Dialog “Trinitas dalam Pandangan Islam”

Komunitas Skolastikat Xaverian Cempaka Putih kembali mengadakan kegiatan diskusi lintas agama pada sabtu (19/09). Kali ini, tema diskusi sangat menarik dan membuat para peserta mengikutinya dengan penuh perhatian. Tema dialog kita kali ini adalah Trinitas menurut pandangan Islam yang akan dipaparkan oleh Pak Ulil Abshar Abdalla.

Dengan berbagai kekurangan dan pemahamannya yang masih minim tentang Trinitas, Pak Ulil mencoba untuk memahami konsep Trinitas dari pribadinya sebagai seorang Muslim. Dia pun mengakui bahwa ide ini bukanlah wakil dari Muslim tetapi dari dirinya sebagai seorang Muslim. Dengan demikian, tentu tidak semua orang Muslim akan menerima penafsirannya itu.

Dengan membandingkan ajaran dan pemahaman orang Islam secara umum, Ulil mengatakan bahwa Trinitas merupakan penyimpangan dari monotheis. Misalnya. Tuhan tidak memiliki anak atau memperanakan. “Pandangan inilah yang dimiliki oleh umat Muslim pada umumnya”, tegasnya. Hal ini pun menjadi tembok antara Muslim dan Kristen ketika mendiskusikan soal Trinitas sehingga kemungkinan untuk berdiskusi sangat sulit.

Namun, dalam usahanya untuk memahami Trinitas, Pak Ulil mengambil beberapa ajaran Muslim yang dapat dijadikan batu pijakan dalam memahami Trinitas. Pertama, dalam ajaran Hadis, dikatakan bahwa Tuhan memiliki wajah, kaki, tangan, singgasana layaknya sebagai seorang manusia. Antropomorfisme (Tuhan digambarkan seperti manusia) dibutuhkan justru ketika manusia berusaha untuk memahami Allah, sekalipun tetap diakui bahwa Tuhan itu adalah sesuatu yang unik atau yang lain dari manusia. Pak Ulil pun melanjutkan bahwa dalam dunia Muslim, ada dua aliran besar yaitu kelompok hermeneutis dan kelompok non-hermeneutis. Kelompok hermeneutis misalnya menganggap bahwa Yesus anak Allah yang bukan secara biologis tapi metaforis[1] Terlepas dari konsep Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia,  menganggap Yesus semata sebagai Tuhan merupakan gap yang terlalu jauh bagi umat muslim pada umumnya.

IMG_0011Dalam menyakinkan pemahamannya terhadap Trinitas, Ulil mengambil ajaran Islam tentang sifat-sifat Allah (ada 99 sifat Allah dalam Islam). Dia mengatakan bahwa sifat-sifat itu tidak berdiri sendiri atau bersifat otonom satu sama lain. Sifat-sifat itu merupakan dimensi-dimensi dari satu esensi yang sama. Tuhan memiliki banyak sifat dan itu semua merupakan konsep yang dapat ditangkap oleh manusia dalam memahami pribadi Tuhan itu. Apalagi Tuhan mesti dibahasakan dalam konsep-konsep (metafora) manusia. Dari kenyataan-kenyataan yang ada dalam agama Islam itu, bagi Pak Ulil dapat menjadi dasar bagi umat Muslim untuk memahami dan ‘menerima” konsep Trinitas itu.

Satu Allah Tiga Pribadi dapat disejajarkan dalam 99 sifat Allah yang ada dalam Al-Quran. Jadi tidak ada alasan lagi bagi orang Muslim untuk tidak menerima konsep Trinitas itu. Pemahaman Islam yang melihat Trinitas bertentangan dengan monotheis dapat dikatakan sebagai sebuah kekeliruan. Sebaliknya, jika umat Muslim tidak menerima maka mereka dapat “diserang” melalui gambaran mereka tentang Allah yang memiliki kaki, tangan, dan singgasana ataupun 99 sifat Allah. “Bukakah Allah itu satu, sehingga tidak perlu melihatnya dari berbagai dimensi?”, tegas Ulil. “Akhirnya dapat diambil sebuah kesimpulan yang dapat membuka dialog secara mendalam yaitu; Trinitas bukanlah sesuatu halangan bagi umat Muslim untuk memahaminya karena secara implisit dalam Al-Quran, Allah pun digambarkan melalui berbagai sifat”, tegas Ulil.

IMG_0016f(Fr.Ekki Oddo)


[1] Ini adalah anggapan dari kelompok hermeunitis yang tidak tahu secara mendalam konsep Kristologi: “Yesus Sungguh Allah Sungguh Manusia”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *