“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

Bacaan I: Yes 62:1-5
Mazmur 96:1-2a,2b-3,7-8a,9-10ac
Bacaan II: 1Kor 12:4-11
Bacaan Injil: Yoh 2:1-11

Teman-teman terkasih dalam Kristus Yesus, salah satu tokoh sentral dalam peristiwa Natal yang baru saja kita lalui ialah Maria (Ibu Yesus). Maria sering bahkan selalu dikaitkan dengan Yesus anaknya, bahwa Maria menjadi penting karen bayi yang ia lahirkan itu. Kesan itu tidak sepenuhnya salah. Akan tetapi, Maria mempunyai kekhasan tersendiri dalam menjawab panggilan Allah dalam hidupnya. Hari ini, Injil kembali menampilkan kekhasan itu, yakni Maria yang taat, “Ketaatan.” Beberapa kata dari sangat sedikit kata yang ia ucapkan dalam Injil yang menunjukkan keutamaan Maria ini ialah, “Aku ini Hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”, Maria berkata demikian saat menerima kabar dari malaikan Gabriel. Nada serupa kita temukan dalam injil hari ini, yaitu “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Yoh. 2:5.

Krisis Kepercayaan
Masalah yang kita hadapi saat ini ialah krisis keyakinan atau kepercayaan, baik pada diri sendiri maupun pada Tuhan. Contoh, saat ini banyak anak muda meninggalkan yang namanya rutinitas, kekakuan, aturan yang memenjara kebebasan, konsistensi, dll. Cara membuktikan hal ini sederhana, jika dulu orang susah sekali gonta ganti pekerjaan (jadi guru ya guru smpai mati/mengabdi), tetapi sekarang orang lebih menilai harga, gengsi, dll., gonta ganti pekerjaan, pindah sana sini, bosan dikit ganti, tidak pernah yakin akan pilihannya, maka hidupnya tidak pernah mencapai puncak.

Logika yang menopang semua itu ialah “kebebasan.” Orang mau supaya sama sekali tidak terikat. Akibatnya hidup cuma comot sanas-sini, hanya mencicip di permukaan dll. Orang bahkan menunda menikah sampai usia terlampau matang karena takut “terikat”. Ini krisis kita, kita mau bebas, tetapi kita lihat, kebebasan itu juga bermasalah. Ia membawa kemerdekaan yang berlebihan sehingga menakutkan. Kebebasan berlebihan sama dengan menghapus arah. Kini tak lagi ada timur atau barat, utara atau selatan. Lalu pertanyaannya, kemana anda mau pergi? Bukankah kehilangan arah merupakan cerita menyedihkan? Itu artinya bebas tidak menjamin apapun. Bebas untuk apa? Sekarang mari mengevaluasi hidup kita masing-masing.

Berani Percaya
Hari ini Maria menawarkan satu prinsip kepada para wanita yang mengurus anggur dalam pesta pernikahan di Kana di kala mereka kehabisan anggur, yaitu percaya. Maria meminta mereka menaati perintah Yesus. Satu kata kunci lagi yang tidak bisa lepas dari kata “percaya” ialah “taat”
Maria menawarkan kepada kita cara hidup yang seimbang yaitu “ketaatan.” Ketaatan ialah sebuah keutamaan (Jalan tengah). Jadi taat bukan naif tetapi juga bukan kebablasan. Ia di tengah-tengah. Maka hidup yang baik untuk mencapai makna dan melampaui krisis vertikal (keterhubungan dengan yang transenden) ialah taat dan memberi diri pada Allah. Hanya satu kuncinya, yaitu Percaya seperti Maria. Percaya melahirkan ketaatan. Oleh karena itu, mari mendekatkan diri pada Tuhan, pegang firmannya sebagai MAP perjalanan kita yang panjang ini agar tidak tersesat dalam kebebasan semu. Ketaatan mengajar kita tentang kesetiaan, komitmen, konsistensi, prinsip, dan arah yang jelas. akhirnya ketaatan menghantar kita pada tujuan.

Semoga.

Fr. Patris Arifin sx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *