Mata, Telinga dan Mulut Adalah Kunci Menuju Hidup Bersama yang Aman dan Damai

Mata, Telinga dan Mulut Adalah Kunci Menuju Hidup Bersama yang Aman dan Damai

Minggu Biasa XXIII
Bacaan: Yes. 35:4-7a; Yak. 2:1-5; Mrk. 7:31-37

Mata, telinga dan mulut adalah bagian dari anggota tubuh manusia yang memiliki peran yang sangat penting bagi proses dan dinamika kehidupan manusia. Mata, telinga dan mulut memiliki peran yang khas masing-masing dalam seluruh proses bertumbuh dan berkembang manusia. Mata memiliki peran sebagai penghubung bagi manusia melihat dan menikmati segala sesuatu yang ada di luar dirinya. Telinga memiliki peran sebagai penghubung bagi manusia untuk mendengar dan menikmati segala macam jenis suara dan mulut memiliki peran sebagai penghubung bagi manusia untuk menikamati segala macam makanan dan minuman yang bisa dimakan dan diminum serta untuk mengungkapak secara verbal tentang apa dan siapa dirinya.

Ketidakutuhan fungsi ketiga bagian tubuh ini sangat mengganggu dan seringkali membuat manusia seolah-olah menjadi sangat terbatas. Ada begitu banyak hal yang terlewatkan apabila ketiga bagian tubuh ini mengalami gangguan. Sebagai penghubung antara dimensi relaitas internal dan realitas eksternal manusia, mata, telinga dan mulut menjadi penentu orientasi hidup manusia.

Bukan sebuah kebetulan bahwa pada hari Biasa ke XXII ini bacaan yang ditampilkan adalah kisah pemulihan kembali fungsi mata, telinga dan mulut yang dilakukan oleh Allah malalui Yesus. Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya menampilkan ramalan akan suatu masa dimana mata, telinga dan mulut manusia berfungsi dengan sangat baik dan menjadi tanda keselamatan bagi umat Allah. Dalam bacaan Injil, Markus mengisahkan kepenuhan ramalan Nabi Yesaya dalam karya nyata Yesus Kristus yang memulihkan kembali fungsi telinga dan mulut dari seseorang yang menderita tuli dan gagap di daerah Dekapolis.

Narasi dari ke dua bacaan ini adalah sesautu yang sangat relevan dengan situasi dan kondisi manusia pada zaman ini. Setiap hari kita berjumpa dengan berbagai peristiwa ‘aneh’ yang terjadi dalam keluarga, komunitas, masyarakat kita sebagai akibat dari tidak berfungsi baiknya mata, telinga dan mulut. Hoaks, ujaran kebencian, berita palsu adalah realitas baru yang dihadapi oleh manusia zaman ini yang diindikasikan sebagai akibat dari tidak berfungsi baiknya mata, telinga dan mulut. Apabila dalam ramalan Nabi Yesaya mulut bersorak-sorai karena mendengar dan melihat kemuliaan dan keselamatan dari Allah dan seluruh manusia akan berjalan di jalan yang disebutkan jalan Kudus. Di situ tidak ada singa dan bintang buas, yang ada adalah sukcita abadi dimana semua orang hidup dalam damai. Situasi terbalik akan kita jumpai sekarang ini. Perang, permusuhan, sentiment (suku,ras dan agama) hoaks, ujaran kebencian tumpah tindih kepentingan politik dan ekonomi menjadi situasi nyata dunia pada zaman kita ini. Membandingkan situasi ini dengan ramalan Nabi Yesaya mungkin akan membuat kita menjadi pesimis. Mungkinkah situasi yang diramalkan oleh Nabi Yesaya bisa kita alami dan rasakan sekarang ini? “Kuatkanlah hati dan jangan takut” (Yes. 35: 4), ini adalah peneguhan dari Nabi Yesaya bahwa untuk mewujudkan kehidupan bersama yang baik, penuh damai dan tanpa curiga diperlukan usaha keras dari kita semua manusia.

Sebagai umat beriman akan Yesus, harapannya adalah kita semua mampu belajar dari Yesus untuk berusaha sekuat tenaga bekerja menebarkan hal-hal yang baik. Dengan cara inilah kita akan menjadi “Yesus yang Lain” yang hadir ditengah dunia dengan mata, mulut dan telinga yang berfungsi dengan baik sesuai dengan tujuan Allah membentuknya menjadi bagian dari keberadaan tubuh kita. Kita mampu memfungsikan mata kita untuk melihat kehendak Allah dalam segala sesuatu, bukan untuk melihat dan menilai kekurangan dan kejelekan orang lain. Mulut untuk saling sapa, senyum dan bercerita tentang hal-hal yang baik, bukan untuk gosip, cerewet dan memutarbalikan fakta yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi seolah benar. Telinga digunakan untuk mendengarkan orang lain sehingga kita bisa mengerti dan memahami situasi yang sedang dialami oleh orang lain. Dengan demikian, kita ikut ambil bagian dalam karya keselamatan Allah dan menunjukan bahwa ramalan Nabi Yesaya bisa kita wujudkan dalam tindakan kebaikan kecil-kecilan yang kita lakukan setiap hari dalam proses dan dinamika hidup harian kita dengan orang lain baik dalam keluarga, komunitas maupun masyarakat.

Selamat berhari Minggu, Tuhan Yesus memberkati.

Fr. Adriano Safrudin sx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: