Kebangkitan Mestinya Ada

Kebangkitan Mestinya Ada

Jawab Yesus kepada mereka: “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat  dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” (Lukas 20:34-38)

Jawaban yesus ini jika dibandingkan dengan Injil sinoptik lainnya nampak lebih lembut. Dalam Injil Matius jawaban Yesus dimulai dengan kata-kata yang cukup keras, “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah (Matius 22:30)….” Tuhan Yesus memberi kesan kepada pendengarnya bahwa pemikiran orang saduki sunguh bodoh, tidak masuk akal, tidak manusiawi dan juga tidak ilahi.

Pertanyaan orang Saduki, entah ilustrasi yang digunakan maupun hal yang diimplisitkannya sungguh tidak pantas. Pemikiran mereka didasari oleh sikap angkuh dan merasa diri paling benar dan berkuasa di alam ini. Kita akan menelisik lebih jauh dan menggali makna yang tersirat dan mendasar dari jawaban Yesus terhadap pertanyaan tentang kebangkitan orang-orang Saduki ini. Pertanyaan mereka yang menggunakan ilustrasi istri yang menjadi hak milik bahkan sampai setelah mati ini dijawab dengan jelas dan tegas oleh Tuhan Yesus. Dalam permenungan saya, ada dua jawaban yang mendasar yang Tuhan Yesus berikan melalui jawaban dari pertanyaan atas ketidakpercayaan akan kebangkitan ini.

Jawaban yang pertama dari Yesus pada hakikatnya merujuk kepada kritik atas perlakuan yang tidak adil kepada kaum perempuan. Gambaran perempuan dalam ilustrasi orang saduki nampak sangat rendah. Perempuan seperti tidak punya pilihan untuk hidupnya sendiri. Kebebasan dasar untuk memilih pasangan hidup sendiri ditiadakan oleh kaum patriarki radikal. Sangat tidak adil seandainya perempuan itu sebenarnya hanya mencintai suami pertamanya tetapi harus mengikuti tuntutan adat yang mengharuskannya memberi keturunan dengan cara yang hanya dibuat nampak benar oleh budaya patriarki.

Lebih kejam lagi perlakuan yang tidak adil terhadap kaum perempuan ini bahkan dipikirkan atau diberlakukan oleh orang saduki hingga kehidupan setelah kebangkitan. “Bodoh dan sombong” bisa disematkan untuk orang yang memiliki pemikiran seperti ini. Jelas juga bahwa kesombong mengalahkan rasa hormat kepada sesama, terlebih khusus untuk kaum perempuan. Tentu lelucon yang tidak lucu apabila kita selalu memandang rendah kaum perempuan bahkan setelah kematian dan kebangkitan.

Tuhan Yesus menginginkan kesetaraan dan penghormatan terhadap kaum perempuan sebagai manusia. Perempuan seharusnya bebas menentukan pilihannya, tidak tertindih oleh beban budaya yang mengharuskannya melayani kaum laki-laki seperti budak. Perempuan bukanlah hak milik kaum laki-laki melainkan anugerah Tuhan sebagai dan gambaran diri yang lain yang pantas dihargai dan dicintai.

Kebangkitan itu benar-benar ada sebab “Allah bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup” (Lukas 20:38). Salah satu keyakinan akan keberadaan dalam kebangkitan digambarkan sebagai hadir di hadapan Allah dan melihat Allah secara kasat mata. Orang akan mampu melihat Allah Yang Maha Kudus dan merasakan kehadiran-Nya tanpa terhalang oleh dosa. Perikop lain dalam Ijil menceritakan tentang Sabda bahagia Tuhan Yesus yang salah satunya menjelaskan, “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah.”

Kebangkitan menyatakan bahwa hidup di dunia ini ada tujuannya. Kebangkitan itu “seharusnya ada” karena kebangkitan memberi kesempatan kepada manusia untuk hidup bersama dengan Sang Pencipta Yang Maha Kudus, Sempurna, dan Abadi. Telah dikatakan hidup di hadapan Allah dan melihatnya digambarkan sebagai kehidupan orang yang suci hatinya. Ini tentu dapat dibenarkan apabila kita memahami bahwa Kekudusan Allah pasti menyucikan hati kita dan kesempurnaan Allah merasuki kita juga keabadian-Nya.

Tentang kebangkitan dalam sejarah hidup orang Israel sebenarnya telah dinyatakan oleh Allah. Kebangkitan itu bisa ditelisik dalam pewahyuan Allah terhadap bapa-bapa bangsa Isreal, Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Zaman setelah Yesus seharusnya lebih tidak ragu lagi tentang kebenaran kebangkitan. Bukti dari kebangkitan itu telah ditunjukan oleh Yesus sendiri, yang benar-benar bangkit dan terangkat ke Surga.

Sikap skeptis dan pertanyaan tentang kebenaran kebangkitan selalu muncul dalam sejarah kehidupan manusia. Tanggapan setiap Pribadi berbeda tergantung pada optimisme dan pesimisme seseorang. Orang katolik tentu meyakini bahwa ada kehidupan setelah kematian di dunia ini. Dasar dari orang Katolik ialah Iman. Orang pun boleh saja berbeda pendapat tetapi untuk orang pesimis pasti senang dengan argumen berikut: “Kalau kebangkitan ada tentu kita diuntungkan, sebaliknya kalau tidak ada kita juga tidak dirugikan. Intinya kita punya investasi lebih.” Akan tetapi, percaya juga harus didukung dengan sikap sebagaimana seharusnya orang yang percaya bersikap.

Fr. Sepis, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *