Hilangkan Kesombongan; Tanamkan sikap Kerendahan Hati menuju Persahabatan Sejati

Hilangkan Kesombongan; Tanamkan sikap Kerendahan Hati menuju Persahabatan Sejati

 Saya pernah terlibat dalam suatu karya karitatif di suatu komunitas di mana saya semakin menyadari bahwa pentingnya makna persahabatan dalam membangun Kerajaan Allah. Rumah Persahabatan, tempat di mana saya bersama sekelompok orang kaya yang murah hati berkumpul bersama mereka yang miskin, terpinggirkan, dan menderita, merupakan sebuah istana Kerajaan Allah. Kegiatan ini biasa dilakukan setiap hari minggu. Kami melayani mereka dengan berbagi cerita, bermain, bernyanyi, hingga makan malam bersama. Dengan persahabatan, saya mulai terbuka kepada realitas hidup yang tampak sangat kontras terutama di Jakarta dan semakin bersikap rendah hati dalam menerima sesama yang berbeda.

Zaman now, terdapat sekelompok orang mempunyai rumah mewah di perumahan dengan jangkauan pemandangan ke gunung, pantai, taman indah, ataupun pernak-pernik hiasan tetumbuhan yang mahal harganya. Sementara di kolong jembatan, kolong jalan layang, maupun sudut-sudut kota, rumah kumuh atau hunian liar dapat memusingkan kepala bagi pengelola kebersihan kota atau pejabat pemerintahan untuk “mengusirnya”. Kelimpahan dan kekurangan ada di sekitar kita sebagai realita kehidupan.

Bagaimana kita bertindak supaya kita mempunyai hati bagi Lazarus-lazarus miskin, dan orang-orang kaya mempunyai hati untuk berbagi dengan segala kelimpahan harta yang ada? Kita harus menghilangkan kesombongan seperti orang kaya dalam bacaan Injil hari ini. Kita harus bersikap rendah hati dan semakin menyadari bahwa  “kasih Kristus menguasai kita” (2 Kor 5:14). Surat kedua Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus tersebut mendesak kita untuk menyadari bahwa kasih  Kristuslah yang memenuhi hati kita dan mendorong kita untuk berevangelisasi. Kita di ajak untuk semakin rendah hati untuk menyadari bahwa yang kita miliki adalah rahmat dari Allah. Sekarang ini, seperti juga dulu, Kristus mengutus kita ke lorong-lorong dunia ini untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa di bumi.

Zaman now, dirasa adanya kebutuhan akan komitmen Gereja yang lebih kuat bagi suatu evangelisasi baru agar orang menemukan kembali sukacita dalam percaya dan kegairahan dalam mengkomunikasikan iman itu. Kita menjadi sahabat dan mengulurkan bantuan, cara, dan kemungkinan untuk bertahan hidup bagi mereka yang miskin, tersingkir, dan menderita. Semoga ada kesadaran bahwa harta yang kita miliki adalah rahmat dari Allah dan kita harus bermurah hati kepada sesama yang membutuhkan bantuan. Dengan demikian terciptalah persahabatan yang sejati dalam Kerajaan Allah di muka bumi ini.

Fr. Fariz, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *