Corona dan Kerahiman Allah

Corona dan Kerahiman Allah

Minggu Prapaskah IV

Bacaan I          : 1Samuel 16:1b.6-7.10-13a

Injil                  : Yoh 9:1.6-9.13-17.34-38

Situasi akhir-akhir ini memang tidak menyenangkan. Pandemi Covid-19 membuat kita semua merasa lebih waspada. Segala sesuatu kita lakukan dengan begitu berhati-hati. Secara singkat, saya menyebutnya ‘cemas’. Kecemasan yang kita rasakan, rasanya bertolak belakang dengan Minggu Prapaskah IV besok. Minggu Prapaskah IV disebut juga Minggu Laetare, dari Bahasa Latin yang artinya sukacita. Pastilah kita bertanya-tanya, bagaimana caranya merasakan sukacita dalam situasi seperti ini? Keluar rumah takut-takut, Ekaristi di Paroki ditiadakan, dan dalam aktivitas selalu memantau kebersihan. Sudah berapa kali anda cuci tangan hari ini?

Namun kita sebagai orang Katolik, yang beriman kepada Kristus, tidak bisa hanya diam dalam situasi memprihatinkan yang tampak. Seperti Sabda Allah dalam Kitab 1 Samuel; “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Memang tidak mudah melihat makna dibalik peristiwa-peristiwa yang nampaknya negatif. Akan tetapi, itulah yang ingin Yesus tunjukkan kepada kita. Pengemis tersebut dipandang berdosa karena sejak lahirnya ia telah buta. Segala sesuatu menjadi sulit baginya untuk hidup. Jangankan untuk hidup, untuk diakui masyarakat saja sudah sulit. Justru, dalam diri orang inilah Yesus menurunkan rahmat-Nya.

Orang buta sejak lahir, tiba-tiba bisa melihat. Pernahkan kita bayangkan itu? Orang buta sejak lahir, tiba-tiba dihadapkan pada pemuka agama. Pernahkan kita bayangkan itu? Orang buta sejak lahir, tiba-tiba mewartakan Kristus. Pernahkan kita bayangkan itu? Sangat jelas, ada perkembangan rohani dalam diri pengemis ini.

Kerahiman Kristus, itulah sukacita yang ingin ditawarkan oleh Gereja pada Minggu Prapaskah IV ini. Kerahiman yang membuat kita berkembang, baik secara jasmani maupun rohani. Situasi yang kita sedang hadapi memang tidak mudah. Secara tiba-tiba kita harus menyesuaikan kegiatan, cara hidup, bahkan pola pikir. Mungkin saja kita yang tadinya tidak bisa kalau tidak keluar rumah (entah jalan-jalan, main, nongkrong), akhirnya harus menahan diri demi kebaikan bersama dan diri sendiri. Kita yang tadinya kalau makan ya tinggal makan, mulai sekarang cuci tangan terlebih dahulu.

Rahmat Kerahiman selalu membawa sukacita. Meskipun hari ini kita tidak bisa merayakan Ekaristi bersama di Paroki, Rahmat Allah senantiasa bersama kita. Semoga Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Fr. Dito, sx

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *