Melulu Rahmat Tuhan

Melulu Rahmat Tuhan

Bacaan Pertama:1Sam 26:2.7-9.12-13.22-23
Mazmur: 103:1-2.3-4.8.10.12.13
Bacaan Kedua:1Kor 15:45-49
Bacaan Injil: Luk 6:27-38

Saya pernah mengikuti pertemuan di lingkungan dalam rangka bulan Kitab Suci Nasional 2018 KAJ. Ada satu sesi yang temanya bagaimana mengatasi konflik dalam persaudaraan.  Dari sharing para umat kebanyakan memang tidak mudah apalagi secepat kilat dalam mengatasi konflik. Misalnya ketika bertemu dengan orang yang bersangkutan, ternyata masih mengingat lagi problemnya padahal sudah berkomitmen penuh untuk mengampuni. Ada yang mengambil cara dengan mengambil jarak atau menjauh dari pribadi yang bersangkutan sambil merenung-renung kembali kelalaian-kelalaiannya. Tetapi di balik usaha-usaha mereka, mereka menyakini bahwa dengan bantuan rahmat Tuhan mereka bisa sanggup mengampuni meski itu tidak mudah.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus

Dalam bacaan pertama, pengampunan Daud bagi Saul, bagi penulis Kitab Samuel menjadi alasan untuk membeberkan rencana Allah mengenai Daud. Tetapi dalam renungan saya, saya menyoroti sikap Daud terhadap Saul. Daud mengatakan kepada Saul, “Tuhan menyerahkan engkau ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah.” Kita tahu bahwa sebelumnya Saul menaruh cemburu pada Daud. Sikap cemburu itulah yang membuat Saul ingin membunuh Daud. Tetapi Daud tidak membalas sikap cemburu itu dengan kekerasan  atau cemburu pula, apalagi membunuh. Justru dia mengampuni orang yang mau membunuh dirinya. Dengan sikap ini, Daud melaksanakan kehendak Allah dalam tugasnya, yakni raja yang penuh belas kasih sesuai rencana Tuhan. Ia percaya penuh pada Tuhan.

Bacaan Inji Luk. 6:27-38 mengajak kita untuk melihat kembali konkretnya iman kita dalam kehidupan sehari-hari terlebih khusus dalam hubungan kita dengan sesama. Bagaimana bisa? Mungkin kita akan bertanya demikian. Mari kita lihat sejenak dalam kisah hidup Yesus. Yesus sendiri mengasihi kita sampai pada pengosongan diri dan penyerahan diri tanpa syarat. Ia sampai demikian karena ketaatan pada kehendak BapaNya. Tak ada rasa dendam, marah, atau pun mempersalahkan apa yang diperbuat oleh manusia terhadap diriNya. Justru Ia mengatakan, “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus

Yesus, dalam Injil Lukas 6:27-38 mengajukan beberapa pertanyaan yang benar-benar masuk ke dalam hati kita. Apakah jasa kita kalau berbuat kepada orang yang berbuat baik kepada kita? Apakah jasa kita kalau kita kalau kita meminjamkan kepada orang dengan harapan akan memperoleh sesuatu dari padanya?

Saya kira pertanyaan Yesus ini benar-benar kadang kita alami. Kita punya kecenderungan untuk memperhatikan orang lain yang tentunya kita kenal. Memang bukan meminta balasan, tetapi kata Yesus hal seperti itu orang berdosa pun bisa. Itu berarti tidak ada bendanya kita yang telah menjadi pengikut Kristus dengan orang berdosa yang Yesus maksudkan. Bacaan pertama telah mengingatkan kita akan pertanyaan-pertanyaan Yesus. Daud berbuat baik kepada orang yang sebenarnya mau membunuh dia.  Dan karena sikapnya dia ini, Daud tentunya mendapat banyak berkat dari Tuhan.

Lebih radikal lagi, Yesus meminta kita untuk mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang membenci kita. Bahkan kita meminta berkat dari orang yang mengutuk kita. Lebih lagi, kita mendoakan mereka. Nah, sudahkah kita mendoakan? Sudahkah kita memberi berkat atau pun meminta berkat? Atau sudahkan kita mengasihi musuh sampai nyawa kita sendiri tidak kita sayangkan? Banyangkan saja, jika Daud terus mengingat-mengingat rencana Saul, tentulah dia susah untuk mengampuni Saul. Kita ingat juga kata-kata si pemazmur bahwa, jika Tuhan mengingat-ingat kesalah kita siapakah dapat tahan? Demikian juga kit ajika kita terus-terus mengingat kelalain, kerapuhan, kebencian, kemarahan, hasutan, dan bahkan makian, bagaimana bisa  kita  mengampuni?

Seorang Kristen yang bertindak tanpa pamrih, tanpa menuntut sesuatu pun, menjadi gambaran hidup Allah sendiri. “Ukuran cinta kasih ialah menaruh cinta kasih tanpa ukuran”, demikian St. Bernardus berkata. Sembari kita berjuang dengan kekuatan kita, kita juga perlu ingat bahwa rahmat Allah meluluhlah yang membuat kita mampu berdoa bagi mereka yang membenci kita, mengampuni mereka yang bersalah kepada kita, mengasihi mereka yang membenci kita, bahkan memberi berkat.

Valerius Jan Nahak SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *