Apakah Ada Tuhan?

Apakah Ada Tuhan?

Fr. Patritius Arifin, sx

Pengantar

Dalam pembicaraan tentang sains dan agama, kita kerap mendengar slogan yang paralel, yaitu iman dan rasio. Sains seolah identik dengan “rasionalitas” (sesuatu yang melulu matematis), sedangkan perkara iman atau Tuhan identik dengan soal kepercayaan buta yang secara rasional tidak bisa dijelaskan. Yang rasional diartikan sebagai yang terukur, terbatas, dan dapat diamati. Argumen ini sangat kental unsur saintifiknya. Pemisahan yang kurang tepat ini kemudian melatarbelakangi klaim-klaim keras seperti misalnya bahwa Tuhan tidak ada karena alam semesta ini dapat dijelaskan secara rasional.

Argumen seperti ini biasanya didukung dengan data empiris berupa temuan fisika yang menunjukkan gejala keteraturan yang kebetulan dalam proses-proses alam yang mekanis. Pertanyaan paling mendasar ialah bagaimana menjelaskan peran Tuhan di balik proses alam semesta jika alam semesta bekerja dengan hukumnya sendiri? Pertanyaan ini makin meruncing seiring perkembangan kosmologi yang makin maju dan sistematik terutama dengan munculnya teori Big bang yang mengklaim dapat menjelaskan asal-usul alam semesta. Akibatnya, sains dan agama kerap dipertentangkan.

Akan tetapi, pertanyaan yang kemudian muncul ialah apakah klaim sains yang menolak adanya Tuhan berdasarkan data-data ilmiah mengenai proses mandiri pembentukan alam semesta dan keberlangsungannya berdasarkan ketetapan hukum-hukum fisika tidak menuai problem? Isi tulisan ini merupakan uraian terhadap masalah tersebut.

Kosmologi Zaman Modern dan Revolusi Keilmuan

Semenjak penemuan teleskop oleh Galileo pada tahun 1609, kosmologi mulai menjadi sangat observasional. Kini bangunan-bangunan teoretis mengenai model-model alam semesta yang sudah mulai berkembang sejak Aristoteles mulai diimbangi dengan kerja laboratorium. Ciri utama zaman ini ialah pensistematisasian, yang lebih dikenal dengan revolusi keilmuan. Demikian Galileo misalnya memadukan fisika dalam kosmologi. Untuk memahami kosmologi Galileo, kita mesti mengerti bahwa, dia bukanlah seorang astronom ataupun filsuf. Ia adalah seorang matematikawan dan ahli fisika. Hal ini tampak dalam tulisannya tentang gerak, gravitasi pada substansi dan inti gravitasi. Kuantifikasi alam oleh Galileo tampak ketika ia menetapkan pemilahan antara kualitas primer benda (meliputi hal-hal terukur seperti bentuk, lokasi, ukuran, dll.) Dan kualitas sekunder (meliputi hal-hal yang tergantung pada subjek seperti bau,warna, cecapan, dll.). Dengan memadukan ilmu alam dengan fisika, Galileo dengan demikian menghapus tatanan dunia Aristotelian, menyimpulkan bahwa benda-benda langit merupakan benda alam, bukan benda ilahiah.

Tokoh-tokoh seperti Francis Bacon, Descartes, dan Newton juga turut berperan dalam perkembangan kosmologi menjadi ilmu pengetahuan, yang sistematis dan kalkulatif. Demikian Bacon misalnya melihat alam semesta sebagai suatu entitas mekanis yang bekerja pada suatu prinsip hukum tertentu. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan harus bersandar pada observasi ilmiah untuk dapat memahami cara kerja alam dan dengan demikian bisa menguasainya. Bacon lalu dikenal sebagai tokoh empirisme. Selain Bacon, Descartes juga terlibat dengan menyumbangkan “metode” dalam filsafat, yaitu usaha mencari kepastian sebagai landasan bagi pengetahuan yang benar dan terpilah-pilah. Descartes menganggap matematika, khususnya geometri sebagai model bagi pengetahuan yang memiliki landasan kepastian yang tak dapat diragukan. Revolusi keilmuan ini mencapai puncaknya pada Newton. Newton menerapkan kalkulus matematika ke dalam fisika dan astronomi. Ia mentransformasikan prinsip-prinsip filsafat ke prinsip-prinsip matematika untuk membangun filsafat alam.

Dampak revolusi keilmuan bagi kosmologi ialah lahirnya pandangan bahwa alam semesta tersusun atas satu jenis materi (uni-verse), alam bersifat deterministik (memiliki hukum), dan matematis. Persis pada tahap inilah pembicaraan tentang kosmos terpisah dari kata-kata kunci seperti penciptaan, Tuhan, dewa-dewi, dll., yang menjadi unsur sentral dalam Kosmologi Pra ilmu maupun Kosmologi Abad Pertengahan. Unsur-unsur ini perlahan diabaikan dan dianggap tidak rasional karena hanya merupakan pengalaman subjektif saja (unsur sekunder) yang tidak dapat diuji kebenarannya secara ilmiah dan oleh karena itu tidak dapat dibuktikan benar. Sebenarnya inilah titik awal “konflik” antara sains dan agama dimana realitas dibatasi hanya pada hal-hal yang secara objektif teramati, sedangkan pengalaman religius-spiritual, pengalaman estetik, daya kreatif imajinatif dianggap tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pengalaman-pengalaman itu dalam kebudayaan modern hanya diterima sebagai emosi psikologis yang berubah-ubah.

Big bang dan Pertanyaan Tentang Tuhan

Lahirnya konsep Big bang bermula dari solusi Edwin Hubble mengenai persoalan nebula spiral, yaitu apakah ada keterkaitan antara ukuran spiral pergeseran spektral dan jaraknya. Hal ini menjadi problem yang menarik bagi para astronom, fisikawan, dan matematikawan selama periode 1920-an. Pada 1929, Hubble mempublikasikan rumus mengenai kesebandingan hubungan antara kecepatan menjauh galaksi dengan jaraknya. Hubungan yang juga dikenal sebagai Hukum Bubble ini merupakan fakta hasil observasi yang memperlihatkan gerak saling menjauh galaksi. Akan tetapi, sebelum Hubble sebenarnya sudah ada matematikawan asal Rusia Alexander Friedmann (1922,1924) yang menemukan solusi bagi persamaan medan Einstein dalam teori relativitas umum, yaitu bahwa alam semesta berubah sepanjang waktu.

Setelah Friedmann, solusi serupa ditemukan oleh Georges Lemaître pada 1927, meskipun keduanya tidak saling berkontak langsung. Lemaître tidak mengenal karya Friedmann. Ia mengacu ke teori kuantum untuk menjelaskan bahwa kondisi paling dini dari alam semesta berbeda dari alam semesta kini. Dengan itu Lemaître merumuskan model alam semesta yang berkembang dan dengan demikian memiliki awal. Secara umum, awal terbetuknya alam semesta diperkirakan terjadi atas suatu ledakan besar yang dikenal dengan sebutan Big bang. Begitulah Lamaitre memberi dasar bagi model alam semesta yang mandiri.

Dalam bagian ini, kita tidak akan masuk lebih dalam tentang bagaimana kalkulasi fisika mengenai peristiwa ledakan besar yang disebut Big bang itu. Hal yang akan dibicarakan di sini ialah bahwa perubahan besar dalam memahami alam semesta tersebut tidak bisa tidak bersinggungan dengan pembicaraan sangat lama di dunia ini mengenai Tuhan. Siapa menyangka sains dapat memecahkan semua persoalan kosmologis yang sebelumnya dilihat sebagai manifestasi keberadaan hakekat ilahi yang tak kelihatan. Sains kini beranjak lebih jauh dalam keyakinan bahwa Alam semesta ini tidak butuh Tuhan. Tuhan bukan lagi merupakan suatu penjelasan yang penting. Pertanyaan penting yang muncul di sini ialah, apakah sains menyingkirkan Tuhan yang personal?

Bidang Refleksi Ilmu Ketuhanan

Para saintis begitu yakin bahwa kehidupan dalam kosmos yang rasional dan tunduk pada hukum-hukum ini bisa ditemukan secara tuntas oleh akal budi manusia. Akan tetapi persoalah bahwa bagaimana menjelaskan mengapa situasi bersifat demikian atau mengapa alam semesta yang rasional itu lebih baik bersifat seperti itu, tetap tertinggal. Pada titik ini sebetulnya kita bisa melihat bahwa klaim saintisme mengenai pemutlakan sains sebagai jawaban atas segala pertanyaan tampak terlalu naif. Beberapa Fisikawan mengakui keterbatasan sains sebagai sebagai salah satu bentuk pendekatan saja terhadap kemajemukan realitas yang mencakup kondisi fisik dan metafisik. Satu diantaranya dari Paul Davies. Ia menulis demikian,
“Saya selalu ingin percaya bahwa sains akan mampu menjelaskan semua, setidak-tidaknya secara prinsipilpun pula jika kita mengabaikan peristiwa-peristiwa adikodrati, namun sama sekali tidak eviden bahwa sains mampu untuk menjelaskan seluruh alam semesta … Jadi, masalah-masalah terakhir (The ultimate questions) tetap tinggal di luar ilmu empiris.”

Adalah suatu kejelasan bahwa hal yang menjadi persoalan di sini bukanlah bahwa agama yang melihat alam semesta sebagai ciptaan menolak kebenaran observasional sains yang menemukan sebaliknya, melainkan pada kenyataan bahwa sains itu terbatas. Berkaitan dengan persoalan tentang Tuhan, sains yang berdiri pada observasi empiris memang terbatas—oleh metodenya—untuk tidak dapat membuktikan Tuhan ada atau tidak ada. Inilah maksudnya jika kita berbicara tentang batas, bahwa sebagaimana yang dikatakan seorang ahli Fisika kuantum Heisenberg, rasionalitas semata-mata tidaklah cukup. Kita harus bersedia menerima batas pengetahuan dalam menghadapi beragam pengalaman manusia.

Fisika berkaitan dengan apa yang dapat kita katakan tentang alam. Sebaliknya, pertanyaan Agama dalam refleksi ketuhanan sekalipun di hadapan semua fakta sains ialah mengapa segala sesuatu yang dibutuhkan dan yang memungkinkan sebuah pembentukan semesta (apa yang disebut sebagai penggabungan buta antara kebetulan dan keharusan oleh teori evolusi ) tersedia sesuai kebutuhan? Mengapa kevakuman mungkin bagi fluktuasi kuantum? Mengapa alam kita seperti ini? dll. Pertanyaan-pertanyaan ini bergerak pada level metafisik yang tidak bisa dijangkau oleh ilmu ukur.

Agama dan Ketuhanan Masih Relevan

Dari pembahasan singkat di atas tampak bahwa ketersembunyian yang melampaui aras empiris dari kosmologi tetap merupakan lahan bagi kajian Teologis agama-agama. Allah sendiri bersifat ahistoris (melampaui kategori ruang dan waktu) dan tak terbatas. Hal ini menjawab persoalan waktu dalam teori Big bang—yang menyimpulkan bahwa tidak mungkin bagi pencipta untuk dulu ada sebab waktu dimulai sejak Big bang terjadi—sebab memang Allah tidak terikat pada waktu. Dalam forum dialog antara sains dan agama (Teologi), kiranya tidak ada masalah yang lebih besar dari pada kekacauan dalam memahami bagaimana alam semesta berasal. Kekacauan itu lebih rinci lagi ialah menyangkut waktu. Jika Big bang menandai permulaan temporal alam semesta, bagaimana menerima Tuhan untuk dulu ada? Sekurang-kurangnya ada dua masalah yang perlu diklarifikasi di sini.

Pertama, paham penciptaan dalam Teisme sering dikaitkan terutama pada permulaan temporal alam semesta secara keseluruhan. Padahal, paham penciptaan bukan hanya menyangkut penciptaan temporal, melainkan yang lebih utama merupakan soal asal usul ontologis, yaitu bahwa alam semesta terikat pada Allah seperti sumber radikal untuk seluruh adanya. Jadi, seluruh alam semesta tergantung pada-Nya dalam setiap eksistensinya. Dengan kata lain, penciptaan bukanlah perbuatan Allah pada permulaan saja, melainkan sesuatu yang berlangsung terus menerus. Kita hanya bereksistensi karena Allah terus menerus menciptakan kita. Kegiatan Allah ini tidak bersifat temporal, sebab ia sendiri tak terbatas. Konsekuensi dari paham penciptaan ini terhadap kemajuan sains modern ialah bahwa jika kemudian Big bang muncul menjelaskan awal temporal alam semesta, hal itu tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Teolofi atau Filsafat Ketuhanan, kecuali jika awal temporal itu menegaskan sifat kontingensi alam semesta sebab hal ini mengafirmasi kebutuhan mutlak pada realitas lain yang menyebabkan kemunculannya. Alam semesta butuh Tuhan.

Kedua, penciptaan merupakan konsekuensi logis dari sifat kontingen alam semesta. Sering kali hal ini luput dari spekulasi para saintis bahkan sekaliber Hawking sekalipun. Hal ini terbukti dari pernyataan Hawking demikian bahwa, “Jikalau alam semesta sama sekali dapat berdiri sendiri (self-contained), tanpa mempunyai batas atau tepi (pinggir), ia tidak akan mempunyai awal maupun akhir; ia hanya berada saja. Dan kalau begini, tempat mana masih akan ada untuk seorang pencipta?” Para teolog akan menjawab lugas bahwa semua tempat ada untuk sang pencipta. Mengapa demikian? Karena alam semesta ini perlu diciptakan karena ia bersifat fana, kontingen, dan bahwa tiadanya awal atau akhir pada alam semesta tidak akan membebaskannya dari kontingensinya. Sebab hal itu hanya menjelaskan bahwa kontingensinya berada sejak selama-lamanya. Dengan demikian, segala penemuan sains termutakhir mengenai asal-usul pembentukan alam semesta sejatinya tidak bertentangan dengan paham penciptaan dalam agama.

Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan di atas, kita bisa melihat bahwa relasi sains dan agama tidak saling meniadakan. Sejauh ini, banyak pandangan yang menempatkan sains dan agama sebagai dua hal yang sama sekali berbeda sehingga lebih baik dipisahkan justru supaya masing-masing berjalan sesuai bidangnya dan tidak saling campur tangan. Akan tetapi, tren untuk sebaliknya menempatkan kedua bidang ini dalam suatu relasi yang komplementer atau saling mengandaikan, telah terjadi dalam agama paling sedikit Gereja Katolik. Dalam berita yang dirilis oleh REPUBLIKA. co.id pada Selasa, 2 November 2014, Paus Fransiskus membuat pernyataan berani dan terbuka bahwa Big bang tidak bertentangan dengan campur tangan Tuhan sebagai pencipta, sebaliknya justru memerlukan itu.

Sikap terbuka Gereja terhadap penemuan sains sebenarnya telah disinyalir sejak Konsili Vatikan II 1962 dan dipertegas dalam Ensiklik Paus Yohanes Paulus II Fides et Ratio yang membahas tentang kesaling tergantungan antara iman dan akal budi. Kesadaran ini pun muncul dari sebagian besar saintis dan fisikawan, seperti Paul Davis, John F. Haught, dll. Dengan demikian, proyek bagi dialog saling mendengarkan antara agama dan sains terbuka lebar. Hal ini akan menjadi lebih produktif dan berdampak positif dari pada memisahkan kedua bidang ini yang kemungkinan justru menghatar keduanya jatuh pada ekstrim masing-masing.

Daftar Pustaka

Haught, John F. Perjumpaan Sains dan Agama. Diterjemahkan oleh Fransiskus Borgias. Bandung: Mizan, 2004.

Hetherington, Norriss S., Ed. Cosmology: historical, literary, philosophical, religious, and scientific perspectives. Newyork: Garland Publishing, 1993.

Kragh, Helge S. Conceptions of Cosmos. New York: Oxford University Press, 2007.

Leahy, Louis. Horizon Manusia: Dari Pengetahuan ke Kebijaksanaan. Yogyakarta: Kanisius, 2002.

Magnis-Suseno, Franz. Menalar Tuhan. Yogyakarta: Kanisius, 2006.

Supelli, Karlina. “Ciri Antripologis Pengetahuan.” dalam Dari Kosmologi ke Dialog, Disunting oleh Ihsan Ali-Fauzi dan Zainal Abidin Bagir, 21-81. Jakarta: Mizan, 2011.

REPUBLIKA.co.id. https://www.republika.co.id/berita/internasional/global/14/11/02/nedtna-paus-fransiskus-teori-big-bang-tak-bertentangan-dengan-aturan-tuhan). Diunduh pada 18/12/2018. Pkl. 15.52.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *