René Descartes: Method of Doubth dan Krisis Pasca Kebenaran

René Descartes: Method of Doubth dan Krisis Pasca Kebenaran

Fr. Patris Arifin sx

Riwayat singkat Descartes
Masyarakat tempat Descartes hidup berciri aristokrat, yaitu memberi tempat utama kepada para elit. Para elit ini menaruh minat pada persoalan metafisika Skolastik. Lagi, dari kalangan yang sama muncul pula minat baru pada matematika, geomeri, dan fisika. Dalam situasi itulah Descartes mulai membangun filsafatnya. René Descartes/ Renatus Cartesius lahir pada 31 Maret 1596 dalam sebuah keluarga bangsawan kecil di Kota La Haye Tourine, Prancis. Ayahnya ialah seorang pengacara yang aktif, sedangkan ibunya meninggal sejak kelahirannya. Kesehatan Descartes cenderung buruk.

Ia menderita batuk hampir sepanjang hidupnya. Meskipun demikian, Descartes memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata. Pada usia 8 tahun, Descartes masuk sekolah asrama milik Yesuit di La Fleche. Di sana ia belajar humaniora, teologi, dan filsafat (termasuk moral, logika, matematika, metafisika, dan ilmu pengetahuan alam). Kepandaiannya dikagumi oleh pater-pater Yesuit yang mengelolah sekolah itu. Bahkan ia diberi hak istimewa untuk bangun terlambat. Hal ini bukan tanpa alasan.

Para pembina asrama tampaknya maklum bahwa Descartes sering menemukan gagasan brilian selagi di atas ranjang. Akan tetapi, meskipun Descartes berprestasi dalam pelajaran, dia tetap tidak puas dan merasa kecewa dengan ketidakpastian dari hal-hal yang ia pelajari dan kesimpulan yang kontradiktif dari pelajaran-pelajaran itu. Sebagai mahasiswa modern, dia kewalahan dengan banyaknya pandangan yang ia jumpai. Hal inilah yang akhirnya mendorong Descartes untuk menulis buku berjudul “Discours de la méthode”. Ia mengatakan demikian “Saya merasa malu dengan banyaknya keraguan dan kesalahan yang menampakkan bagi saya bahwa usaha saya untuk menuntun diri saya tidak memberi dampak, selain dari pada bertambahnya penemuan akan ketidaktahuan saya.” Inilah awal pencarian Descartes akan suatu kepastian yang dapat memberi dasar untuk refleksi filosofis. Setelah meraih gelar hukum di Poitiers pada 1616 dia bergabung dalam kelompok militer sebagai sukarelawan pemberani. Sambil menjalankan tugas, ia mencoba menemukan ide untuk menghubungkan kepastian matematis dengan filsafat.

Sebab ia berpendapat bahwa pengetahuan harus berdiri pada kepastian. Sejak saat itu, Descartes melancong ke beberapa negara Eropa seperti Belanda, Swiss, Jerman, Hungaria, Italia dan Swedia. Sambil melancong, ia menjalin hubungan dengan para pemikir lain seperti Hobbes, T. More, dll. Descartes meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun. Karya-karya filsafat besarnya ialah, Rules for The Direction of The Mind (ditulis 1628, tetapi baru dipublikasikan pada 1707), Discourse on Method (1637), Meditations on First Philosophy (1641).

Rasionalisme dan Empirisme
Pada setiap tahap perkembangan filsafat dari zaman ke zaman, kita dapat menemukan perbedaan atau variasi minat refleksi. Demikian misalnya, meskipun filsafat Yunani tidak hanya membahas soal kosmos, zaman itu tetap saja memberi perhatian besar pada persoalan kosmologi. Demikian pun filsafat abad pertengahan mempunyai arus utama yang menjurus pada perkara ketuhanan dengan kata kunci penciptaan. Minat-minat inilah yang menjadi karakter filsafat di suatu zaman.

Sebagaimana zaman-zaman lain, filsafat zaman modern memiliki beberapa ciri yang mendeterminasinya (meskipun tidak begitu ketat) dari filsafat zaman-zaman sebelumnya. Satu yang paling menojol ialah bahwa filsafat modern menaruh minat pada masalah kesadaran. Hal ini tidak berarti bahwa pada zaman-zaman sebelumnya, soal kesadaran tidak diperhatikan. Yang mau dikatakan di sini ialah bahwa di zaman modern, perkara kesadaran bukan hanya sebagai agenda tambahan, melainkan ditempatkan sebagai proyek utama. Salah satu unsur kesadaran ialah rasionalitas. Dengan itu, filsafat zaman modern mau menegaskan bahwa manusia dapat mengandalkan rasio untuk memahami kenyataan. Pada zaman inilah, kedewasaan berpikir mencapai kepenuhannya, yaitu dengan menempatkan akal budi sebagai unsur primat. Kebenaran tentang segala sesuatu dijelaskan berdasarkan prinsip-prinsip objektif, lepas dari otoritas transenden. Akibat langsung dari sekularisasi pemikiran ini ialah munculnya dua aliran besar yang saling bertentangan satu dengan yang lain, yaitu rasionalisme dan empirisme.

Rasionalisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan yang sejati adalah akal budi (rasio), bukan pengalaman. Pengalaman hanya meneguhkan pengetahuan yang didapat oleh rasio. Rasio sendiri tidak memerlukan pengalaman sebab ia dapat menurunkan kebenaran-kebenaran pengetahuan oleh dirinya sendiri berdasarkan azas-azas yang pertama dan pasti. Metode yang diterapkan ialah deduktif. Empirisme, sebaliknya, merupakan aliran filsafat yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan ialah pengalaman (Yun. Empeiria), baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah. Rasio hanya bertugas untuk menata atau mengolah data-data yang diserap oleh pengalaman untuk dijadikan pengetahuan. Metode yang diterapkan ialah metode induksi.


Descartes: Tokoh Rasionalisme

Sebagaimana Bacon, Descartes memulai filsafatnya dengan menyapu bersih semua “kesalahan pola pikir terdahulu”. Jika Bacon mendasarkan pengetahuan pada observasi empiris, Descartes mendasarinya pada matematika, khususnya geometri. Baginya, pengetahuan harus berdiri atas dasar kepastian dan satu ilmu yang di dalamnya ia temukan kepastian ialah matematika. Kebenaran matematis menurutnya begitu meyakinkan tidak peduli apa asumsi metafisis dan epistemologis seseorang. Entah ia Katolik atau Islam, Prancis atau Jerman, 3 x 3 = 9 berlaku universal. Meskipun demikian, ilmu pasti bukanlah metode yang sebenarnya bagi ilmu pengetahuan. Ilmu pasti menjadi contoh saja bagi sebuah cara pengenalan yang maju. Oleh karena itu, Descartes menawarkan suatu metode baru yang dikenal dengan sebutan ‘Metode kesangsian’. Karena pencarian akan kepastian sangat sentral bagi Descartes, ia memulai filsafatnya dengan sebuah metode kesangsian total untuk dapat menemukan dasar yang kokoh bagi kenyataan. Dalam meditasi pertama (What can be called into doubt) Descartes mencoba melawan argumen naif bahwa segala hal yang dipelajari melalui indra pantas dipercaya. Ia mengatakan demikian.

“Dari waktu ke waktu, saya menemukan bahwa indra itu menipu. Dan adalah suatu sikap bijaksana untuk sama sekali tidak mempercayai apa pun yang menipu kita bahkan untuk sekali saja.”

Karena indera kadang menipu, dan bahwa tak ada hal yang menampakkan diri sebagaimana adanya dan tidak memberi alasan kepada kita, maka Descartes menolak segala alasan. Demikian Descartes memulai filsafatnya dengan keraguan radikal untuk menemukan titik awal bagi sebuah refleksi filosofis. Meskipun kelihatan bertentangan, “kesangsian” justru dipakai untuk menemukan kepastian apakah ada sesuatu yang tidak dapat diragukan. Dalam metode ini, dibayangkan seandainya semua yang ada hanyalah muslihat mimpi atau khayalan, toh masih dapat dipastikan bahwa sekurang-kurangnya, “aku yang menyangsikan” bukanlah hasil dari mimpi-mimpi. Semakin aku bisa meragukan, semakin jelaslah bahwa aku yang menyangsikan nyata ada dan itu tidak dapat diragukan. Menyangsikan adalah berpikir. Dengan berpikir, kita dapat menemukan kesadaran diri atau cogito. Cogito ini ditemukan dalam pikiran kita sendiri. Dengan demikian, dasar pengetahuan ialah rasio, bahwa segala sesuatu diturunkan dari prinsip utama dalam pikiran manusia. Dengan ini Descartes menjadi pencetus rasionalisme modern.

Sebuah Metode

I realized that once in my life I had to raze everything to the ground and begin again from the original foundations, if I wanted to establish anything firm and lasting in the sciences. —Descartes (Meditation I) .

Tema sentral filsafat Descartes ialah tentang metode. Itulah sebabnya mengapa tulisan filosofisnya yang paling awal, yakni Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641) memusatkan perhatian pada soal metode. Dalam bagian pertama (I) Discours de la méthode (Discourse on the Method), Descartes menulis demikian,
Mengenai filsafat, saya hanya mengatakan demikian: mengingat bahwa filsafat telah dikerjakan selama berabad-abad oleh pikiran-pikiran manusia yang paling unggul dan namun belum ada tema dalam filsafat yang tidak menjadi bahan perdebatan dan oleh karena itu meragukan … Dan mengingat betapa banyak jawaban yang berbeda-beda yang diajukan oleh orang-orang terpelajar mengenai sebuah pertanyaan – sekalipun tidak mungkin bahwa jawaban yang benar atas pertanyaan itu lebih dari satu – maka saya beranggapan bahwa apa yang hanya mungkin (probable) adalah salah.
Descartes pada dasarnya menginginkan suatu kerangka filsafat yang pasti dan terpilah-pilah. Hal mana belum ia temukan dalam sepanjang sejarah filasafat. Menurutnya, satu kesalahan filsafat skolastik dan Aristotelian yang sebelumnya ia pelajari ialah bahwa mereka tidak memiliki metode yang jelas dalam membangun sebuah pengetahuan sehingga setiap teori atau pendapat selalu dibantah atau dikritik oleh pemikiran lain. Solusi bagi persoalan ini menurutnya ialah metode.

Dalam tulisannya Rules, Descartes mendefinisikan metode sebagai “Seperangkat aturan yang dapat diterapkan dengan mudah, dan bila orang mengikuti metode itu dengan tepat, orang tidak akan keliru menganggap apa yang keliru sebagai benar atau memperluas kekeliruan pemikiran orang tanpa hasil, melainkan akan secara perlahan-lahan dan konstan meningkatkan pengetahuan seseorang hingga tiba pada pengetahuan yang benar mengenai segala sesuatu yang berada dalam kapasitasnya.” Untuk lebih jelas memahami apa yang dimaksudkan Descartes dengan metode, kita perlu mengetahui empat prinsip metode. Pertama, tidak pernah menerima apapun sebagai benar jika saya tidak memiliki bukti apa pun mengenai kebenarannya. Kedua, membagi kesulitan yang ditemukan ke dalam sebanyak mungkin bagian. Ketiga, mengarahkan pikiran pada cara atau langkah-langkah yang teratur, dengan memulai dari hal-hal yang paling mudah dan sederhana, untuk kemudian sedikit demi sedikit meningkat ke pengetahuan yang lebih kompleks. Keempat, selalu melakukan pencacahan secara lengkap dan pemeriksaan sedemikian komprehensif, sampai saya yakin tak ada satupun yang terlewatkan.

The Method of Doubth (Metode Kesangsian)
Menurut Descartes, ilmu pengetahuan harus berdiri pada suatu metode yang umum. Juga bahwa yang dilihat sebagai benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah. Lalu, bagaimana cara menemukan yang pasti sebagai basis bagi refleksi filsafat? Menurut dia, jika syarat kebenaran ialah sesuatu yang jelas dan terpilah-pilah, maka kebenaran (apa yang jelas dan terpilah) itu tidak mungkin berada pada apa yang berada di luar kita atau yang secara indrawi tampak (sensory accessable), sebab seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa indra kadang menipu. Misalnya, ketika kita mengamati lilin dengan indera kita, tangan akan menyentuhnya sebagai benda yang berpermukaan keras, hidung akan mencium bau plastik, mata akan mengamati warnanya, dll. Akan tetapi ketika lilin itu dibakar, sifanya berubah. Sekarang benda itu meleleh, hancur, cair dan tidak keras seperti sediakala. Jadi yang tampak itu bukanlah lilin yang sesungguhnya. Lilin yang sesungguhnya atau ke-lilin-an (per se) hanya dapat dijangkau oleh rasio. Dengan kata lain, apa yang kita lihat semata-mata hanya dapat sungguh-sungguh kita ketahui melalui rasio. Dalam pengalaman inderwi, kita sama dengan binatang, hanya menangkap kesan.

Untuk itu, Descartes berpendapat bahwa kita mesti meragukan segala hal yang kita amati terutama yang menggunakan atau melalui indera (senses). Alasannya lugas bahwa segala sesuatu yang benar dan terpilah harusnya tidak bisa diragukan dan dengan demikian bisa menjadi dasar bagi pengetahuan. Metode ini disebut ‘metode kesangsian’ (Method of Doubth). Dengan metode kesangsian dimaksudkan bahwa, kita membersihkan pikiran dari segala macam prasangka, asumsi, nilai-nilai dan pengetahuan-pengetahuan yang kita miliki tapi belum teruji kebenarannya. Dengan begitu, kita dapat menemukan apa yang kedudukannya tidak tergoncangkan yang mestinya merupakan suatu kebenaran mutlak sebagai dasar untuk pengetahuan. Inilah sebabnya keraguan merupakan metode, bukan keraguan demi keraguan itu sendiri. Dalam meditasi I (Things That Can Be Called into Doubt), Descartes menulis tentang apa saja yang bisa diragukan. Pertama-tama, ia meragukan indera kita. Segala sesuatu yang diperoleh lewat indra terbukti dalam sejarah banyak kali menipu. Descartes menulis sebuah contoh yang sangat indah demikian,

“Sebagai contoh, bahwa saya sedang duduk di samping perapian memegang sehelai kertas dan mengenakan gaun panjang. Bagaimana dapat diingkari bahwa segala yang saya miliki, tangan dan seluruh badan saya bukan milik saya? Barangkali kecuali jika saya menyamakan diri saya dengan orang gila yang otaknya bermasalah yang dengan teguh berpikir bahwa mereka raja padahal mereka orang miskin, yang mengatakan mereka berpakaian ungu saat mereka telanjang, atau bahwa kepala mereka terbuat dari tembikar atau labu, atau terbuat dari kaca. Tetapi, orang-orang demikian ialah orang gila, dan saya akan berpikir sama gilanya jika saya mengambil segalanya dari mereka sebagai model untuk saya… A brilliant peace of reasoning! Seandainya saya bukanlah seorang yang tidur di malam hari, dan secara teratur mengalami pengalaman yang sama saat tidur seperti yang dialami oleh orang gila ketika bangun … Dengan begitu saya melihat bahwa tidak ada tanda sama sekali bahwa bangun berbeda dari tidur. Dan hal ini hanya akan semakin meneguhkan bahwa janga-jangan saya sedang tidur.”

Intinya ialah bahwa jika bertumpu pada pengamatan indera, kita tidak dapat memilah dengan pasti hal yang riil dari yang tidak riil. Jika kadang-kadang orang gila bisa menghayal sesuatu yang seolah riil namun tidak sesuai kenyataan yang sebenarnya dan dalam tidur, misalnya, kita sering melihat, mendengar, merasa atau mengalami hal-hal yang kelihatan sangat nyata padahal kita sedang tidur pulas, apakah keadaan kita sekarang tidak sama dengan keadaan orang gila tadi? Pengetahuan yang bertumpu pada pengamatan indera tidak ada bedanya dengan mendasarkan pengetahuan pada mimpi. Demikian, Descartes mengklaim bahwa indera tidak bisa dipercaya.

Lalu, bagaimana dengan matematika? Mengapa Descartes tidak menggunakan metode matematika saja? Dalam Rules for the Direction of Mind, Descartes mengatakan bahwa dari semua ilmu yang sejauh ini ditemukan, hanya aritmetika dan geometri-lah, sebagaimana dikatakan di atas, yang bebas dari cacat kesalahan atau kepastian. Akan tetapi, ia juga masih ragu-ragu dengan aritmetika dan geometri sebab dalam kedua ilmu pasti ini juga kita sering melihat ada orang yang keliru dalam melakukan penalaran. Oleh karena itu, penalaran matematis pun tidak bisa menjadi dasar bagi kebenaran yang harus pasti dan tidak boleh hanya merupakan probabilitas. Singkatnya, menurut Descartes, segala hal yang meragukan, sekecil apapun, dan segala hal yang pernah menipu kita atau orang lain, harus ditolak sejak awal.

Lebih lanjut, Descartes juga berbicara tentang Tuhan. Bagaimana dengan Tuhan, apakah Tuhan bisa menjamin kebenaran? Descartes memang mengakui bahwa harus ada Tuhan yang menciptakan makhluk seperti dia (manusia). Akan tetapi, apa jaminannya bahwa Tuhan yang maha baik itu tidak mengijinkan kita salah? Bagaimana jika justru sebaliknya bahwa Tuhan yang dengan kemahakuasaannya membiarkan kita tidak selalu benar? Buktinya, dalam banyak hal orang yang merasa memiliki pengetahuan sempurna sekalipun tetap saja mengalami kesalahan. Akan tetapi, jika demikian penalarannya, hal itu tidak sejalan dengan konsep tuhan sebagai maha baik. Oleh karena itu, Descartes menyimpulkan bahwa bukan Tuhan yang adalah kebaikan mutlak yang menipu saya, melainkan ada “setan yang cerdas“ (genius malignus) atau setan penipu yang licik dan menipu pikiran kita sehingga dalam melakukan penalaran atas masalah matematika yang paling jelas dan terpilah-pilah pun kita sering salah. Dengan itu, menurut Descartes, kita harus meragukan apapun (keraguan radikal), meninggalkan semua prasangka, asumsi-asumsi yang belum teruji kebenarannya untuk memulai suatu filsafat yang baru.

Dengan keraguan radikal dimaksudkan demikian bahwa seandainya saja memang kita benar-benar tertipu habis-habisan, paling tidak aku yang meragukan itu tidak bisa diragukan. Bahwa dengan merasa diri keliru berarti saya berpikir. Dan tidak mungkin ada aktivitas berpikir seandainya saya tidak ada. Dalam Principles of Philosophy, ia menulis: “…Karena tentu sebuah kontradiksi menganggap bahwa sesuatu yang berpikir itu tidak ada justru ketika dia sedang berpikir. Karena itu, butir pengetahuan ini – saya berpikir, oleh karena itu, saya ada – adalah yang paling pasti dan yang paling pertama yang diperoleh siapa saja yang berfilsafat dengan cara yang tertib.” Descartes kemudian mengatakan, Je pense donc je suis atau Cogito ergo sum (Aku berpikir, maka aku ada). Cogito/(Aku) merupakan suatu kebenaran yang tidak terbantahkan atau tidak dapat diragukan lagi. Ia terpilah-pilah dan jelas. Cogito ditemukan lewat pikiran kita sendiri, bukan melalui kitab suci atau dongeng, dsb. Oleh karena itu, berfilsafat menurut Descartes ialah melontarkan persoalan metafisis untuk menemukan sebuah fenomen yang pasti, yaitu suatu titik yang tak bisa goyah seperti aksioma matematika dan hal itu hanya bisa dicapai melalui sebuah metode kesangsian. Pembahasan lebih lanjut mengenai Cogito tidak akan disinggung di sini.

Kritik Atas “Konsep Kesadaran Diri” Descartes

Menanggapi penemuan besar Descartes mengenai kesadaran diri sebagai basis pengetahuan melalui metode kesangsian, kiranya baik jika di sini disertakan juga kritik dari para tokoh empiris. Dari sejumlah filsuf empiris seperti Locke, Hobbes, dll., kiranya Hume lebih dikenal radikal mengkritik konsep kesadaran diri yang diklaim tak terbantahkan dalam rasionalisme Descartes. Jika Hobbes mengkritik rasionalisme tatapi masih meyakini adanya suatu substansi pada materi dan Locke mengkritik adanya ide bawaan dalam teori Descartes tetapi masih menerima adanya ‘Aku’ yang tersusun atas ide-ide bawaan yang darinya diturunkan segala pengetahuan, Hume tidak hanya mengkritik rasionalisme itu. Ia bahkan secara radikal meragukan adanya subjek atau ‘Aku’ tersebut termasuk kepercayaan akan adanya substansi dalam Empirisme. Yang ingin dikatakan di sini ialah bahwa ‘kesadaran diri-Cogito-pikiran’ yang menurut Descartes tidak bisa dibantah lagi menurut Hume, masih sangat rapuh untuk disangsikan.

Hume mengatakan demikian, bahwa yang kita sebut pikiran tidak lebih dari suatu gugus pembentukan, pengalihan dengan menambah atau mengurangi apa yang diperoleh melalui indera atau pengalaman. Misalnya ketika kita berpikir tentang sebuah gunung emas, kita hanya melibatkan dua ide yang konsisten di sana, yaitu gunung dan emas yang sudah kita kenal sebelumnya. Lebih lanjut, menurut Hume, manusia menerima kesan, idea dan persepsi yang membentuk suatu kesatuan ciri yang senantiasa ada bersama kita yang kita sebut “diriku”. Jadi, apa yang kita sebut sebagai ‘Aku/diriku’ itu tidak lebih dari sekumpulan persepsi saja. Cara paling sederhana untuk membuktikan itu ialah saat kita tidur. Hume mengatakan bahwa sewaktu tidur, “diriku” itu tidak ada. Atau saat kita mati. Saat seseorang mati, persepsi-persepsi hilang total. Itu artinya, “diriku” bukanlah kenyataan. Dengan itu, Hume menolak segala implikasi dari paham rasionalisme tentang ide-ide bawaan.

Metode Kesangsian Di Era Pasca Kebenaran
Saat ini, kita telah memasuki era pasca kebenaran (Post-Truth Era) merujuk pada publikasi akademik berupa buku berjudul “The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life” tulisan Ralph Keyes. Dalam tulisan itu, Keyes mendefinisikan Post-truth demikian,
“Even though there have always been liars, lies have usually been told with hesitation, a dash of anxiety, a bit of guilt, a little shame, at least some sheepishness. Now, clever people that we are, we have come up with rationales for tampering with truth so we can dissemble guilt-free. I call it post-truth.”

Ciri dari Post-truth ialah lumrahnya penipuan atau kebohongan di berbagai taraf kehidupan masyarakat kontemporer dan lebih parah lagi bahwa orang tidak lagi merasa bersalah dan mencoba melakukan rasionalisasi. Hal ini tampak dalam motif-motif orang berbohong. Fenomena ketidakjujuran terjadi dilatarbelakangi oleh banyak alasan seperti penolakan akan etika, soal kenyamanan, popularitas, atau kadang juga terjadi tanpa alasan. Soal kenyamanan misalnya, seorang istri lebih memilih mengatakan pada suaminya bahwa betapa nikmatnya hubungan seks mereka yang sesungguhnya tidak menyenangkan.
Menilai Fenomena ini, Ludwig Wittgenstein beranggapan bahwa gejala ketidakjujuran di era post-truth lebih tepat merupakan soal pergeseran kebenaran objektif menjadi persoalan perasaan saja, soal kenyamanan dalam memilih apa yang harus dikatakan. Menanggapi feomena ini, masyarakat kontemporer masih memilih berlindung di balik ilusi kepercayaan pada kemapanan atau label kredibilitas. Menurut Keyes, saat ini kita kurang menaruh perhatian pada persoalan kebenaran per se, melainkan pada kecenderungan untuk berlaku jujur pada subjek. Misalnya, asal saja sebuah berita diterbitkan oleh KOMPAS, akurasinya seolah-olah tidak perlu diragukan. Kebenaran menjadi hanya soal kredibilitas atau ilusi kemapanan.

Bila masuk jauh lebih dalam, pembahasan mengenai fenomena post-truth bisa jadi sangat luas dan kompleks. Akan tetapi, secara garis besar ide yang ingin disampaikan ialah pergeseran kebenaran objektif menjadi persoalan subjektif semata dan oleh karena itu menjadi relatif. Akibatnya, tak ada lagi standar atau patokan, semua menjadi abu-abu. Hal ini diperparah misalnya dengan berkembang pesatnya jumlah media massa seiring perkembangan teknologi yang makin mapan. Saat ini hampir tak terbilang jumlah media informasi on-line dengan tingkat kualitas publikasi, objektivitas, dan kepentingan yang beragam.

Dalam fenomena ini, saya pikir, keraguan metodis Descartes mendapat tempat atau bahkan mutlak sifatnya. Keraguan di sini tidak ada kaitannya dengan pesimisme terhadap kebenaran sebab jika demikian, kehidupan bersama justru dipertaruhkan. Dengan kesangsian metodis lebih dimaksudkan sebagai sikap kritis, kalkulatif, dan kehati-hatian dalam menilai informasi yang tujuannya justru agar kebenaran tetap terjaga dan masyarakat kita tidak makin terperosok ke dalam jurang krisis etika dan kebenaran.

Daftar Pustaka

Broughton, Janet. Descartes’s Mothod of Doubth. New Jersey: Princeton University Press.
2002.

Cottingham, John, Robert Stoothoff, Dugald Murdoch, Anthony Kenny. ed. the philosophical
writings of descartes. Newyork: Cambridge University Press. 1991.

Descartes, René. Translated by Donald A. Cress. Discourse on Method and Meditations on First
Philosophy fourth edition. USA: Hackett Publishing Company. 1998
——————. Translated by John Veitch, ll. d. The Principles Of Philosophy. USA: Blackmask Online. 2002.

E. Baird, Forres and Walter Kaufmann. ed. Modern Philosophy. New Jersey: The Clarinda
Company. 1997.

Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern: Dari Marchiavelli Sampai Nietzsche. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama. 2004.

H. Joachim, Harold. ed. Descartes’s Rules For The Direction Of The Mind. London: East
Midland Printing Company. 1957.

Keyes, Ralph. The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life. New York:
St. Martin’s Press. 2004.

Widiwijono, Harun. Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius. 1980.

Sitorus, Fitzerald Kennedy. Rasionalisme René Descartes: “Saya Berpikir, maka Saya Ada”.
Makalah Kelas Filsafat Salihara November 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *