Renungan Minggu Biasa ke XXVIII

Lukas 17:11-19

Kisah tentang sepuluh orang kusta yang disembuhkan mengingatkan saya pada apa yang telah terjadi dalam kehidupan saya sendiri. Saya pernah berpikir bahwa sembilan dari sepuluh bukan keputusan yang bijaksana. Saya lebih suka memuji dan ingin seperti apa yang dilakukan oleh orang Samaria itu, yang kembali kepada Yesus setelah menerima kesembuhannya. Namun pada kenyataannya hidup saya sendiri jauh dari apa yang dilakukan oleh dia yang kembali kepada Yesus. Saya memahami bahwa kisah orang kusta dalam Injil kali ini bukan untuk menunjukkan bahwa tindakan ini yang baik dan yang itu salah, tetapi Yesus mengajak saya untuk melihat diri saya ada di mana dalam kisah ini. Apakah saya adalah seorang yang selalu bersyukur? Tahu terima kasih?

Suatu hari seseorang datang kepada saya meminta dokumen untuk keperluan pengurusan surat domisili. Setelah mengacak-acak semua dokumen, ternyata dokumen yang dibutuhkan itu tidak ada. Apa yang terjadi? Ia mulai mengomel, lalu pergi dengan perasaan tidak puas. Saya akui bahwa saya juga salah karena tidak bisa memberikan solusi yang membantu, tetapi mengapa dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih setelah saya membantunya mencari dokumen itu?

Pengalaman itu membuat saya berpikir apakah ungkapan terima kasih itu diucapkan hanya jika kita mendapatkan apa yang kita butuhkan? Apakah sikap tidak peduli karena orang lain ternyata tidak bisa memberikan apa yang kita butuhkan itu sudah tepat?

Bagi saya, rasa terima kasih itu diungkapkan sebagai penghargaan atas usaha orang lain. Orang yang tadi pergi tanpa mengucapkan terima kasih, kecuali omelannya, membuat saya merasa tidak berguna karena tidak bisa membantu orang lain. Tetapi apakah dia menyadarinya? Iya, hanya saja lebih memilih untuk bersikap bodoh amat. Dan sikap itu ternyata tidak baik bagi orang lain. Saya sendiri merasakannya.

Sekarang, apakah saya pernah melakukan itu kepada orang lain juga? Iya, bahkan bukan hanya ‘pernah’, tapi ‘sering’. Saya sering lupa mengucapkan terima kasih kepada teman yang membangunkan saya setiap pagi karena terlambat bangun, kepada teman yang membantu saya saat membersihkan rumah, kepada teman yang mengingatkan saya karena lupa mematikan lampu atau AC atau lupa menutup pintu atau lupa mengerjakan tugas, kepada teman yang memerhatikan saya, dan masih banyak lagi. Hal-hal seperti itu saja sering dilupakan, apalagi kalau orang lain tidak mampu memenuhi apa yang saya butuhkan. Misalnya ketika saya minta tolong sesuatu tetapi orang lain tidak bisa, seringkali lupa mengatakan, “Oh ga bisa, iya udah, ga apa-apa, makasih ya”, itu sulit sekali, seolah-olah harus dibantu dulu baru berterimakasih.

Dalam renungan ini saya mau mengatakan bahwa satu orang yang kembali kepada Yesus itu adalah tanda bahwa sedikit sekali orang yang mau berterimakasih, seperti saya. Dengan demikian, jangan sampai  hanya 1 dari 10 orang yang ditolong yang tahu berterimakasih.

Yesus memuji satu orang yang kembali, tetapi Dia juga tidak menghakimi yang sembilan, justru Yesus menanyakan, “Di manakah yang sembilan orang itu?”(Luk. 17:17). Seperti yang dikatakan Santo Paulus, “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.(2Tim 2:8-13). Yesus selalu menunggu kita untuk datang pada-Nya setiap waktu dalam untung dan malang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *