Muslim Bertanya (Fr. Patris Arifin, sx)

Muslim Bertanya (Fr. Patris Arifin, sx)

Dalam Menganggapi Video mengenai tanggapan Gereja Katolik terhadap kasus LGBT di ILC yang diwakili oleh Rm. Franz Magnis-Suseno, Saudara kita ariefgant (nama Flog Youtube-nya) memberi pertanyaan berikut. Bagi saya, pertanyaan ini menarik maka saya tentu saja dalam keterbatasan saya mencoba menanggapinya.

Ia menulis demikian, “saya penasaran berarti ajaran katolik itu murni penafsiran para pendeta dan cendekiawan katolik saja bukan didasari pada firman Tuhan? Mksdnya begini, bisa2nya paus paulus dan fransiskus berbeda pendapat mengenai LGBT ini. Paus paulus bilang haram krn dikira msh belum tau persis kondisi org homo, sdgkan paus fransiskus sudah tau, jadi tidak berani memutusi. Dengan kata lain, paus ini dalam menghukumi sesuatu (dlm hal ini LGBT) dg interpretasinya saja dong, bukan dg merujuk pada dalil/ayat dalam bible? Buktinya masih bisa melunak seiring dg perkembangan zaman dan teknologi. Artinya, nanti di masa depan masih banyak hal2 lain dalam ajaran bible yg dianggap tidak relevan (krn perkembangan zaman & teknologi) sehingga hukum halal haram nya bisa diubah2 secara fleksibel.”—ariefgant
(https://www.youtube.com/watch?v=r2qetRNDw6k&t=21s)

Secara ringkas, inti dari pertanyaan saudara kita ini, yang barang kali orang Katolik sendiri sering kali tidak menyadarinya, ialah mengapa ada perubahan dalam memaknai ajaran injil dalam Gereja, Mengapa konteks begitu berpengaruh terhadap pembacaan Kitab Suci (Alkitab), dan yang paling penting bagaimana “kesan bahwa Ajaran Katolik tidak jelas” bisa dihindari?

@ariefgant Terima kasih atas pertanyaannya.

Ada tiga otoritas besar yang menjadi dasar ajaran Gereja yaitu, Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium. Kitab Suci ialah sumber tertulis mengenai Yesus dan ajarannya yang diwariskan oleh para rasul. Tradisi ialah warisan lisan mengenai pengungkapan lahiriah berupa ritus, dll., dari ajaran Kitab suci. Dalam hal ini tradisi penting karena kitab suci tidak pernah lepas dari apa yang namanya konteks (budaya, masyarakat, bahasa, sastra, dll). Jadi, tradisi merupakan warisan penting dalam memahami kitab suci. Ketiga, Magisterium. Magisterium secara sangat sederhana berarti KUASA MENGAJAR GEREJA. Ajaran resmi yang menjadi ajaran gereja dengan mempertimbangkan kedua aspek sebelumnya tadi keluar melalui Magisterium. Jadi dalam gereja katolik tidak diperkenankan tafsir sesuka hati setiap individu terhadap kitab suci justru supaya tetap dalam komunikasi ketat dengan tradisi dan kuasa mengajar gereja meskipun tetap tidak menolak wahyu pribadi/pengalaman rohani pribadi. Lalu dengan demikian tidak mengejutkan apabila ajaran gereja bisa lebih lunak atau lebih keras tergantung penafsiran.

Mengapa demikian? Apakah lalu ajaran ini tidak tetap dan tidak berpendirian, berubah-ubah atau fleksibel? Kita pertama harus pegang kuat ide dasar berikut bahwa Gereja Katolik berkeyakinan bahwa Wahyu tidak pernah keliru (sebab wahyu berasal dari Allah sendiri) akan tetapi, dalam memahami wahyu yang benar dan dalam itu, Gereja terus menerus berproses karena hal itu tentu tidak sekali jadi. Misalnya yang dikatakan romo Magnis bahwa “Paulus tentu mengutuk homoseksual, tetapi Paulus juga belum memiliki pengetahuan kita sekarang.” Itu artinya bahwa Paulus mungkin saja belum bisa memahami bahwa homoseksual bukan penyelewengan karena itu terjadi sangat alami dan biologis. Jadi keterbatasan pengetahuan medis mungkin salah satu kendala yang sulit untuk tidak mempengaruhi penilaian Paulus mengenai homoseks. Hal itu berbeda dengan keadaan kita saat ini yang memiliki pemahaman yang lebih baik dan lebih komprehensif mengenai kasus ini. Oleh karena itu, wajar jika penilaian kita terhadap kasus homoseks lebih maju dari Paulus. Dalam hal ini menjadi jelas apa yang dikatakan romo Magnis bahwa “ajaran itu harus terus didalami dan direfleksikan kembali justru supaya tidak membeku pada apa yang bukan menjadi makdudnya”, jadi wahyu selalu benar tatepi ajaran kita yang merupakan upaya memahami wahyu tentu saja terbatas dan oleh karena itu wajar dan malah lebih baik jika ada perkembangan sehingga kita tidak menggunakan ukuran lama untuk jaman yang baru dan semakin kompleks ini.

Mungkin anda lalu bertanya, mengapa Kitab Suci orang Katolik boleh diobrak abrik atau ditafsirkan? Pertama (karena saudara orang Muslim) kita harus membedakan Al-Quran dengan Injil (Alkitab). Al-quran menurut teman-teman Muslim datang langsung dari Allah sendiri dan oleh karena itu tidak boleh diubah sedikitpun karena sudah sempurna. Saya kira itulah mengapa anda sangat tidak enak jika Al-quran dilecehkan. Nah posisi Al-Quran ini sejajar dengan posisi Yesus dalam Gereja Katolik. Yesus adalah wujud Allah sendiri yang kelihatan, oleh karena itu ia adalah kepenuhan wahyu dan sekaligus kebenaran wahyu. Itulah maksudnya dikatakan bahwa posisi Al-quran dalam Islam sejajar dengan Posisi Yesus dalam Gereja Katolik. Jadi Injil jangan dibandingkan dengan Al-Quran. Injil itu refleksi iman tentang Yesus yang tidak lepas dari keterbatasan manusia (bahasa, budaya, pengetahuan dll). Injil justru ditempatkan sebagai suatu tulisan sastra dengan gaya bahasa, pengaruh budaya, tujuan penulisan, konteks pendengar yang dituju penulis. Injil tidak turun dari langit, tetapi ditulis. Ajaran Yesus diyakini oleh Gereja tidak terlepas dari hubungan tak terhindarkan dengan budaya dan konteks masyarakat (pendidikan dll.) dimana ajaran itu disebarkan. Yesus tentu mengajar mengenai siapa Allah dalam konteks orang Yahudi. Misalnya bahwa kerajaan Allah seumpama biji sesawi, pohon anggur, dll., yang merupakan tanaman yang ada dan dikenal oleh masyarakat yang mendengar pewartaan itu. Itulah mengapa dalam mempelajari kitab suci Orang Katolik, kita tidak bisa lepas dari konteks dan harus didalami terus menerus.

Di sini sekaligus menjadi jelas bahwa jika Orang Katolik mempelajari seluk beluk dan kebenaran Kitab Suci, itu tidak berarti bahwa ajaran Yesus berubah atau dapat diragukan. Di sini kita tidak sedang mempersoalkan kebenaran ajaran Yesus, melainkan mengenai upaya-upaya yang dilakukan dari jaman ke jaman bagaimana ajaran itu dipahami. Bahwa dengan mempelajari semua itu, kita mengenal pola pikir penulis injil dalam menangkap ajaran Yesus. Begitu misalnya ketika Yohanes mengatakan bahwa Ia bahkan tidak layak membuka tali kasut Yesus, itu bukan pertama-tama menunjukkan kerendahan hati Yohanes. Jika dibaca sepintas lalu, kita bisa keliru memahaminya. Dalam tradisi Yahudi, orang yang kakaknya meninggal dan meninggalkan seorang istri, bisa menggantikan posisi kakaknya itu. Hal ini dikiaskan dengan kata membuka tali kasut. Jadi jika kita membaca dalam konteks pesannya menjadi jelas bahwa Yohanes bermaksud bahwa Yohanes bukan siapa-siapa dibanding Yesus. Ini salah satu contoh saja bagaimana injil terikat pada konteks.

Patris Arifin Sx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *