Kerasulan Rumah Belajar Senen

Kerasulan Rumah Belajar Senen

Nama lengkap saya Fransiskus Jawa A. Mbiru. Saya akrab dipanggil Fariz. Saya adalah seorang frater dari Serikat Misionaris Xaverian yang sedang belajar filafat di Sekolah Tinggi Filsafat Dryiarkara, Jakarta. Saya merasul di Rumah Belajar Senen (RBS).

RBS adalah organisasi sukarelawan yang berada di sekitar Stasiun Kereta Api Pasar Senen. Komunitas RBS didirikan oleh beberapa kaum muda jemaat GKI Kwitang sejak tahun 2005 dengan nama awalnya Komunitas Bimbel Senen (KBS). Dengan bantuan rekan-rekan Sahabat Anak, kaum muda tersebut berhasil mengumpulkan anak-anak dengan tujuan mengikuti Jambore Anak Marginal pada Juli 2005. Acara tersebut diselenggarakan oleh komunitas Sahabat Anak. Komunitas RBS pada awalnya mengumpulkan anak-anak di sekitar lokasi untuk mengikuti kegiatan kreatif seperti menggambar, mewarnai, dan bermain teka-teki silang. Kegiatan tersebut diadakan setiap weekend untuk menjalin kedekatan antara adik-adik dan pengajar sukarela.

Dari tahun ke tahun komunitas RBS berusaha mencari tempat yang nyaman untuk proses belajar mengajar. Seiring dengan bertambahnya jumlah anak yang mengikuti kegiatan ini, komunitas RBS memutuskan untuk menyewa salah satu rumah dekat Stasiun Kereta Api Pasar Senen. Kini,  kelas di RBS sudah berkembang. Pada hari Jumat sore, terdapat kelas Calistung dan mengaji. Pada Sabtu siang hingga sore, tim mata pelajaran sekolah akan membantu adik-adik mengejar mengejar ketinggalan yang kurang dimengerti selama di sekolah. Pada hari Minggu pagi, terdapat kelas Bahasa Inggris untuk adik-adik yang berminat untuk mempelajari Bahasa Inggris.

Saya mendampingi adik-adik yang berminat untuk belajar Bahasa Inggris pada hari Minggu dari pukul 10.00-12.00 WIB. Kegiatan belajar Bahasa Inggris terdapat tiga level. Level pertama untuk adik-adik TK-SD kelas III, level kedua untuk adik-adik SD kelas IV-VI, level ketiga untuk adik-adik SD kelas IV yang bahasa Inggrisnya sudah bagus hingga SMP kelas VII. Pada pukul 10.00-11.00 terdapat dua kelas yaitu untuk level satu dan level dua. Pada pukul 11.00-12.00 untuk kegiatan Bahasa Inggris level tiga.

Bahasa Inggris saya tidak terlalu bagus. Akan tetapi, ini adalah sebuah perutusan dari komunitas yang harus saya terima dan saya jalankan. Pada awalnya saya merasa sulit untuk menerima perutusan ini. Ketika pergi merasul, perasaan saya penuh dengan kecemasan  karena memikirkan apa yang harus saya lakukan ketika berhadapan dengan adik-adik di RBS. Bagaimana saya mengajarkan Bahasa Inggris ke adik-adik sedangkan saya belum memahami bahasa Inggris dengan baik dan benar? Pergulatan itu terjadi sepanjang jalan sambil mengayu sepeda. Mengayuh sepeda pun terasa semakin berat dan jarak yang di tempuh seakan jauh. Jarak yang ditempuh menggunakan sepeda hanya 15 menit namun saya merasa satu jam perjalanannya.

Hari pertama merasul di komunitas RBS, saya mendapat pengalaman yang berkesan dan menjadi batu loncatan bagi saya untuk kegiatan kerasulan selanjutnya. Perjumpaan dengan seorang pendamping sekaligus penanggung jawab kegiatan belajar Bahasa Inggris membuat saya merasa tenang. Ia mengajak saya untuk membantunya menemani adik-adik dalam proses belajar.  Saat itu, kami mengadakan kegiatan belajar Bahasa Inggris untuk level satu. Suasana kelas ribut karena adik-adik asyik dengan diri mereka sendiri dan bermain dengan teman-temannya. Saya menemani mereka dengan sabar. Pertanyaan dari mereka ke saya tidak terlalu sulit untuk dijawab. Pada saat itu, kita belajar tentang vocabulary. Kegiatan belajar yang berikutnya bersama adik-adik yang di kelas level tiga.

            Pada kegiatan selanjutnya bersama adik-adik yang level tiga, saya merasa senang untuk medampingi mereka. Adik-adik yang masuk level tiga memang bahasa Inggrisnya sudah bagus. Ketika itu, mereka belajar tentang gramer. Ketika belajar bersama adik-adik yang di level tiga, saya semakin sadar bahwa saya diutus untuk belajarselain mengajar mereka.

Namun, berbicara tentang perutusan seorang religius yang berjiwa misioner ke tempat ini merupakan suatu langkah untuk mengobarkan semangat misioner yang ada di dalam diri saya. Saya belajar untuk menegenal dan berinteraksi dengan umat dari agama-agama lain. Adanya dialog dengan kaum muda dari agama Kristen Protestan dan Islam dalam mendampingi adik-adik. Kami saling membantu antara yang satu dengan yang lain dan saling melengkapi. Komunikasi via media sosial untuk membicarakan kegiatan-kegiatan di RBS berjalan dengan baik. Ketika saya mengajar mereka, mereka mengajarkan banyak hal kepada saya. Kesabaran, kreatif untuk mencari game, ketekunan untuk belajar, dan yang paling penting adalah bersyukur menjadi buah-buah yang begitu berharga bagi panggilan hidup saya. Bersyukur bahwa terdapat orang-orang yang baik hati yang mau merangkul orang kecil.

Injil Markus 8:27-33 mengisahkan tentang pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias dan pemberitahuan akan penderitaan Yesus, menyadarkan saya bahwa mengenal Yesus tidak sebatas teori. Saya bersyukur karena mengenal Yesus yang selalu memperhatikan saya dan telah menyelamatkan saya. Dengan demikian, Yesus yang telah mencintai saya menjadi teladan bagi saya untuk bertindak atau mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya. dengan demikian, saya rela mengasihi mereka yang menderita, yang sangat dibutuhkan dalam Kerajaan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *