Teladan segala Teladan

Teladan segala Teladan

Pikulah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati, dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat 11:29)

Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial membuat ia membutuhkan kehadiran orang lain atau sesama. Namun, relasi dengan sesama tidak selamanya berjalan mulus, artinya kadang baik, kadang renggang, itu tergantung situasi hati kita, kalau sedang baik maka kita mampu memandang dan melihat sesama dengan positif, tetapi kalau hati kita sedang kalut, kita kurang mampu memandang orang lain secara objektif. Bukan hanya itu, situasi ini juga dapat muncul karena beberapa faktor, mulai dari adanya sikap menuntut agar orang lain mengikuti saya, kurang terbuka, sampai pada sifat manusia yang cenderung memisah-misahkan. Misalnya dalam hal persahabatan, ketika seorang teman mampu bertindak seperti yang saya inginkan, sifat keakuan” hampir pasti muncul dalam wujud perkataan itu teman saya, atau itu sahabat saya, akan tetapi ketika seorang teman tidak mampu bertindak sesuai dengan keinginan dan kemauan saya, dengan tegas mengatakan itu bukan teman atau sahabat saya. Ketidakmampuan manusia untuk menerima baik kelebihan maupun kekurangan sesamanya menjadi hal mendasar mengapa suatu persahabatan yang telah terjalin sejak lama dapat rusak hanya karena suatu hal yang sepele dan karena keegoisan yang ada dalam diri kita ini.

Bacaan Injil hari ini menawarkan kepada kita agar kita mampu belajar dari Yesus yang merupakan pangkal dan tujuan hidup kita. Jika sifat manusia cenderung memisah-misahkan, sifat Allah yang terwujud dalam diri Yesus Kristus sama sekali berbeda, Ia lemah lembut dan rendah hati, maka dengan kelembutan dan kerendahan hati inilah Ia dapat mempersatukan dan menerima kita semua dalam ikatan kasih. Ia tetap mencintai dan mengasihi kita baik kelebihan maupun kekurangannya. Belajar dari Allah memampukan kita memandang sesama dengan cara pandang Allah sendiri yang selalu mengasihi. Menjadikan Allah sebagai pusat seharusnya sudah menjadi kebiasaan kita semua yang menamakan diri sebagai anak-anak-Nya. Melakukan sesuatu dalam keseharian hidup kita dengan menjadikan Allah sebagai cermin atau suri teladan, membuat kita dimampukan untuk turut ikut serta dalam karya keselamatan Allah dalam dunia ini. Namun untuk mampu bertindak seperti cara bertindak Allah sendiri bukanlah sesuatu yang mudah dijalankan, melainkan suatu proses dan proses itu membutuhkan suatu perjuangan. Maka pikullah segala perjuangan itu bersama Dia, dan belajarlah dari-Nya, maka jiwa kita akan memperoleh ketenangan. Tuhan memberkati.

By: Fr. Masri S.X.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *