Percaya

Percaya

Peristiwa kebangkitan Lazarus menjadi sangat penting bagi kita yang percaya kepada-Nya. Sangat jelas bahwa orang yang percaya dan mengandalkan-Nya akan memperoleh rahmat yang luar biasa, yaitu kehidupan kekal. Kedekatan dan kesetiaan untuk tetap berpegang pada-Nya menjadi titik tolak bagi kita yang lemah ini karena di dalam Dia kita memperoleh kekuatan. Penginjil Yohanes menggarisbawahi kematian bukanlah titik akhir bagi orang yang setia kepada-Nya, melainkan kebangkitan atau kehidupan kekal. Yang menarik dalam kisah ini adalah Yesus ikut menangis ketika melihat Marta dan Maria menangis. Tokoh Maria dan Marta mewakili kita juga bahwa Yesus turut berduka (solider) dengan mereka yang sedang berdukacita.

Namun, Yesus tidak berhenti pada rasa iba atau hanya sekadar menangis. Ia menghibur Maria dan Marta. Ia berdoa kepada Bapa-Nya, lalu membangkitkan Lazarus dari kematian (bdk, Yoh, 11: 41-44; Yeh, 37: 12).  Ketika kita mendengar orang yang kita kasihi meninggal dunia, tentu kita merasa sangat kehilangan. Kita menangis dan menangis hingga kita terlarut dalam kesedihan. Kita juga pasti merasa iba dengan orang yang sedang berdukacita. Yesus bersabda, “Menagislah dengan orang yang menangis, bersukacitalah dengan orang yang bersukacita.” Sikap ini tentu sebagai bentuk sikap peduli dan solider kita dengan sesama. Namun, Yesus mengajak kita untuk tidak berhenti pada rasa iba. Kita mesti menghibur dan mendoakannya dengan sebuah kepercayaan bahwa ia akan bangkit bersama-Nya kelak.

Barangkali makna air mata melukiskan pertobatan sejati yang lahir dari penyesalan yang sungguh atas kesalahan-kesalahan kita yang belum bisa memahami kehendakNya, belum setia kepada-Nya dan sikap acuh tak acuh kita terhadap sesama terutama mereka yang susah dan menderita. Makna lain seakan menggambarkan air mata kerinduan. Kerinduan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata sehingga air mata mulai mengalir. Saat kita merindukan dan mencintai orang yang kita kasihi itu lebih dalam, maka kita akan menangis dengan penuh cinta.  Apakah kita selalu merindukan Dia? Membutuhkan kehadiran Dia? Marta dan Maria sungguh membutuhkan dan merindukan kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati (Yoh, 11:20-21; 11:32-33).” Kita mungkin masih terkurung atau malu karena melakukan kesalahan-kesalahan yang sama atau merasa nyaman atas perbuatan-perbuatan itu sehingga kita takut dan ragu akan adanya kerahiman Allah. Yesus mengajak kita untuk berani mengangkat batu-batu atau menyingkirkan segala tembok pembatas antara kita dengan Tuhan. Dalam hal ini adalah dosa-dosa kita. Kemudian, kita menanggapi undanganNya, “Datanglah kepada-Ku….(bdk Mat, 11:28).

Dalam konteks saat ini, kita bersama-sama turut berduka atas meninggalnya orang-orang di seluruh dunia akibat coronavirus. Kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata-Nya terhadap apa yang dihadapi umat-Nya. Maka dari itu, seraya kita menangis tersungkur di hadapan Tuhan dan menyesali dosa-dosa kita, kita juga mengantar orang-orang yang telah meninggal akibat coronavirus melalui doa dan terus mendoakan tim medis dan mereka yang dalam proses perawatan.

Fr. Firmin, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *