MENTAWAI PELOPOR SENI TATO TUBUH

MENTAWAI PELOPOR SENI TATO TUBUH

Pengantar

Kepulauan Mentawai terletak di sebelah barat Pulau Sumatera, yang merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Sumatera Barat. Daerah kepulauan ini berjarak sekitar 85-153 km dari kota Padang. Kabupaten ini terdiri dari gugusan pulau-pulau, antara lain Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan, dan 95 pulau kecil lainnya. Penghuninya sekitar 30.000 jiwa. Wisata budaya di kabupaten kepulauan Mentawai memiliki keanekaragaman dan keunikan tersendiri. Keragaman yang ada dapat dilihat dari pakaian tradisional, kesenian, dan tarian adat, serta rumah adatnya yang biasa disebut Uma. Uma merupakan sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat pelaksanaan seluruh upacara adat bagi masyarakat Mentawai.

 

Budaya Tato Tertua

Salah satu budaya yang juga cukup unik di Mentawai adalah budaya tato. Tato dalam bahasa Mentawai disebut Ti’ti’. Budaya tato Mentawai sering disebut sebagai budaya tato tertua di dunia. Orang Mentawai sudah menato badan sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera pada tahun 1500 SM-500 SM. Ada peneliti yang menyatakan bahwa tato Mentawai berhubungan erat dengan budaya Dongson di Vietnam. Nenek moyang orang Mentawai belayar dari Dongson ke Samudera Pasifik dan Selandia Baru. Akibatnya, motif tato serupa ditemui juga pada beberapa suku di Hawai kepulauan Marquesas, suku Rapa Nui di kepulauan Easter serta suku Maori di Selandia Baru.

Masyarakat Mentawai sudah menato badan sejak mereka menginjak usia remaja di mana laki-laki dan perempuan biasanya menjalani upacara inisiasi atau peralihan masa kanak-kanak ke remaja yang biasa disebut dengan Punen Enegat yang dipimpin oleh Sikerei. Sikerei adalah seorang kepala suku sekaligus dukun. Punen Enegat biasanya dilaksanakan di Puturukat yaitu galeri milik Sipatiti. Sipatiti adalah seorang ahli sekaligus pembuat tato di kepulauan Mentawai. Sipatiti bukanlah jabatan berdasarkan pengangkatan masyarakat seperti dukun atau kepala suku, melainkan sebuah profesi khusus laki-laki. Dalam melaksanakan tugasnya, Sipatiti biasanya dibayar dengan satu ekor babi, atau ayam bagi masyarakat yang kurang mampu, atau yang saat ini sudah bisa diganti pembayarannya dengan uang.

Kedudukan tato diatur oleh kepercayaan suku Mentawai, yang disebut Arat Sabulungan. Istilah ini berasal dari kata “sa” (koleksi), dan “bulung” (daun). Kumpulan daun yang disusun dalam sebuah lingkaran yang terbuat dari kelapa atau pucuk pohon sagu, yang diyakini memiliki kekuatan magis yang disebut “Kerei” atau “Ketse”. Ini digunakan sebagai media untuk pemujaan terhadap “Tai Kabagat Koat” (Dewa Laut), “Tai Ka-leleu” (Dewa hutan dan gunung), dan “Tai Ka Manua” (Dewa awan).

Sebelum ditemukannya logam dan jarum besi pembuatan tato di Mentawai mempunyai kemiripan dengan penatoan di daerah Polynesia. Alat pahat terbuat dari cangkang, kerang mutiara, gigi hiu atau tulang binatang. Namun saat ini peralatan tato terdiri dari satu buah jarum yang disebut patiti, sebuah kayu kecil yang halus disebut lilipat, dan batok kelapa. Pewarna yang digunakan adalah campuran daun pisang, arang tempurung kelapa yang kemudian dicampur dengan air tebu. Sebelum ditato tubuh akan disketsa terlebih dahulu sesuai dengan gambar yang diinginkan.

Langkah Pembuatan Tato

Langkah pertama pembuatan tato adalah dengan melumuri terlebih dahulu sebatang lidi dengan jelaga dari asap lampu atau alito. Cara memperoleh jelaga adalah dengan menyulut lampu kemudian di atas lampu ditutup dengan batok kelapa hingga batok bagian dalam berwarna hitam, kemudian mulailah pembuatan sketsanya.

Langkah kedua adalah mencampur jelaga dalam batok kelapa dengan air tebu kemudian dioleskan ke jarum. Lalu, jarum atau patiti mulai dipukul-pukul dengan lilipat pada bagian kulit yang sudah diberi sketsa. Arah jarum mengikuti sketsa tersebut.

Makna dan Fungsi Tato

Tato Mentawai mempunyai beragam makna dan fungsi. Ia memiliki pranata sosial budaya yang meliputi ekonomi, kesehatan, kepercayaan, teknologi, keahlian, hingga sekedar riasan tubuh. Fungsi tato sebagai jati-diri suku mempunyai kedudukan yang paling utama sebab dengan penatoan tertentu pada tubuh akan mengidentifikasikan dan mengkomunikasikan batas wilayah kesukuan atau dapat menjelaskan dari mana seseorang berasal. Di empat daerah—di mana masing-masing suku berada—yakni Simatalu, Silaoinan, Sarereiket, dan Taileleu mempunyai perbedaan motif tato, tetapi di bagian punggung tangan keempat suku-suku tersebut memiliki motif yang sama.

Bagi orang Mentawai, tato juga mengkomunikasikan posisi seseorang dalam masyarakat baik jenis kelamin, usia, maupun jabatan. Misalnya, motif binatang melambangkan keahlian seseorang dalam berburu. Di Sikabaluan, motif binatang merupakan simbol binatang pujaan atau hasil perburuan. Tato perburuan juga mencerminkan sesuatu yang bersifat maskulin, seperti jantan, kuat dan berani. Selain itu juga berkaitan erat dengan unsur kepercayaan untuk memperoleh keselamatan dan kerukunan dalam sebuah keluarga dan masyarakat. Begitupun dengan Sikerei, jabatan ini akan terlihat pada motif bintang atau matahari di bagian bahu, dan Tuddak atau kalung kebesaran bagi seorang Sikerei. Ada juga tato Mentawai bermotif lingkungan yang merupakan ungkapan sinergitas masyarakat dengan alam. Masyarakat menggambar benda-benda seperti batu, hewan, dan tumbuhan yang diabadikan pada tubuh. Masyarakat Mentawai menganggap semua benda memiliki jiwa.

Syarat

Penatoan biasanya tidak langsung menyelesaikan semua motif yang direncanakan, tetapi dilaksanakan secara bertahap. Pada tahap tertentu kadang menunggu waktu yang tepat dan baik. Namun terkadang penatoan dilakukan ketika seseorang telah mempunyai dana yang cukup dan ada keinginan untuk kembali ditato.

Pembuatan tato memerlukan waktu sekitar tiga hari lamanya hingga benar-benar sembuh. Biasanya permukaan kulit yang ditato akan berdarah dan berwarna kebiruan. Namun karena diadakan dalam suatu upacara ritual dan penuh magis yaitu punen enegat, maka pembuatan tato tersebut tidaklah terlalu menyakitkan, tetapi biasanya setelah proses pembuatan tato selesai, orang yang ditato akan demam selama beberapa hari. Selama proses tersebut baik laki-laki maupun perempuan tidak diperbolehkan keluar rumah dan gambar tato tersebut tidak boleh tersentuh air.

Tantangan saat ini

            Pada tahun 1955 pemerintah pernah melarang orang-orang Mentawai membuat tato, melarang melakukan ritual Arat Sabulungan, dan harus memilih satu dari 5 agama yang ditawarkan oleh pemerintah. Saat ini orang Mentawai tidak lagi dilarang untuk melakukan adat istiadatnya, tetapi masalah lain pun muncul. Anak-anak orang Mentawai yang mau sekolah tidak boleh ditato. Akibatnya, saat ini kebiasaan pembuatan tato di Mentawai mulai berangsur hilang terutama pada anak-anak muda. Anak muda sekarang lebih suka mengikuti perkembangan zaman yang lebih modern, sehingga proses pembuatan tato Mentawai dan alat-alat yang digunakan tersebut hanya bisa ditemukan pada orang-orang tua yang berusia 50 tahun ke atas yang bertempat tinggal di pedalaman.

Meskipun tato sudah menjadi identitas, orang-orang Mentawai yang masih memakai tato pada sekujur tubuhnya sudah jarang ditemui. Kalaupun ada, kebanyakan masyarakat yang berasal dari wilayah di mana orang-orangnya masih berpegang teguh pada adat istiadat. Seperti masyarakat yang tinggal di pedalaman Siberut. Di sana, masyarakat masih memegang ajaran yang disebut Arat Sabulungan. Mereka mengimani bahwa tato tak boleh lepas dari kehidupan orang Mentawai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *