Mari Melangkah Meraih Kerendahan Hati yang Total

Mari Melangkah Meraih Kerendahan Hati yang Total

Minggu ke XXV
(Markus 9:30-37)

Dalam merenungkan bacaan ini, saya mencoba menghubungkannya dengan bacaan-baacan Injil hari Minggu sebelumnya. Pada hari Minggu ke XXIII, Bacaan Injil (Markus 7:31-37) berbicara mengenai Yesus yang menyembuhkan orang tuli dan gagap. Hal ini menegaskan betapa pentingnya sikap rendah hati dalam mendengarkan sesama serta kecakapan dalam bertutur kata sehingga apa yang kita ungkapkan dapat memberi hal yang baru dan menginspirasi. Ini menjadi satu isyarat kepada kita bahwa menjadi pribadi yang bijaksana itu tidak terlepas dari aspek mendahulukan sikap mendengar baru berbicara. Sangat jelas bahwa kita tidak mungkin dapat berbicara tentang sesuatu jika tidak memiliki pengetahuan dan untuk memiliki pengetahuan itu kita dituntut untuk terlebih dahulu mendengarkan sesama. Mendengar dengan baik akan membantu kita untuk masuk dalam dunia pewartaan yang lebih mendalam dan sikap mendengar itu pun sudah merupakan cara kita mewartakan kebaikan.

Bacaan Injil pada hari Minggu ke XXIV (Markus 8:27-35) berbicara mengenai Yesus yang bertanya kepada para murid,tentang siapakah Dia bagi mereka. Beragam jawaban yang diberikan para murid dan Petrus-lah yang menjawab dengan tepat bahwa Yesus adalah Mesias. Barulah setelah itu para murid mendengar adanya larangan dari Yesus untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun mengenai hal itu. Kisah ini dilanjutkan dengan tindakan Yesus yang memberitahu mengenai penderitaannya kepada para murid yang disertai dengan syarat-syarat untuk menjadi pengikut-Nya.

Dalam kisah yang familiar ini, kita menemukan tindakan Petrus yang berusaha menjadi pahlawan agar dapat mengatasi penderitaan yang akan terjadi pada Yesus. Akan tetapi, Yesus memarahi dia dengan kata “Enyalah Iblis”. Kalau dalam kitab suci Bahasa Inggris tertulis “Get behind Me”. Kita bisa memetik satu pesan dasar dari hal ini bahwa menjadi murid Kristus itu terlebih dahulu berjalan mengikuti Yesus dan bukan berjalan di depan atau mendahului Yesus. Berjalan mengikuti itu berarti berjalan sembari belajar dan mendengarkan apa yang diajarkan Yesus. Jelas bahwa tidak cukup hanya menikmati rahmat mukjizat dari Yesus yang memyembuhkan ketulian dan kegagapan kita. Kita sendiri mesti tetap berjalan dalam proses sepanjang hidup untuk menangkap pesan Tuhan kepada kita.

Bacaan Injil yang ditawarkan pada hari Minggu biasa ke XXV ini mengisahkan Yesus yang kedua kalinya memberitahukan penderitaan yang akan Dia jalani dan perdebatan antara para murid mengenai siapa yang terbesar di antara mereka. Jika direnungkan secara mendalam bahwa setelah Yesus memberitahukan penderitaan yang akan dijalani-Nya, tidak ada satu pun dari para murid yang berani bertanya, sementara mereka tidak mengerti. Alasan para murid untuk tidak bertanya adalah sederhana bahwa mereka merasa segan. Mungkin banyak hal yang dapat kita pikirkan mengenai apa sebenarnya yang menjadi dasar dari perasaan segan yang dialami para murid.

Jika dikaitkan dengan bacaan Injil yang kita dengarkan di Hari Minggu biasa ke XXIV yang mengisahkan Petrus yang mencoba menjadi pahlawan dengan berusaha mengatasi penderitaan yang akan dijalani Yesus tetapi Yesus segera menegornya, maka barangkali kita akan berkesimpulan bahwa para murid merasa takut akan ditegor seperti yang dialami Petrus. Maka alternatif yang tepat bagi mereka adalah memilih untuk diam meskipun tidak mengerti. Dari hal yang sederhana ini kita dapat memetik sebuah pesan yang sangat dalam bahwa seringkali kita tenggelam dalam rasa takut dan tidak mampu untuk melampaui masa lalu. Kita seringkali dikuasai oleh masa lalu yang membuat sakit hati atau kegagalan yang membuat kita takut untuk mencobanya lagi. Memang tidak salah juga bahwa masa lalu dapat membuat kita mawas diri, tetapi jika hal itu sampai menguasai keutuhan hidup kita tidaklah baik.

Perdebatan para murid mengenai siapa yang terbesar dari antara mereka justru menciptakan jalan untuk menemukan arti hal yang tidak mereka pahami saat Yesus membicarakan penderitaan yang akan dijalaniNya untuk kedua kalinya. Yesus menjadikan seorang anak sebagai contoh bagi mereka dalam hidup bersama bahwa menjadi anak-anak itu tidak mengenal rasa malu dan segan untuk bertanya jika mereka ingin mengetahui. Demikian pun menjadi pengikut Kristus haruslah meninggalkan rasa takut dan segan. Selimut kemartiran sudah menjadi teman kita di mana pun kita berada dalam mewartakan kabar baik.
Maka pesan yang sangat sederhana bagi kita adalah bahwa mengikuti Kristus berarti tidak merasa gensi bersikap rendah hati untuk mendengarkan sesama, berani menjadi pewarta, berani bertanya untuk kebaikan dan selalu berjalan di belakang Yesus untuk belajar banyak hal dari-Nya.

Fr. Arnold sx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: