Kota Hippos

Kota Hippos

Pengantar

Latar belakang kisah-kisah perjanjian baru (PB) tidak terlepas dari konteks masyarakat, budaya, bahkan kondisi geografis sebagian besar wilayah Palestina. Sebagian besar kota-kota yang terkenal seperti Nazaret, Galilea, dll., mungkin sangat mudah ditemukan. Akan tetapi, keberadaan kota-kota kecil yang sesekali disebut secara implisit dalam kitab suci cukup menarik untuk diselidiki lebih dalam. Salah satu contohnya ialah kota kecil yang saya gali dalam tulisan ini, yaitu Kota Hippos yang disebutkan (secara implisit) dalam injil Matius 5:14.

Mengingat para penulis perjanjian baru kebanyakan orang Yahudi, pengetahuan arkeologis seperti ini bisa membantu pembaca kitab perjanjian baru masuk ke dalam konteks historis dan geografis yang lebih persis dari kisah-kisah perjanjian baru . Untuk itu, penulis akan menyajikan pokok-pokok bahasan yang relevan dengan tujuan studi pengantar perjanjian baru berdasarkan empat pertanyaan penuntun, yaitu what (Tempat apa yang dibicarakan?), where (Letak geografisnya), when (Kapan disinggung? Dalam PL atau PB), dan how (bagaimana informasi tersebut menjadi relevan terhadap studi PB?).

Pentingnya Studi Arkeologi

Tak dapat diragukan lagi bahwa Galilea, sesuatu yang menjadi latar belakang historis penelitian mengenai Yesus, telah menjadi latar depan atau pintu masuk bagi para pembaca Perjanjian Baru. Pada tahun 1941, Millar Burrows merangkum secara ringkas signifikasi dari arkeologi bagi studi alkitabiah. Ia menulis demikian. “Apa yang telah hadir di sini, meskipun hanya secara garis besar, cukup untuk menunjukkan bagaimana studi arkeologi telah memberikan sejarah biblis dengan meletakkan kerangka kerjanya dalam sejarah dunia, menghubungkannya dengan kebangkitan dan kejatuhan sebuah bangsa dan relasi mereka satu dengan yang lainnya dan mengorientasikan itu kepada pergerakan dan perkembangan yang luarbiasa dalam budaya dan sejarah sosial manusia. Dengan sarana arkeologi, studi kasus-kasus alkitabiah yang tergantung di udara menapakkan kakinya di tanah.”

Sejak 1946, arkeologi telah menemukan gulungan-gulungan yang dipakai dan dianggap rahasia pada zaman Yesus. Gulungan-gulungan tersebut menjelaskan kata-kata yang digunakan Yesus, dan menyediakan deskripsi-deskripsi dan bahasa simbolik yang membuat beberapa perkataan sulit menjadi bermakna untuk pertama kalinya atau menyediakan konteks historis bagi makna ucapan-ucapan tersebut secara keseluruhan. Hal ini merupakan salah satu contoh signifikasi penemuan arkeologi bagi studi alkitabiah.

Kota Hippos: Letak, Struktur dan Periodisasinya

Kota Hippos (Susita) merupakan pusat Kota Golan pada periode Helenis dan Roma/Bisantin (332-152 SM) yang runtuh akibat gempa pada tahun 749 M . Kota ini terletak di atas gunung yang berbentuk lapangan atau punggung kuda yang menjulang setinggi 350 M di atas permukaan Laut Galilea. Penelitian terakhir mengungkapkan rancangan dan struktur yang mengagumkan dari kota tersebut. Penelitian arkeologis di tempat ini dilakukan pada akhir abad 19 oleh Gottlieb Schumacher. Pada sekitar tahun 50-an awal terjadi pertikaian di perbatasan dan IDF (Israeli Forces) memperkuat Bukit Susita sebagai pos terdepan. Untuk merawat barang-barang antik, penggalian darurat dilakukan di area katedral (1951-55), dipimpin oleh Claire Epstein. Pada 1999, The University of Haifa memulai penelitian berskala besar yang dipimpin oleh Prof. Athur Segal. Pada akhirnya, profesor Athur ini bergabung dengan tim dari Polandia dan Amerika. Berdasarkan penelitian itu, dilaporkan bahwa reruntuhan itu dalam keadaan tak terganggu atau aman, dan di bawah puing-puing ditemukan harta karun yang mengagumkan.

a) Lokasi
Reruntuhan Kota Hippos berlokasi di pantai timur Danau Galilea, pada sebuah gunung yang curam di sebelah timur Kibbutz Ein-Gev. Tempat ini berukuran sekitar 2 km panjang dan 500 m lebar dan terletak pada garis lintang yang sama dengan wilayah Tiberias yang terletak di sisi lain dari danau itu sekitar 10 km. Jalan aspal yang rusak yang kebanyakan hanya bisa digunakan oleh pejalan kaki (petani) terhubung menuju Golan.

Peta letak Kota Hippos
Hippos Cityhttp://hippos.haifa.ac.il/images/General/ExcavationAreas_1.jpg

Hippos and Galilea seahttps://www.bibleplaces.com/wp-content/uploads/2015/07/Arbel-cliff-and-Plain-of-Gennesaret-tb011400201-bibleplaces.jpg

b) Struktur
Kota Hippos terletak di atas batu karang yang datar berbentuk lapangan atau punggung kuda (Oleh karena itu namanya demikian). Kota ini dikelilingi oleh tembok yang membentang sepanjang pinggiran bebatuan tersebut. Kota ini memiliki dua gerbang – gerbang timur dan gerbang barat. Jalan utama menghubungkan kota itu dari barat sampai ke timur terbentang di tengah-tengah. Lokasi tertinggi ialah di bagian timur kota, yaitu sekitar 350 m di atas permukaan laut Galilea.

c) Sejarah/periodisasi
Zaman Prasejarah
Sejumlah besi dan perunggu ditemukan dalam penggalian di sekitar kaki Gunung Hippos-Susita. Berdasarkan penemuan-penemuan tersebut, manusia pertama di wilayah tersebut diperkirakan hidup sekitar 17.000 tahun yang lalu.

Zaman Israel-Periode Alkitabiah
Berdasarkan Talmud Yerushalmi abad ke-4 (Shvi’it 6), Susita merupakan tanah Tov (“Tuhan”) tempat hakim Yiptach tinggal pada abad ke-12 SM. Kota ini terletak di tepian Ein-Gev sekarang, di bawah Gunung Hippos, dalam lembah seluas 30 hektar yang disebut Tell Ein-Gev. Kota itu didirikan pada abad 10 sebelum masehi, memiliki pelabuhan dan tempat perlindungan bagian gunung yang menggunakan lembah sempit di sebelah utara Hippos sebagai salah satu jalur perdagangan menuju Golan.

Kekuasaan Asyur
Kota Israel dihancurkan oleh Raja Asyur Tiglath-Pileser III pada 372 SM. Setelah penghancuran, kota tersebut sebagian diduduki sampai periode Helenis ketika kota itu direlokasi ke bagian yang lebih dapat dipertahankan, yaitu di puncak gunung.

Periode Helenistik
Sebuah kota benteng yang baru didirikan di atas gunung pada periode Helenistik sekitar tahun 150 SM (lima puluh tahun setelah Perang Panion), dan dinamakan Antiochia-Hippos. Nama tersebut merupakan nama raja Seleukus (Antiochus) sedangkan nama belakangnya merupakan sebutan untuk kuda dalam bahasa Yunani, bentuk dari gunung tersebut. Kota tersebut segera menjadi polis dengan pembangunan kuil dalam skala besar, pasar dan gedung publik lainnya. Pelabuhan kota terletak di bagian selatan dari Tell Ein-Gev. Kota ini kemudian dikuasai oleh Raja Yahudi, Alexander Jannaeus pada thn 83-80 SM.

Periode Roma
Roma menguasai wilayah ini setelah Pompey menakhlukkan Israel pada tahun 63 SM. Reformasi politik di bawah kekuasaan Roma menjadikan Hippos sebagai salah satu dari 10 kota terbesar (Decapolis) . Di bawah kekuasaan Roma pula, Hippos sempat “dikembalikan” kepada orang-orang Yahudi sebagai pemberian dari Kaisar Agustus kepada Herodes Agung. Akan tetapi, setelah Herodes meninggal, kendali atas kota ini dilimpahkan kepada Damascus.

Terdapat beberapa hal yang menandai masa kependudukan Roma di tempat ini. Pertama, semi-otonomi. Kota ini memproduksi koin mereka sendiri dengan gambar kuda pada sisinya (simbol nama kota dan tahun kemerdekaan 63 SM). Kedua, konstruksi bangunan. Roma memperbaiki jalan-jalan dengan gaya Romawi (cardo) termasuk membangun gedung publik yang baru pada akhir abad I M. Untuk memungkinkan perluasan kota, hal ketiga yang diwariskan Roma ialah akuaduk. Mereka membangun dua akuaduk yang panjangnya sekitar 25 m dari sungai Samach menggunakan pipa bawah tanah.
Revolusi besar pada tahun 66-67 M mengakhiri masa kependudukan Roma. Pada masa selanjutnya, kota ini masih mengalami beberapa kali masa kependudukan seperti pada periode Binsantin di bawah Aleksander Agung (abad 4), Persia pada tahun 614-615, oleh Arab 634-636 sampai pada perang kemerdekaan pada 1948.

Letaknya dalam Kitab Suci dan Relevansinya

Setelah melihat struktur geografisnya, kalimat dalam kitab suci yang kemungkinan besar, untuk beberapa alasan, merujuk pada Kota Hippos ialah “Sebuah kota yang terletak di atas gunung tak mungkin tersembunyi” (Mat. 5:14b). Menurut penjelasan yang ditulis dalam buku Jesus and His World oleh James Robinson, terdapat beberapa hal yang mendukung Hippos sebagai kota yang dimaksudkan Yesus dalam perumpamaanNya mengenai kota di atas gunung yang tak mungkin tersembunyi tersebut.

Pertama, pada malam hari, lampu-lampu dari Hippos terlihat dari seluruh Laut Galilea, khususnya dari Bethsaida, Kapernaum, dan dari suatu tempat yang dulunya dikenal sebagai Gunung Kebahagiaan. Pada siang hari, kabut biasanya mengaburkan jalur di bukit tersebut. Asumsinya ialah, Yesus kemungkinan terinspirasi oleh cahaya dari Hippos yang menerpa Laut Galilea dan menggunakan perbandingan tersebut agar mengesankan di benak para murid bahwa merekalah “Cahaya dunia,” (Mat. 5:14) dan bahwa cahaya mereka (seperti halnya cahaya dari Hippos menerpa Laut Galilea) harus bersinar di depan orang, (Mat. 5:16).

Kedua, Yesus sering menggunakan gambaran alam sekitar-Nya untuk mengilustrasikan ajaran-Nya. Hal ini cukup beralasan jika kita melihat ayat 13 yang berbunyi demikian, “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” Menurut saya, jika analogi tentang garam ini merujuk pada Laut Galilea, kebenaran Hippos sebagai kota yang dimaksud Yesus semakin bisa diterima sebab hal tersebut menyatakan bahwa Yesus sedang berbicara dengan mengambil analogi dari kedua tempat yang berdekatan tersebut.

Daftar Pustaka

Carlesworth, James H. “Jesus Research and Archaeology.” In The World of The New Testament, edited by Joel B. Green and Lee Martin McDonald, 439-466. USA: Baker Publishing Group, 2013.

Martini, Luchia. “World Archaeology Magazine” UK, January 22, 2015.

O’Connor, Jerome Murphy. The Holy Land. New York: Oxford University Press, 2008.

Rousseau, John J. and Rami Arav. Jesus and His World. USA: Fortress Press, 1995.

Online source, (https://biblewalks.com/Sites/Hippos.html), downloaded on Feb, 22, at 17.46 pm.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *