God Without Being: Tak ada Tuhan dalam Kuburan Nietzsche

God Without Being: Tak ada Tuhan dalam Kuburan Nietzsche

Oleh: Patris Arifin, sx

 

  1. Modernitas dan Kelupaan akan ‘Ada’

Sebagaimana kita tahu, kekalahan besar Modernitas yang dikritik oleh para filsuf kontemporer ialah suatu cara berpikir yang totaliter. Martin Heidegger misalnya mengkritik filsafat Barat sebagai onto-theo-logis. Ia menuduh filsuf seperti Platon dan Aristoteles sebagai orang yang bertanggung jawab akan kesalahpahaman umum tentang ‘Ada’ yang mewarnai seluruh filsafat Barat. Konsep “idea” Platon dan “substansi” Aristoteles menurut Heidegger telah mereduksi ‘Ada’ sebagai sekadar suatu realitas tertinggi, yang bersifat ilahi, dan juga rasional. Cara berpikir seperti ini, menurut Heidegger, keliru sebab menekan ‘Ada’ pada batas-batas rasionalitas manusia. Objek dengan demikian hanya merupakan tangkapan Subjek. Inilah yang ia sebut sebagai ‘kelupaan akan Ada’. Dalam fenomenologi, ekstrem ini disebut psikologisme, yaitu dominasi Subjek atas Objek (Objek dalam penguasaan Subjek).

Menurut Heidegger, rasionalitas manusia itu terbatas. Oleh karena itu apa yang dicapai rasio hanya bersifat representatif dan tidak pernah identik dengan ‘Ada’ yang sesungguhnya. ‘Ada’ tidak disingkap oleh pemikiran, ia mengungkapkan diri. Sebaliknya, pola pikir yang mentotalisasi semacam itu justru mengasingkan Subjek dari Objek.

 

  1.                 2.

 

Yang dimaksud dengan cara berpikir totaliter ialah demikian. Misalnya Anda bertanya apa itu gelas? Pertanyaan ini menghendaki sebuah jawaban yang definitif mengenai hal fundamental yang mendeterminasi gelas dari yang bukan gelas. Apa yang membedakan gelas dari piring misalnya (whatness, atau beingness-nya). Jawabannya tentu saja tidak lagi mengenai aspek fisik (sensibility), misalnya soal bahan, ukuran, dll. Pada level fisik, gelas bisa saja mempunyai unsur yang sama dengan piring. Itu berarti bahwa aspek fisik tidak memberi kejelasan atau tidak begitu mewakili apa yang dimaksud dengan gelas tersebut. Oleh karena itu Anda menemukan bahwa unsur paling fundamental yang mendeterminasi gelas dari realitas lain ialah ‘ke-gelas-annya’. ‘Ke-gelas-an’ ini merupakan aspek metafisik dari gelas, suprasensibel.[1] Nah, di sini, rasio mentotalisasi seluruh aspek gelas pada satu ide, yaitu ide ke-gelas-an. Jadi gelas ialah ‘ke-gelas-an’ itu sendiri yang merupakan realitas pertama sekaligus paling mendasar dari gelas tersebut.

Filsafat Barat, menurut Heidegger, melihat aspek metafisik (idea/substansi) ini sebagai realitas yang sesungguhnya (Being of beings). Menurut Heidegger, hal itu keliru. Baginya, bahkan aspek metafisik seperti itu hanya merupakan sisi tertampak dari ‘Being/Ada’ yang masih berada dalam penguasaan Subjek/rasionalitas. Contoh, ketika Anda melihat gunung misalnya, Anda lalu mulai mencoba mengartikan apa yang sedang Anda lihat itu (gunung yang menampak itu). Nah, usaha Anda untuk memahami gunung itu merupakan upaya perasionalisasian, upaya memasukkan objek dalam prinsip-prinsip rasio. Bagi Heidegger, upaya perasionalisasian ini mereduksi objek pada batas-batas rasionalitas. Jadi gunung yang Anda pahami sesungguhnya hanya merupakan tangkapan Anda, (lih. gambar I). Hal ini tentu berbeda dari gunung pada dirinya yang masih tersembunyi (lolos dari penguasaan subjek). Dalam bahasa Heidegger, ketersingkapan[2] itu hanya merupakan pengurangan dari seluruh ketersembunyiannya ‘Ada’, bukan ‘Ada’ itu sendiri. ‘Ada’ tidak tertampung dalam kategori rasional, maka pendekatannya tidak secara kalkulatif (das rechnende Denken), melainkan secara meditatif (das andenkende Denken).[3] Cara berpikir yang kalkulatif/rasional ini justru melupakan “Ada” (forgeting of Being).

 

  1. Dominasi Subjek Modern

Ciri utama Modernitas ialah menguatnya Subjektivitas. Hal ini dapat kita temukan dalam karya Descartes dengan cogito ergo sum-nya, lalu pada Sartre, Kant, dll. Masyarakat modern percaya bahwa subjek rasional bisa menjawab tuntas persoalan manusia. Demikian, subjek menjadi pusat. Penekanan pada rasionalitas ini menuntut bahwa realitas selalu rasional, masuk akal dan terpahami. Demikian manusia mentotalisasi realitas hanya pada kategori-kategori rasional. Keterpahaman realitas membuat manusia bisa menguasai sekaligus mengendalikannya. Dengan memahami hukum alam misalnya, manusia bisa mengkalkulasi, memanipulasi atau mengotak atik alam seenak perut. Manusia menjadikan dirinya Subjek dan alam sebagai Objek untuk kepentingannya. Ia menjadi juru kendali. Ia sepenuhnya menguasai Objek.

Akan tetapi, mentotalisasi berarti juga mereduksi. Kecenderungan Modernitas mereduksi realitas hanya pada unsur rasionalitasnya jelas mengebiri realitas yang sesungguhnya begitu kompleks. Inilah wajah dingin modernitas, suatu pola pikir yang menimbulkan kepincangan, suatu penunggalan atau cita-cita penyeragaman yang mengandung kekerasan.

Dampak penunggalan ini bisa kita lihat pada masyarakat industri misalnya. Modernitas yang mengunggulkan efisiensi dan efektivitas menciptakan sistem-sistem dan struktur-struktur baru seperti mekanisasi, otomatisasi, standarisasi, dll., dan diberlakukan secara umum.  Akibatnya manusia justru kemudian harus menyesuaikan diri (cocok-atau tidak) dengan sistem yang ia buat. Ia sendiri lalu hanya menjadi satu unsur kecil dari sistem raksasa yang ia ciptakan. Demikian misalnya orang lalu bersekolah mengambil jurusan tertentu tidak lagi sesuai kapasitas yang ada, tetapi sesuai prospek kerja, dll. Semua dipaksa untuk seragam, kompak, dan efektif. Orang dipaksa masuk pada kotak-kotak yang tersedia, yang tidak bisa menyesuaikan diri berarti mati (out of the box, you are nothing). Di sini kelihatan bahwa klaim Modernitas akan superioritas Subjek sebetulnya mitos belaka. Kini, klaim itu menjadi problematis.

 

  1. Melampaui ‘Being’: The Death of The Death of God

Penekanan pada Subjek rasional sangat besar dampaknya. Yang rasional diartikan sebagai yang terukur, terbatas, dan dapat diamati. Lantas, klaim-klaim a-rasional (a-rasional beda dengan irasinal) seperti kepercayaan pada Tuhan, dll., pun dipandang sebelah mata. Semua hal dapat dijelaskan secara rasional. Tak ada penyebab ilahi, semua hal dianggap ada begitu saja secara tertib, manusia pun terlempar begitu saja tanpa awal apalagi tujuan. Inilah yang disebut Nietzsche dengan ‘kematian Tuhan’ kematian ‘sebab/causa’, bahwa Tuhan tidak lagi relevan sebab semua hal dapat dijelaskan tanpa Tuhan. Masyarakat modern hanya dapat menerima hal-hal yang rasional. Modernitas akhirnya, sebagaimana Marcuse, menciptakan manusia satu dimensi (one dimensional man), manusia yang tunduk hanya pada rasionalitas. Ia menutup diri pada kehadiran yang lain, picik dan kejam.

Hidup dalam satu dimensi saja mau tidak mau akhirnya menciptakan kekosongan yang mengerikan. Bagi Horkheimer, situasi ini membuat manusia merindukan sesuatu yang serba lain, (The Other), Adakah yang lain? Benarkah tidak ada yang lain? Apakah Modernitas sedemikian kejam sehingga tak ada lagi cela bagi yang lain? Jean-Luc Marion, seorang Filsuf dan Teolog di Universitas Paris, persis menjawab persoalan ini dalam karya terkenalnya yang berjudul ‘God Without Being’. Dengan ‘God Without Being’, Marion membuka diskusi baru mengenai realitas non ‘Being’. Pertama, ia menjelaskan bahwa ‘God Without Being’ tidak sama dengan ‘tidak ada Tuhan’ atau ‘Tuhan tidak eksis’, melainkan bahwa Tuhan melampaui ‘Being’. Ia bebas dari perkara ‘Ada’, maka ia juga melampaui rasionalitas. Ia lolos dari penguasaan Subjek. Begitu misalnya klaim Nietzsche akan ‘kematian Tuhan’ menurut Marion menunjukkan kesalahan konsep metafisika akan Tuhan yang sebenarnya lolos dari onto-theo-logi. Marion menambahkan bahwa bebasnya Tuhan dari ‘Being’ menandai ‘kematian’ dari ‘kematian Tuhan’ (The death of the death of God) yang diklaim Nietzsche. Allah yang ditolak Nietzsche ialah Allah yang cenderung disamakan dengan konsep ‘penyebab akhir’, ‘Ada pertama’, ‘esse’, dll., sesuatu yang hanya ada di kepala manusia, suatu reduksi saja dari realitas yang sesungguhnya dan dengan demikian sama sekali tidak menyentuh Allah yang melampaui domain ‘Being’ itu.

Lalu bagaimana Allah dikatakan jika ia bukan ‘Ada’? Menurut Marion, Allah hanya bisa dipikirkan secara negatif (katakan saja Teologi negatif). Allah harus dijauhkan dari segala macam hal yang bersifat terbatas dan yang hanya merupakan sifat khas ada-ada yang terbatas. Jadi, Allah adalah apa yang bukan kita pikirkan dia. Lebih jauh, menurut Marion, karena Tuhan bukan domain Being, maka Ia hadir bagi kita dalam dan sebagai pemberian (gift). Tuhan sebagai gift menurut Marion berarti membiarkan Tuhan menjadi diri-Nya, bukan idola (idol of God) atau representasinya. Dalam Fenomenologi, pengungkapan diri Objek inilah yang disebut sebagai ‘saturated phenomenon’ atau ‘revelation’. Tuhan menampakkan diri sebagai Cinta. Realitas Allah (yang lain) itu menurut Marion tidak hanya lain karena bukan aku, tetapi karena sama sekali berbeda. Ia lolos dari ‘Being’. Dalam hal ini, Marion bahkan melampaui Sein-nya Heidegger, God of reason-nya Kant, atau God of morality-nya Nietzsche. Ketiganya masih berkutat dengan perkara ‘Ada’, suatu realitas akhir yang mendasar dan paling tinggi.

Marion dengan demikian mengembalikan fenomenologi pada tujuan dasarnya, yaitu mengembalikan Objek pada dirinya. Di sini dia melampaui Heidegger dan Husserl sebab baik Heidegger maupun Husserl masih menekan Objek pada batas-batas yang ditentukan oleh subjek. Dalam hal ini, Marion membuka kemungkinan baru soal kebenaran yang bukan hanya soal korespondensi, melainkan juga yang melampauinya. Ia melampaui rasionalitas Modern. Dengan demikian, ia sekaligus mengatasi Modernitas dengan dominasi ilmu-ilmu positif yang hanya melihat kebenaran sebagai kalkulasi matematis. Juga superioritas Subjek kini takhluk terhadap Objek yang menampakkan diri.

[1] Lihat gambar! Pada bagian atas dan bawah pada gambar (2) terdapat dua aspek benda, yakni yang sensibel (bawah) dan yang suprasensibel (atas). Menurut filsafat Barat, realitas sesungguhnya dari benda ialah yang suprasensibel itu, yang disebut “Ada” (Beingness-nya).

[2] Ketersingkapan ini merupakan terjemahan Heidegger terhadap term Yunani (a-letheia). Menurut Heidegger, karakter ‘A’ pada kata a-letheia, merupakan A: privativum yang berarti menunjukkan adanya devisit pada kata berikutnya. Misalnya A-moral berarti kurang bermoral. Oleh karena itu, A-letheia berarti kurang tersembunyi atau ketersembunyiannya dikurangi (tidak seluruhnya jelas/terang benderang). Hal ini menegaskan bahwa dalam ketersingkapan itu, masih ada ketersembunyian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *