ALLAH TRITUNGGAL

ALLAH TRITUNGGAL

©arifinpatritius, sx

“Jika Allah dapat dijelaskan, itu bukan Allah”

Doktrin atau ajaran Gereja tentang Allah Tritunggal merupakan hal sentral atau inti iman Katolik. Seseorang yang masuk dalam Gereja Katolik akan dibaptis dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus (bdk. Mat 28:19). Konsili Vatikan II bahkan memaknai Gereja sebagai “Umat yang disatukan berdasarkan kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus”, (LG 4).

Tradisi Gereja Katolik telah mengulas tema tentang Trinitas sejak dirumuskannya syahadat iman pada Konsili Ekumenis pertama di Nicea (325) melawan bidah Arianisme. Konsili ini menegaskan bahwa Yesus ialah sejajar dengan Bapa dan Roh Kudus, jadi dalam diri Allah yang satu itu sekaligus juga Bapa, Putera dan Roh Kudus. Pertanyaan yang langsung muncul disini ialah bagaimana mungkin ‘satu’ sekaligus ‘tiga’? Bukankah itu melawan logika? Apakah kita monoteis atau politeis? Bagaimana kita memahami Allah yang ‘satu’ sekaligus ‘tiga’ itu?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah hal baru dalam tradisi teologis akademik Gereja. Para bapa Gereja telah berusaha sebisa mungkin merumuskan Allah Trinitas ini dan setiap penjelasan selalu saja terasa tidak cukup mewakili apa sebenarnya Allah Tritunggal itu sebagaimana diungkapkan St. Agustinus dalam “The Trinity” . Pertanyaan berikutnya ialah apakah kita bisa memahami Allah? Poin-poin penting ini akan menjadi isi paper ini.

1. Prakondisi: Keterbatasan Manusia dan ketakterbatasan Allah
Pertanyaan yang hendak diajukan disini ialah apakah kita bisa mengetahui Allah? Jawaban lugasnya ialah “tidak!” Kita tidak dapat mengetahui Allah sebagaimana Ia persisnya ada. Allah tidak bisa disepertiapakan dengan cara apapun. Inilah kendala kita dalam membicarakan Allah, yaitu keterbatasan manusia dan ketakterbatasan Allah. Akan tetapi, meskipun sesuatu yang terbatas tidak bisa memahami yang tak terbatas, tetapi yang tak terbatas bisa memahami yang terbatas. Oleh karena itu, hubungan keduanya hanya mungkin atas prakarsa yang tak terbatas itu dengan memasuki wilayah yang terbatas itu. Dengan kata lain, hanya Allah sendirilah yang membuat dirinya mungkin dikenal dengan menjadi terbatas seperti manusia.

Dengan demikian, pengenalan akan Allah masih mungkin meski tidak bisa seluruhnya sebab manusia masih terikat dengan keterbatasannya. Pengenalan yang sesungguhnya akan Allah hanya akan terjadi setelah manusia mati sebagaimana St Paulus berkata, “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”, (1 Yoh 3:2).
Lalu, pertanyaan berikut ialah bagaimanakah status teologi? Teologi (theos:Allah, logos: wacana, kata) atau pembicaraan tentang Allah merupakan upaya manusia membahasakan Allah dengan kesadaran penuh akan keterbatasannya sebagai makhluk historis (mewaktu dan menempati ruang). Dalam hal ini, kita tetap mengandalkan akal budi sebagai sesuatu yang menghubungkan kita dengan realitas non fisik atau realitas-realitas ilahi sebagaimana slogan terkenal dari st. Anselmus Canterbury Fides Quaerenz intellectum. St. Agustinus juga mengatakan bahwa melalui akal budi, Allah memberi penerangan untuk menuntun kita agar dapat mengenalnya. Penerangan ini dikenal dengan istilah illuminatio (ing: to illuminate).

Itulah sebabnya kita bisa sedikit memahami (mendefinisikan) Allah dengan menyebutnya Pencipta, Bapa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, yang Maha Esa, dll. Akan tetapi, segala atribut yang dikenakan kepada Allah tersebut tentu saja tidak sama dengan Allah pada dirinya sendiri. Allah pada dirinya sendiri tidak bisa disepertiapakan. Allah tidak tertampung dalam konsep. Dengan demikian, atribut yang kita kenakan pada Allah tersebut statusnya hanya merupakan yang paling mendekati sejauh kita bisa. Sebagai contoh misalanya ketika Anda hendak menggambarkan setan pada seorang anak kecil. Hal pertama yang muncul dalam kepala anda ialah bagaimana caranya agar setan tersebut bisa dipahami si anak dalam keterbatasan pengetahuannya. Maka anda menggambarkannya misalnya bahwa setan itu punya gigi panjang, rambut sampai di mata kaki, dll sehingga si anak dapat mengerti. Tentu saja gambaran seperti itu tidak sama dengan setan yang sesungguhnya.

Ilustrasi ini mau mengatakan bahwa kata atau bahasa selalu terbatas dan tidak pernah sungguh-sungguh mewakili apa yang sebenarnya menjadi maksud kita. Di sini menjadi jelas bahwa pembicaraan tentang Allah tidak sama dengan Allah sendiri. Oleh karena itu, pertanyaan mengenai bagaimana mungkin satu sekaligus banyak (Tritunggal) menjadi tidak relevan. Demikian juga jika kita bertanya bagaimana mungkin Allah yang adalah Bapa melahirkan Putera? Apa laki-laki bisa melahirkan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak mutu. Jawabannya sederhana, yaitu memangnya Anda tahu apa arti satu atau tiga pada Allah? Siapa yang sungguh mengenal Allah? ‘Satu’ atau ‘tiga’ tidak boleh diartikan seperti satu potong roti atau tiga buah pisang. Ingat, kata-kata yang kita gunakan untuk menggambarkan Allah selalu kurang dari yang sebenarnya kita maksudkan. Maka relasi Bapa-Putera tentu saja tidak seremeh hubungan biologis yang kita pikirkan.

2. Metode Teologi Trinitas (Via Negativa dan Via Positiva)
Bertitik pangkal pada persoalan tersebut, kita mengenal dua jalan untuk membicarakan Allah atau metode teologi Trinitas, yaitu jalan positif dan jalan negatif (via positiva dan via negativa).

a. Jalan Negatif (Via negativa)
Jalan negatif (Yun: apopasis) menekankan keterbatasan manusia memahami Allah yang tak terbatas. Tuhan pada dirinya adalah misteri. Ringkasnya, menurut jalan negatif ini, Allah harus dijauhkan dari segala macam hal yang bersifat terbatas dan yang hanya merupakan sifat khas ada-ada yang terbatas. Allah tidak bisa didefinisikan seperti apa. Allah ialah yang bukan apa yang kita pikirkan dia. Kita hanya dapat menyebut yang bukan dia. Begitu misalnya kategori sifat seperti baik, pengasih, dll., harus dinegasi jika diterapkan pada Allah. “Baik” yang kita maksud tidak berlaku linear terhadap Allah. Via negativa pada intinya mau mengatakan bahwa tentang Tuhan kita tidak bisa mengatakan apa-apa. Akan tetapi hal ini bukan berari via negativa menolak penalaran tentang Allah. Yang hendak dimaksudkan di sini ialah bahwa Allah melampaui apa pun yang kita dapat pikir atau katakan tentang dia. “Via negativa leads not into absence or nothingness, but to the presence of God who surpasses thought and words and even the desire for God.”

b. Jalan Positif (Via Positiva)
Jika sebelumnya via negativa menolak definisi Allah secara positif, sebaliknya via positiva hendak merumuskan apa yang kita maksudkan dengan Allah. Para teolog abad pertengahan misalnya menggambarkan Allah sebagai yang tak terbatas (infinitum). Anselmus dari Canterbury mendefinisikan Allah sebagai ‘id quo maius cogitari nequit’ (sesuatu yang lebih besar dari padanya tidak dapat dipikirkan) dan sekaligus sesuatu yang lebih besar dari apa yang dapat kita pikirkan. Jika kita melihat kedua jalan ini, perbedaanya lebih banyak terletak pada redaksi kalimat positif dan negatif, yaitu “bukan yang” dan “yang bukan”, sedangkan maksudnya tetap sama yaitu bahwa Allah melampaui semua yang dapat kita pikirkan dia. Perlu diketahui bahwa ketakterbatasan ini, sebagaimana Dun Scotus, bukan merupakan unsur tambahan pada Allah, melainkan eksistensinya.

c. Jalan perumpamaan: Jalan Yesus
Cara lain untuk membicarakan Allah ialah lewat bahasa perumpamaan sebagaimana Yesus sendiri melakukannya. Yesus sadar betul bahwa Allah tidak bisa didefinisikan secara persis sebagaimana adanya. Allah hanya bisa diumpamakan. Perumpamaan merupakan suatu usaha membandingkan sesuatu dengan hal lain yang mirip tetapi tidak sama. Kekhasan perumpamaan ialah bahwa ia berusaha menyatakan suatu maksud tertentu tetapi sekaligus memberi jarak padanya. Itulah yang dilakukan Yesus.

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya”.” (Mat. 13:31).

“Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” (Mat. 13:33).

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu,” (Mat 13:44).

3. Jejak Biblis Allah Trinitas
3.1 Keesaan Allah
Ciri utama Allah dalam kitab suci perjanjian lama ialah kemahaesaanNya. Esa berarti kekuasaan Allah tak terbatas dan bahwa Ia adalah satu-satunya Allah. Inilah ciri atau hakekat Allah sebagai infinitum. Allah Maha Esa juga karena ia adalah satu-satunya Allah, tiada yang lain. Jika ada lebih dari satu Allah, keduanya saling membatasi, maka tak satupun dari keduanya benar-benar Esa. Dalam perjanjian lama (PL), Allah dipisahkan dari ilah-ilah atau dewa-dewi lain. “Dengarlah, hai orang Israel TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” (Ul. 6:4).

3.2 Allah Trinitas sejak semula ada
Jejak biblis ajaran Tritunggal Mahakudus tersirat pada Kitab Kejadian 1:1-3
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.”
Ayat-ayat ini menyatakan hakikat Allah yang Tritunggal itu: Allah (Bapa), Roh Allah (Roh Kudus), dan Firman Allah (Yesus) muncul sebagai satu kesatuan. “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yoh. 1:1).
Dalam Kitab Kejadian 1:26 tertulis demikian, “…Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi…” Di sini dijelaskan dengan terang bahwa sudah sejak semula Allah menunjukkan diriNya sebagai kesatuan komuniter (Kasih). Allah, Roh yang melayang-layang, firman yang bersama-sama dengan Bapa, ketiganya satu sejak semula. Ayat-ayat lain misalnya (Yohanes 14:9) “Barangsiapa melihat Aku, ia telah melihat Bapa”, lalu (Yohanes 10:30) “Aku dan Bapa adalah satu.” Semua ini menunjukkan kesatuan ketiga diri Kudus itu.

4. Kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus: Relasi Kasih (Ycat. 33)
Kemahaesaan Allah merupakan ciri utama atau eksistensi Allah. Itu berarti Allah adalah satu dan tiada yang lain. Gereja katolik berciri monoteis. Lalu bagaimana menggambarkan relasi ‘tiga’ dalam ‘satu’ (Trinitas)? Satu kunci bagi pengertian Ketritunggalan Allah terdapat dalam surat pertama Yohanes: “Allah adalah Kasih” (1Yoh. 4:8). Kasih itu relasional, komuniter dan tidak mungkin berada dalam kesendirian. Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus bersatu tetapi mempunyai keunikan masing-masing dalam hubungan dengan yang lain. Relasi itu sungguh mendalam yang disebut relasi cinta. Kesatuan cinta itu sedemikian dalam sehingga ketiga diri kudus menjadi satu sekaligus unik terhadap yang lain.
Cinta yang dimaksud di sini tidak sama dengan pengertian Anda mengenai cinta monyet, (Aku cinta si A, B, C), tetapi suatu cinta taraf ilahi, cinta yang semurni-murninya, setotal-totalnya yang tak akan pernah terwujud sepenuhnya dalam hidup manusia. Dalam relasi itu, terjadi kesatuan total yang mesra dan mendalam, perasaan, pengertian, semua satu tanpa melebur dan menghilangkan keunikan masing-masing.

Inilah alasan mendasar “Kasih” menjadi ajaran inti iman kristiani sebab Allah sendiri adalah kasih. Kasih berarti berbagi atau membagi diri. Karena itu relasi tiga diri kudus bukan 1+1+1=3, melainkan 1:1:1=1. Itulah relasi kasih. Sebagaimana Allah, konsekuensi dari hubungan kita dengaNya ialah kasih itu sendiri. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi,” (Yoh. 13:35).

Sebagaimana juga dalam Matius 22:35-38 “Dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.”

 

5. Penutup: Tritunggal dan agama-agama Lain
Menyadari sulitnya memahami keesaan Allah yang Triniter itu, mungkin muncul pertanyaan “mengapa Gereja Katolik tetap mempertahankan doktrin ini?” Sebagaimana telah disinggung pada bagian pengantar, doktin mengenai Trinitas bukan tanpa pertentangan. Pada abad-abad pertama, banyak aliran atau pemikir Gereja yang menentang kesatuan Allah dengan Yesus dan Roh Kudus. Yang satu menekankan ke-allah-annya saja, yang lain sebaliknya lebih mementingkan sisi manusiawinya. Beberapa diantaranya ialah Manikheisme dan Arianisme.

Manikeisme menolak ajaran Gereja mengenai Roh penghibur. Mani mengatakan bahwa Roh penghibur ialah Mani sendiri. Selain Manikheisme kita mengenal Arianisme yang menolak ajaran Gereja mengenai kesetaraan atau kesatuan tak terpisahkan antara Bapa dan Putera. Inti ide Arius ialah bahwa Bapa mestinya ada lebih dahulu dari pada Putera dan oleh karena itu, Putera muncul dari Bapa. Putera dilihat sebagai ciptaan pertama dan satu-satunya yang langsung diciptakan oleh tangan Bapa sendiri, sedangkan ciptaan lain dating dari Putera. Menurut Arius, ada saat dimana Bapa seorang diri saja, atau ada saat di mana Putera tidak ada. Putera dengan demikian tidak kekal. Jadi terdapat semacam subordinasi atau hierarki kekuasaan dalam diri allah.

Ajaran Arius ini mendesak Gereja untuk memikirkan secara serius ajaran mengenai Allah Tritunggal. Begitulah dibuat Konsili Ekumenis pertaman dibawah prakarsa Kaisar Konstantinus I di Nicea pada tahun 325 M yang dikenal dengan nama Konsili Nicea. Konsili ini memutuskan bahwa baik Bapa maupun Putra senantiasa ada bersama-sama, setara dan sehakikat (konsubstansial). Argumen yang menentang pandangan Arian tersebut karenanya menyatakan bahwa Firman “diperanakkan dalam kekekalan”, sehingga tanpa awal mula. Mereka yang menentang Arius ini menegaskan bahwa pandangan Arius bertentangan dengan kata-kata dalam Kitab Suci seperti “Aku dan Bapa adalah satu” dan “Firman itu adalah Allah”.
Demikianlah dirumuskan Credo atau pengakuan iman kristiani sebagai hasil Konsili tersebut demikian:

Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan; dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang tunggal. Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa; segala sesuatu dijadikan oleh-Nya. Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita. Ia dikandung dari Roh Kudus, Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia. Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus; Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan. Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci. Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa. Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati; kerajaan-Nya takkan berakhir. aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putra, yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para nabi. aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. aku menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di akhirat. amin.

Bagi umat beragama lain, hal seperti ini bisa saja tidak bisa diterima, tidak masuk akal, dll. Hal itu wajar selain karena memang Allah adalah misteri yang terlampau besar untuk dipahami, tetapi juga bisa jadi karena mereka sedemikian penuh dengan kepercayaan mereka sendiri sehingga tidak ada tempat bagi kemungkinan lain mengenai Allah. Akan tetapi, bagi umat Kristen, hal ini bukan spekulasi dari ruang kosong. Ajaran tentang Allah Tritunggal ada dalam Kitab Suci dan juga dialami sebagai pengalaman nyata oleh umat beriman. Yesus secara personal dialami sebagai Allah oleh Petrus (Luk. 9:20), dan Roh Kudus juga demikian. Roh kudus yang dijanjikan Yesus itu nyata dan benar benar hadir dan dialami oleh para murid sebagai penghibur dan penggerak dari dalam yang sulit dibendung. Itulah mengapa Gereja terus berdiri pada pendirian ini. Pengalaman ialah kebenaran yang sulit dibantah. Itulah mengapa iman harus mendahului pengetahuan. Jika kita beriman, kita akan mengerti, bukan sebaliknya sebagaimana diungkapkan oleh St. Agustinus, “Unless you believe, you won’t understand”.

“Jika Anda merasa memahami Allah Tritunggal, Anda tidak memahaminya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *