Natal dan Bau Kurban Paskah

Natal dan Bau Kurban Paskah

Renungan Minggu 29 Desember 2019

Masa Natal

Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria, Yusuf

Bacaan Injil : Mat 2:13-15,19-23

 

Saudari/saudara yang dikasihi Yesus.

Saat ini kita masih berada dalam oktaf natal. Bacaan-bacaan yang didengar juga masih seputar peristiwa-peristiwa sekitar kelahiran Yesus. Mungkin kita agak Heran bahwa di antara bacaan itu, beberapa mengisahkan kekejian luar biasa. Di antaranya kisah mengenai Kemartiran Stefanus (Bacaan hari Jum’at), lalu juga kisah menganai kanak-kanak Suci (bacaan hari Sabtu) yang juga merupakan martir-martir awal sejak kelahiran Yesus.

Sebagian dari kita mungkin ikut merasakan adanya pembelokan drastis dari sukacita natal atas kelahiran Yesus menuju kisah berdarah para martir. Apa arti semua ini? Mengapa kita tidak boleh bersukacita sedikit lebih lama?

Akan tetapi, mungkin memang kelahiran Kristus atau Natal, bukan sekadar romantisme Firdaus belaka. Natal barang kali justru satu paket dengan paskah yang artinya pengorbanan. Natal tidak lepas dari Paskah seperti juga Kebangkitan tidak lepas dari salib. Artinya, kita mesti keluar dari Gereja, meninggalkan romantisme ‘Holy Night’, menuju lorong-lorong gelap di mana Yesus yang sama masih memikul salib bersama banyak orang yang menderita.

(baca: http://fraterxaverian.org/blog/2019/12/17/natal-lagi-kita-buat-apa/)

 

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yusuf yang diperintah malaikat untuk meninggalkan Mesir dan kembali ke Israel, di Galilea, ke sebuah kota yang bernama Nazareth. Kita tahu, Injil bukan merupakan kisah yang ditempel begitu saja. Injil sebagai sebuah tulisan juga memiliki gaya retoris, tetapi bukan retorika Yunani yang linear (datar), melainkan retorika semitik yang elips (melingkar) tetapi juga paralel (sejajar). Gaya paralel itu seperti pantun, sajak berikut mengandaikan sajak pertama. Dalam Kitab Suci, ini sering terjadi misalnya dalam kisah Elisabeth yang mandul, kita diajak kembali mengingat kisah Simson yang ibunya juga mandul, lalu Sarai isteri Abraham yang mempunyai kasus yang sama. Tujuan dari paralelisasi ini ialah untuk memberi penekanan pada kesinambungan atau hubungan tak terpisahkan antara kisah satu dengan yang lain.

Hari ini Injil menekankan kembalinya Keluarga Kudus ke Nazareth, sebuah kota yang sudah sejak awal dinubuatkan, sebuah kota yang dijuluki Kota Daud, sebuah kota yang dikunjungi malaikat, dan akhirnya, sebuah kota tempat dimana Ia yang lebih besar dari Daud lahir. Akan tetapi, keistimewaan Nazareth serasa belum berakhir. Nama kota ini juga akan kita temukan dalam Yoh 19:19 (Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi”) yang letaknya persis di akhir perjalanan Yesus sebelum Ia wafat.

Di sini ada paralelisasi antara Nazareth di awal dengan kemegahan Raja Daud-nya dan Nazareth di akhir dengan juga kemegahan Raja Israel sesungguhnya, Yesus Kristus yang disalib itu, domba paskah kita. Lalu betul kiranya bahwa natal menghubungkan kita dengan paskah. Kelahiran Yesus membawa sukacita dan pembebasan, tetapi sukacita sejati hanya datang dari sebuah pengorbanan, SALIB.

 

Selamat Berhari Minggu.

Patris Arifin, sx.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *