Hikmat Roh Kudus

Hikmat Roh Kudus

Bacaan Pertama  Kis 2:1-11

Mazmur  Mzm 104:1ab.24ac.29c-30.31.34

Bacaan Kedua  Rom 8:8-17

Bacaan Injil  Yoh 14:15-16.23b-26

 

Saudara/i, ibu, bapak, dan anak-anak sekalian yang terkasih dalam Kristus Tuhan. Berjumpa kembali dalam renungan singkat dari kami para Frater Skolastikat Xaverian.

Minggu Besok 9 Juni 2019, merupakan hari raya Pentakosta, atau hari raya turunnya Roh Kudus atas para rasul. Kata pentakosta merupakan kata bahasa Yunani, yaitu Πεντηκοστή [ἡμέρα], Pentēkostē [hēmera], “[hari] kelima-puluh”), atau Minggu Putih adalah hari raya Kristiani yang memperingati peristiwa dicurahkannya Roh Kudus kepada para rasul di Yerusalem, yang terjadi 50 hari setelah kebangkitan Yesus Kristus. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan sesuai dengan yang dijanjikan Yesus sesudah kenaikannya ke surga. (Lih. Yoh 14:15-16),  “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.  Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.  Jika seorang mengasihi Aku, Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya, dan diam bersama-sama dengan dia.

                Roh Kudus ialah Allah sendiri. Ia adalah pribadi yang menolong orang Kristen, mengarahkan, menggerakkan kita dari dalam, bahkan membantu kita percaya pada Kristus. Kita percaya bahwa melalui pembaptisan, Roh kudus turun dan tinggal dalam diri kita. Hidup yang diliputi kehadiran Roh ini nampak dalam buah-buah roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, dan penguasaan diri, (Lih. Galatia 5:22-23). Dalam bacaan pertama hari ini, dikisahkan bahwa para rasul menerima Roh Kudus dan berbicara dalam berbagai bahasa tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah.

Roh Kudus ialah roh hikmat. Ia menyapa setiap orang dengan bahasa Kasih. Itulah mengapa Ia bisa berbicara pada siapa saja. Bagi kita, Roh kudus ialah hikmat Allah. Hikmat adalah anugerah Allah yang menolong kita mencapai kepenuhan hidup Kristiani. Hikmat bukanlah ambisi menjadi Kudus, bukan juga ilmu untuk menjadi populer dan terpandang. Hikmat Allah bukan sesuatu yang dicari dengan tekun untuk menjadi wasit rahmat, menghakimi sesama, menyatakan seseorang bersalah atau benar, atau menentukan bagaimana nanti mereka dihukum. Hikmat lebih dari cita-cita menjadi benar. Orang berhikmat justru semakin rendah hati, ia tidak memegahkan diri dan oleh karena itu ia besar. Marilah menjadi pribadi berhikmat.

Yoh. 21:22 “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.”

Fr. Patris Arifin, sx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *