Kepenuhan Hidup dari Doa

Kepenuhan Hidup dari Doa

Ketika saya di tahun kedua di seminari, ada satu buku bacaan rohani yang menjadi bacaan wajib. Buku itu berjudul ‘Berdoa Tak Kunjung Putus: Kisah Seorang Peziarah’. Kisah di buku ini membuat saya tertarik untuk membacanya sampai selesai. Dalam buku ini, dikisahkan seorang peziarah yang lumpuh sebelah tangannya tertarik dengan ayat dalam Injil hari ini; “Berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk. 18:1).” Ia juga menemukan ayat lain dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus; “Berdoalah Setiap Waktu Dalam Roh” (Ef. 6: 18)” Rasa penasaran timbul di hatinya; apakah mungkin kita berdoa sepanjang hari, di setiap waktu, meskipun kita sedang melakukan aktivitas tertentu?

Ia menemukan seorang Rahib yang mengajarkannya Doa Yesus; doa di mana kita mengucapkan ‘Tuhan Yesus, kasihanilah kami’ (Kyrie eleison) secara berulang-ulang. Pada hari pertama Rahib mengajak Peziarah tersebut mengucapkan doa itu sebanyak 3000 kali, kemudian 6000 kali pada hari berikutnya dan terakhir 12.000 kali. Setelah berhasil mengucapkan Doa Yesus itu sebanyak 12.000 kali, ia merasakan bahwa kata-kata yang ia doakan merasuk dalam hatinya. Bahkan Peziarah itu bersaksi bahwa dalam mimpinya ia juga mendoakan doa Yesus itu. Sampai di sini, saya sebagai pembaca juga bertanya-tanya; “Apakah ketika saya mendoakan suatu doa berulang-ulang sebegitu banyaknya, saya nantinya doa tersebut hanya akan keluar dari mulut saja?”

Saya melanjutkan membaca kisah Peziarah tersebut. Setelah Rahib itu wafat, ia melanjutkan perjalannya. Kisah-kisah selanjutnya adalah bagaimana Peziarah tersebut merasakan doa Yesus yang selalu ia doakan meresap dalam hati dan memberikan makna dalam hidupnya. Makna ini terutama ia dapatkan ketika ia mendampingi orang-orang yang haus akan nilai rohani. Ia mengajari mereka cara berdoa, membacakan ajaran Gereja, dan membagikan kisah hidupnya. Melalui pendampingan ini, ia membagikan kasih Kristus kepada orang-orang yang ia temui.

Saya ingin membagikan refleksi saya mengenai sisi doa sebagai cara kita beriman kepada Allah. Kisah Seorang Peziarah ini menyadarkan saya bahwa doa bukanlah pertama-tama cara kita menyampaikan ‘laporan’ kepada Tuhan, melainkan cara kita berdialog. Dalam dialog ada timbal balik antara dua orang. Pertama, kita berdoa dengan sederhana dan mendalam. Kemudian, ada balasan dari Tuhan. Terkadang kita menganggap bahwa Tuhan baru membalas doa saya ketika harapan saya atau kebutuhan saya terpenuhi.

Bacaan Injil pada hari Minggu ini memberikan saya inspirasi bahwa dampak dari doa-doa kita adalah kita mampu memberikan berkat bagi orang lain. Peziarah tersebut tidak meminta sesuatu yang muluk, hanya ‘belas kasihan’, tetapi Tuhan memberikan kepadanya rahmat untuk menjadi berkat bagi orang lain. Ia memberikan pendalaman rohani kepada orang-orang yang ia temui. Sebagai Peziarah, ia tidak memiliki apa-apa, namun di sisi lain ia memiliki lebih banyak nilai hidup dibandingkan orang-orang yang ia temui, yang terkadang hidup dalam kelimpahan.

Oleh karena itu, kebaikan yang kita lakukan adalah rahmat yang diberikan oleh Allah karena kita setia untuk tetap berpaut dan mengandalkan-Nya. Apabila kita merasa hidup kita kosong, tidak memiliki pengaruh bagi orang lain, mungkin itu karena kita tidak banyak berdoa. Hidup bersama Allah saja kosong, apalagi hidup dengan sesama? Kepenuhan hidup kita berada bersama Allah dan berdoa tidak jemu-jemu merupakan salah satu dasar bagi kita untuk mencapai kepenuhan yang penuh makna itu.

Fr. Fidesto SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *