Sudahkah Aku Berbuah?

Sudahkah Aku Berbuah?

Yesus hari ini mengajarkan kita tentang hal Kerajaan Allah. Ada tiga perumpamaan yang diajarkan Yesus dan satu penjelasan tentang arti dari tiga perumpamaan tersebut. Yesus menunjukkan hal Kerajaan Allah itu seumpama penabur benih gandum dan ilalang, biji sesawi dan yang terakhir adalah ragi. Kepada para murid, Yesus menjelaskan arti dari perumpamaan tersebut, bahwa penabur benih itu adalah Anak Manusia (Yesus), ladang adalah dunia, benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan, dan ilalang adalah anak-anak si Jahat. (Mat. 13: 37-38). Penabur ilalang adalah Iblis itu sendiri. Penuainya adalah para malaikat yang akan memisahkan gandum dan ilalang pada akhir zaman. Pertanyaan bagi kita adalah, apakah aku adalah benih yang menghasilkan buah yang baik atau malah menjadi ilalang?

Mungkin kita pernah mendengar orang berkata, kenapa sih harus ada orang jahat di dunia ini? Kenapa aku selalu di sakiti oleh si A dan si B? Kenapa aku sudah berbuat baik dan selalu berdoa kepada Tuhan tapi Ia tidak mendengarkan doaku bahkan memberikan aku cobaan terus menerus? Masih banyak lagi pertanyaan yang sering kita dengarkan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan menghantar kita kepada permenungan kita pada hari ini.

Benih baik yang ditaburkan oleh Anak Manusia, dipengaruhi oleh benih yang jahat dari si Jahat. Mengapa Yesus tidak mencabut saja ilalang tersebut? Mengapa Yesus tidak menghilangkan saja kejahatan dari muka bumi? Karena, apabila ilalang dicabut, Si Penabur khawatir bahwa gandum juga akan tercabut. Oleh karena itu, benih tersebut dibiarkan untuk tumbuh bersama dengan ilalang itu hingga saat panen tiba di akhir zaman nanti. Dengan demikian, pada saat panen nanti, ilalang akan mudah dipisahkan karena ia tidak berbuah tapi gandum akan berbuah dan dimasukan ke dalam Kerajaan Allah.

Benih dan ilalang yang hidup berdampingan akan susah dipisahkan karena kelihatannya sama bentuknya, jadi susah dipisahkan. Begitupun manusia. Kita hidup berdampingan bersama dengan orang baik dan yang jahat. Orang bisa saja kelihatannya baik tetapi sesungguhnya ia sangat jahat, dan bahkan mempengaruhi orang baik untuk menjadi orang jahat seperti ilalang yang terus menghimpit gandum untuk menghambatnya berbuah. Akan tetapi, itu tidak penting apakah kita hidup dengan orang baik atau jahat, semua kembali kepada diri kita masing-masing.

Oleh karena itu, hendaklah kita selalu menyadari bahwa kita adalah orang yang baik dari benih yang baik. Maka itu, seharusnya kita berusaha untuk menghasilkan buah yang melimpah. Ini yang mesti kita perjuangkan karena tidak mudah menghasilkan buah yang baik. Untuk itu, dibutuhkan kerja keras dan usaha serta komitmen dan kesetiaan mengingat banyaknya kesulitan yang terus menghimpit kita. Ada banyak ilalang berupa godaan yang terus dan akan terus menggoda kita menjadi ilalang yang dibuang ke perapian karena godaan duniawi dari si jahat. Kita mesti tangguh dan terus bersabar walaupun rasa-rasanya kok Tuhan sepertinya membiarkan kejahatan terus menimpa kita dengan segala ketidakadilan.

Bagaimana caranya agar kita bertahan? Kita mestinya terus mengampuni yang bersalah kepada kita, bukan karena kita sok baik atau tidak mampu melawan si jahat. Kita adalah benih yang baik sehingga sudah seharusnya menjadi garam dan terang dunia. Oleh karena itu, sebagai benih yang baik dan pengikut-Nya, kita diajak untuk terus mengasihi dan mengampuni mesti kita mengalami ketidakadilan, sabar dalam kebaikan dan cinta kasih. Agar kita tetap bertahan, kita diajak oleh Rasul Paulus dalam bacaan kedua agar kita tidak jemu-jemunya berdoa, bahwa Roh Kudus pun akan turut mendoakan kita juga. Kalau merasa doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan, seharusnya kita bertanya, apakah saya sudah berdoa dengan biak dan benar? Jangan-jangan doa-doa kita hanya isinya keluhan, permintaan dengan minta ini-itu, tapi tidak pernah bersyukur ketika kita berhasil.

Berdoa itu jangan tunggu berhasil dulu. Jangan hanya bertele-tele dengan kata dan rumusan yang indah-indah saja seolah-olah mau menjilat Tuhan. Tuhan tidak gila hormat, tapi sebagai ciptaan-Nya, kita mesti tunduk dan menyembah-Nya melalui doa. Ketika berdoa, berilah kesempatan kepada Tuhan untuk berbicara dengan hening, untuk mendengarkan apa kehendak Tuhan atas diri kita. Jangan ketika masuk, minta ini itu dan tidak memberi-Nya kesempatan sama sekali. Doa jangan hanya ketika mau minta sesuatu baru berdoa, ketika dikabulkan maka tidak pernah lagi berdoa. Seperti orang yang datang hanya ketika membutuhkan. Jangan!

Doa itu sumber kekuatan, dalam keadaan apapun, mestinya kita dapat mengucap syukur, mohon kebaikan dan cinta kasih untuk dapat berbuah. Dari doalah kita dikuatkan dalam Roh Kudus yang menemani peziarahan kita menuju Kerajaan Surgawi dengan menghasilkan buah yang melimpah. Jika tidak, maka nasib kita akan menjadi sama seperti ilalang yang hanya dicampakkan ke dalam api dan berakhir di perapian.

Maka, sebagai refleksi penutup bagi ktia semua, mari secara jujur kita bertanya pada diri sendiri, sudahkan kita berbuah? Aminnnnnn

(Fr. Vincentius Rusae. SX)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *