Ad Maiorem Dei Gloriam!

Ad Maiorem Dei Gloriam!

Judul renungan di atas mengingatkan kita kepada sosok St. Ignatius Loyola yang memilihnya sebagai motto hidup dan kongregasi Serikat Yesus yang didirikannya. Ada tambahan frasa ‘inque hominum salut’ setelahnya. Arti secara keseluruhannya yakni ‘Untuk kemuliaan Tuhan yang lebih besar dan keselamatan manusia’. Motto ini menjiwai seluruh peziarahan hidup panggilannya. Ia mempersembahkan seluruh dirinya, kelebihan dan kekurangannya, karya dan pelayanannya bagi kemuliaan Tuhan dan keselamatan sesama.

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menekankan hal yang sama. Ia menulis “saudara-saudara, jika engkau makan atau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu demi kemuliaan Allah (I Kor 10:31)”. Ajakkan ini tentu lahir dari suatu pengalaman iman yang mendalam akan Allah. Kita tahu, heroisme Paulus dalam karya dan pelayanannya mewartakan Kristus sangat luar biasa. Ia menebus kekelaman masa lalunya dengan totalitas penyerahan diri supaya warta gembira Kerajaan Allah membawa orang lain kepada jalan keselamatan. Persembahan diri itu bahkan berujung kemartirannya. Baginya, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Ia adalah teladan yang sangat mengagumkan bagi kita semua yang masih dalam peziarahan di dunia ini.

Spritualitas perutusan Yesus didasarkan pada motivasi ketaatanNya kepada kehendak Bapa bagi keselamatan manusia. Ia rela menanggalkan kemuliaanNya dan turun menjadi manusia sama seperti kita untuk menebus kita dari dosa dan kebinasaan. KehadiranNya menjawab penantian dan pengharapan kita semua. Hari ini, penantian dan pengharapan seorang kusta akan seorang yang menyembuhkannya terpenuhi. Ia boleh berjumpa dengan pribadi Yesus   dan menyatakan kerinduan terdalamnya. Ia ingin terbebaskan dari belenggu kutukan yang membuatnya terasing dalam kehidupan.

Bacaan pertama memberikan kita gambaran akan konsekuensi ketika seorang mengalami penyakit kusta. Dikatakan bahwa “Orang yang sakit kusta harus berpakaian cabik-cabik, dan rambutnya terurai. Ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahanlah tempat kediamannya.(Im 13:44).” Penyakit kusta menjadi semacam kutukan yang menakutkan karena bukan hanya konsekuensi fisik tetapi konsekuensi sosial. Bukankah semestinya mereka harus dirawat dan dilayani supaya mereka sembuh?

Perjumpaan itu menjadi momen yang mengesankan bagi si kusta, karena ia boleh mengalami kesembuhan total. Yesus menyatakan keinginanNya untuk menyembuhkan si kusta karena tergerak oleh belaskasihan dan iman yang dimilikinya. Pasca kesembuhan itu, ia pergi mewartakan kesembuhannya kepada orang-orang yang ditemuinya. Mereka yang mendengarnya takjub dan berbondong-bondong datang pada Yesus. Mereka ingin melihat sosok yang telah melakukan mujizat itu dan mengalami kesembuhan dari masing-masing penyakit yang mereka alami.       

Saat ini kita masih hidup dengan Covid-19 yang membatasi ruang gerak kita. Segala sesuatu dianjurkan sedapat mungkin dilakukan dari rumah. Kalangan-kalangan tertentu tidak mengalami kesulitan di hadapan situasi ini karena ekonomi yang cukup bahkan lebih. Dalam situasi lain, ada begitu banyak orang yang kewalahan dan tetap melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hidup atau mati menjadi urusan belakangan, yang terpenting kebutuhan keluarga bisa terpenuhi.

Situasi ini sekiranya mengetuk dan membuka pintu hati kita untuk berbelarasa kepada yang mereka yang miskin, lapar, sakit, dan dalam situasi sulit dalam hidupnya. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan. Misalnya berdonasi makanan dengan mengurangi hal-hal yang hanya untuk kesenangan diri (hedonistik), memberikan peneguhan dan berdoa bagi kebaikan bersama. Yesus mengajak kita untuk keluar dari diri kita, dari ego kita, dari kenyamanan kita. Dia mengajak kita untuk menjadi tanganNya yang selalu terulur kepada sesama yang membutuhkan. Semuanya bukan untuk kemuliaan diri, melainkan untuk kemuliaan Allah dan keselamatan sesama. Semoga hari valentine yang kita rayakan hari ini, selalu mendorong kita untuk menjadi saluran kasih bagi sesama. Salam kasih sayang.

Fr. Erik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *