HANTARLAH ANAK-ANAK ITU KE PANGKUANKU

HANTARLAH ANAK-ANAK ITU KE PANGKUANKU

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA 27
Kejadian 2:18-24;
Ibrani 2:9-11;
Markus 10:2-16

Keharmonisan hidup manusia telah dirancang sedemikian indah oleh Allah. Adam, yang semula hidup di tengah keramaian ciptaan lain, pada akhirnya mendapat teman hidup yang sepadan. Ia adalah Hawa, seorang perempuan yang menjadi penolong dan pendamping dalam kehidupan Adam. Semuanya itu ditata dalam balutan kasih Allah sehingga mereka menjadi satu daging dan mengawali kehidupan bersama sebagai tanda kehadiran Allah di tengah-tengah ciptaan-Nya yang mulia. Kesatuan itu tak terceraikan, tak dapat dipisahkan oleh apa pun bahkan oleh manusia, sebab ada tertulis, “Apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia” (Mat. 19:6).

Dalam janji nikah, tekanan akan kesatuan ini sungguh membuat hati orang yang menyaksikannya berseri-seri. Ketika mendengarkan ucapan yang mengikat kedua mempelai itu, ada perasaan bangga, bahagia, dan dek-dekan; berharap agar pasangan yang mengikat janji itu hidup seturut dengan apa yang mereka ungkapkan. Hidup dalam suka ataupun duka, senang ataupun malang, serta dalam semua komitmen hidup yang mereka akan hadapi. Kiranya, ucapan itu bukan sekedar janji manis saja, melainkan merupakan pegangan hidup dalam memberikan kesaksian kepada dunia tentang betapa besarnya kasih Kristus kepada manusia. Ingatlah, Rasul Paulus pernah mengingatkan, “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya (Ef. 5:33).”

Dalam bacaan Injil yang kita dengarkan hari ini (Mrk. 10:2-16), Yesus dikisahkan tengah berhadapan dengan orang-orang Farisi yang hendak mencobai Dia. Mereka mempersoalkan tentang boleh tidaknya suami menceraikan isterinya. Seperti biasa, Yesus tentu memberikan jawaban yang lihai dan menohok. Kira-kira, apakah Yesus mengiyakannya? Jelas saja tidak. Yesus mengatakan bahwa perceraian itu sama dengan perzinahan. Siapa yang bercerai, bukan saja menghina pasangan hidupnya tetapi juga menghina Allah yang telah mempersatukan mereka.

Akan tetapi, renungan kita pada hari ini tidak akan berhenti pada kasus perceraian saja. Ketika membaca keseluruhan kisah tersebut, kita akan diajak untuk melihat betapa pentingnya peranan orang tua yang mesti bertindak sebagai teladan bagi buah hati mereka masing-masing. Ternyata bacaan Injil menawarkan sesuatu yang lebih daripada pentingnya untuk tetap setia satu sama lain dalam ikatan kasih. Kesetiaan suami isteri bertujuan untuk perkembangan iman anak dalam mengenal Yesus Kristus.
Cinta kasih dalam keluarga menjadi pegangan bagi seorang anak untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Dalam kehidupannya, tentu saja anak akan lebih melihat gaya hidup kedua orang tuanya. Jika sering terjadi keributan, piring terbang, gelas pecah, meja terjungkal, anak pun akan bertumbuh dalam ketakutan yang pada akhirnya membentuk kebencian dalam dirinya kepada orang tuanya. Sebaliknya, ketika kedua orang tua tampil sebagai teladan yang baik, dalam diri anak pun akan tumbuh nilai-nilai kebaikan yang akan berbuah di tengah kemajemukan lingkungan sosialnya.

Apa yang menjadi peran orang tua? Yesus mengatakan, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku” (Mrk. 10:14). Dengan demikian, sudah jelaslah apa yang menjadi tugas kita sebagai orang tua. Menghantar anak-anak kepada Yesus, agar Ia meletakkan tangan ke ata mereka dan memberkati mereka. Jika di tengah-tengah keluarga hanya ada pertengkaran, maka kita sama halnya dengan para murid, yakni menjadi penghalang saja. Mengapa? Bukankah ketika anak melihat orang tuanya bertengkar, mereka kemudian jatuh dalam kebingungan?

“Aku mau ke mana?” tanya si anak. Ia kehilangan arah dan kemudian mencari-cari penghiburan yang tidak ia temukan di dalam keluarganya. Ia mengurung diri di kamar, entah bermain gadget atau game atau bahkan hal lainnya. Ia pergi kabur dari rumah, dan entah ke mana perginya—syukur-syukur ia pergi ke gereja karena sudah sempat mengenalnya. Tapi jika tidak, bukankah dengan demikian, orang tua hanyalah penghalang bagi anak-anaknya untuk mengenal Yesus lebih dalam lagi.
Maka, di sinilah pentingnya menjadi orang tua yang dilingkupi oleh kasih Allah. Sebagai teladan bagi anak-anaknya, orang tua perlu menjaga keharmonisan di tengah-tengah keluarga. Tidak lupa, untuk memperkenalkan Yesus Kristus kepada mereka sebab itulah tugas utama yang dilimpahkan Gereja kepada orang tua. Keluarga harus menjadi tempat pertama bagi anak untuk mengenal Yesus Kristus. “Janganlah halang-halangi anak-anak itu datang kepada-Ku, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah.” Orang tua mesti menjadi tanda kehadiran Allah bagi buah hati mereka. Tuhan memberkati. Amin.

Fr. Friwandi Nainggolan, sx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: