan bantuan dari orang-orang sekitar yang ia percayai. Semangat kerjasama yang dimiliki oleh St.Fransiskus Xaverius sangatlah patut diteladani; yang tidak hanya mencakup kerjasama dengan orang dewasa, tetapi juga anak-anak kecil. Ia sanggup bekerjasama dengan berbagai golongan masyarakat di tempat di mana ia bermisi, dari anak-anak kecil hingga orang dewasa demi mewujudkan suatu karya pewartaan Injil yang efektif.

PENUTUP

Bersama Bapa Pendiri saya sendiri mengakui bahwa St.Fransiskus Xaverius adalah sosok misionaris agung yang patut diteladani; baik semangat misionernya maupun relasinya dengan Tuhan yang sungguh mendalam dan intim. Tidak ada yang mampu menyurutkan semangatnya, bahkan di hadapan bahaya-bahaya, penganiayaan, penderitaan, cuaca buruk, penyakit fisik dan moral semakin meningkatkan semangat dan ketekunannya. Tentu saja, jika ditanya dari mana datangnya kekuatan yang dimiliki St.Fransiskus ini, kita semua meyakini pasti datangnya dari Tuhan Yesus.

Tidak mungkin karya pewartaan St.Fransiskus ini begitu besar dan agung tanpa desakan dan kekuatan dari Roh Kasih Kristus yang begitu kuat. Sering kali dikisahkan bahwa “sesudah begitu banyak bekerja di siang hari, ia masih juga mengurangi waktu tidurnya untuk berdoa. Beberapa kali ada orang yang melihat wajah Fransiskus cemerlang tatkala sedang berhubungan akrab dengan Allah dalam doa.”[7] Keteladanan St.Fransiskus Xaverius ini nampaknya menambah bukti kebenaran dari apa yang tertulis dalam konstitusi Xaverian bahwa, “doa merupakan kegiatan pertama dan utama seorang misionaris Xaverian yang memberi kekuatan, daya juang dan inspirasi dalam mewartakan Kristus dan InjilNya.”[8]

Semangat kerjasama yang dimiliki oleh St.Fransiskus Xaverius pun patut diteladani. Mengingat misionaris juga seorang manusia yang penuh dengan keterbatasan, kerjasama dalam mewartakan Injil dengan umat sekitar di mana kita berada pun mutlak adanya demi mewujudkan karya pewartaan Injil yang maksimal dan efektif. Lagi pula semangat mengeluarga yang ditampakkan dalam pribadi St.Fransiskus pun patut di teladani. Dengan semangat mengeluarga ini para misionaris merasakan bahwa mereka tetap dekat dan saling mendukung satu dengan yang lain, serta mengingatkan mereka akan semangat awal untuk mengabdi Allah dan mewartakan Injil kepada bangsa yang belum mengenalNya.

Akhir kata, sambil mengucapkan dan berusaha menghidupi apa yang dianjurkan oleh St.Guido Conforti, “Mari kita temukan inspirasi dari teladan-teladan yang diberikan St.Fransiskus Xaverius, marilah kita selalu ingat bahwa jika kita ingin menjadi Rasul Injil yang pantas, kita juga mesti hidup bagi Allah secara total, total untuk sesama kita, dan total bagi diri kita. Dengan demikian, kita dapat memberikan segala kemuliaan bagi Allah.”

 

[1] Lih. Albert Jou SJ, Santo Fransiskus Xaverius, (Serikat Misionaris Xaverian:Jakarta), 55.

[2] Lih. Albert Jou SJ, Santo Fransiskus Xaverius , 72.

[3] Konstitusi 42

[4] Bab IV, art.23

[5] Lih. Albert Jou SJ, Santo Fransiskus Xaverius, 112-113

[6]Lih. Albert Jou SJ, Santo Fransiskus Xaverius, 146

[7] Lih. Albert Jou SJ, Santo Fransiskus Xaverius , 72.

[8] Konstitusi 42