Hidupku menjadi Bermakna ketika Mengalami Perjumpaan dengan Kristus

Hidupku menjadi Bermakna ketika Mengalami Perjumpaan dengan Kristus

Injil – Yohanes 21:1-19

Pada minggu paskah ketiga ini, kita diajak untuk merenungkan pengalaman para murid dalam perjumpaan dengan Kristus yang bangkit. Perjumpaan para murid dengan Yesus pasca kebangkitan-Nya yang terjadi berulangkali tentunya memiliki makna. Para murid semakin sadar dan percaya bahwa Yesus telah bangkit. Para murid, yang dikisahkan dalam bacaan Injil minggu paskah ketiga ini, tampak tidak menemukan makna hidup mereka saat mereka berkumpul bersama. Inisiatif dari Petrus untuk kembali menjadi seorang nelayan dan teman-temannya yang lain mau mengikuti dia menunjukkan bahwa para murid lupa akan pengalaman panggilan mereka. Yesus memanggil kedua belas rasul untuk mengikuti Dia dan diutus untuk memberitakan Injil (bdk. Markus 3:14). Perutusan itu berlangsung selama hidup mereka. Namun, para murid lupa akan pengalaman tersebut dan kembali ke pekerjaan awal mereka sebagai nelayan.

Para murid tidak mendapatkan apa-apa saat menangkap ikan selama satu malam. Sangat jelas bahwa mereka mengandalkan diri mereka sendiri dalam menangkap ikan. Perasaan cemas karena mereka berpikir bahwa Yesus telah tidak bersama mereka lagi dan keegoisan untuk kembali menjadi seorang nelayan merupakan suatu kesia-siaan. Perasaan cemas dan egois sangat identik dengan malam yang penuh kegelapan. Kehadiran Yesus ketika hari mulai siang mengubah dan menerangi hati mereka untuk menjadi sabar, tenang, dan percaya. Secara manusiawi, para murid seharusnya marah karena tidak menangkap apa-apa setelah berusaha selama satu malam lalu ditanya oleh seseorang adakah lauk-pauk pada kalian dan disuruh menebar jala di tempat yang telah mereka tebarkan. Pribadi Yesus yang bangkit mampu memberikan kesabaran kepada para murid. Demikianlah sosok Yesus yang selalu menyertai para murid. Para muridpun mendapat ikan dalam jumlah yang banyak. Sikap hati yang terbuka atas tawaran Yesus akan mendapatkan sesuatu yang berlimpah-limpah. Demikianlah rahmat dari Yesus yang selalu penuh bagi siapa yang dengan murah hati mau menanggapinya.

Sosok murid yang dikasihi yesus dalam Injil Yohanes mampu membuka pikiran para murid yang lain. Murid yang dikasihi Yesus mengatakan bahwa itu Tuhan. Ia yang dengan cepat mengenal Tuhan melalui melihat cara Yesus dalam penampakkan-Nya, tergerak untuk memperkenalkan Tuhan kepada murid yang lain. Murid yang dikasihi Yesus tidak disebut namanya dalam bacaan Injil ini. Hal ini, tentunya dengan maksud bahwa kita dapat memposisikan diri kita sebagai murid yang dikasihi Tuhan. Kita yang mengalami kasih Tuhan dan mengetahui tanda-tanda kebaikan Tuhan dalam hidup kita dengan semangat yang berkobar-kobar, kita mewartakannya kepada mereka yang belum mengenal Kristus.

Perutusan untuk mewartakan Kristus yang telah wafat dan bangkit dari antara orang mati kepada semua orang merupakan panggilan kita sebagai orang kristiani. Pada minggu paskah ketiga ini, kita disadarkan untuk terbuka kepada kebaikan Tuhan dan mampu melihat cinta kasih-Nya dalam hidup kita. Pengalaman perjumpaan dengan Kristus yang bangkit sangat penting bagi kita sebagai orang Kristiani. kita jangan terlalu larut dalam kecemasan dan ketakutan akan kelemahan kita yang membuat kita semakin egois yang dapat merugikan diri kita sehingga hidup kita menjadi sia-sia. Akan tetapi, kita harus sabar, tenang, dan terbuka kepada rahmat Tuhan sehingga hidup kita lebih bermakna dan berbuah. Pengalaman perjumpaan dengan Kristus mengubah hidup kita untuk berbuat sesuatu yang baik kepada sesama kita. Senyum, ramah kepada sesama, suka menolong, dan sabar merupakan cirikhas dari orang-orang yang mengalami perjumpaan dengan Kristus. Semoga kita semua mampu membuka hati untuk menanggapi kehadiran Yesus dalam hati kita sehingga kita tergerak untuk mewartkan kabar sukacita-Nya kepada semua orang yang kita jumpai.

 

Fr. Faris, sx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *