BERHARAP MELAMPAUI BATAS PENGHARAPAN

BERHARAP MELAMPAUI BATAS PENGHARAPAN

Liburan semester tahun 2018 tepatnya pada bulan Juli yang lalu diisi dengan kegiatan live-in dan saya memilih Rumah Sakit Carolus sebagai destinasi saya dalam melakukan analisis sosial. Rumah Sakit St. Carolus (RSSC) yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Perhimpunan St. Carolus Vereeniging (PPSC) adalah Rumah Sakit Katolik pertama di Indonesia yang diprakarsai oleh Vikaris Apostolik Batavia (sekarang disebut Keuskupan Agung Jakarta). RSSC merupakan perwujudan dari kepedulian terhadap ketersediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi semua lapisan masyarakat. Dalam menjalankan kegiatannya, RSSC berpedoman pada perundang-undangan yang berlaku serta kaidah Gereja Katolik yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Meskipun Carolus merupakan sebuah rumah sakit katolik, pasien yang dirawat di Rumah Sakit ini sebagian besar adalah pasien non-katolik guna mewujudkan misi Rumah Sakit ini yakni memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dengan sikap belarasa, hormat terhadap kehidupan tanpa membedakan agama, ras, golongan dan sosial. Ini adalah suatu kesempatan berharga bagi saya untuk dapat membangun dialog antaragama dengan saudara-saudari non katolik. Saya sendiri memilih divisi PasSosMed sebagai tempat saya belajar yakni divisi yang melayani kebutuhan kerohanian pasien. Sangat jarang rumah sakit di Jakarta yang menyediakan pelayanan kerohanian pasien seperti ini dan sebagai seorang calon gembala umat, divisi ini sangat tepat bagi saya untuk melatih membangun kontak yang baik dengan sesama.

Kekuatan yang saya soroti di sini adalah kepedulian anggota pastoral untuk tetap memperhatikan sisi psikis dan kerohanian pasien. Seringkali kenyataan lapangan yang saya temukan adalah seorang pasien menjadi begitu paranoid dengan kondisi kesehatan dan diagnose penyakit yang mereka terima. Penolakan ini justru memperburuk kondisi mereka. Saya melihat bahwa kehadiran Tim Pasosmed yang dikhususkan untuk mendengarkan curahan hati dan semua penat pasien, benar-benar membantu dokter dalam proses penyembuhan. Saya melihat juga bahwa penyakit ini menjadi jurang pemisah yang sangat dalam antara ciptaan dan Penciptanya. Semua kembali mempertanyakan keberadaan Tuhan dan menghakimi Tuhan sebagai Allah yang tidak adil karena telah memberikan mereka penyakit tersebut. Kasus seperti ini selalu saya temukan dalam kunjungan saya kepada para pasien Rumah Sakit bahkan para religius sekalipun yang selama hidupnya mewartakan Tuhan yang mereka Imani, justru di saat-saat seperti ini sisi kemanusiaan mereka tampak begitu jelas bahwa mereka (para religius) adalah manusia yang rapuh dan mudah jatuh. Namun tak jarang pula saya menemukan teladan iman yang luar biasa besar. Pasien tersebut mampu menyatukan penderitaannya dengan pederitaan Yesus di salib dan memiliki harapan yang sangat besar bahwa rahmat kesembuhan akan turun ke atasnya meskipun harapan itu minim bagi orang-orang di sekitarnya dan bagi dokter sendiri. Ada banyak mukjizat yang saya alami selama saya berada di Rumah Sakit Carolus, Allah menyatakan kebaikan hatinya pada Pasien tersebut dengan memberikan kesehatan dan umur panjang, kelancaran operasi, kelahiran bayi normal, kesembuhan dari penyakit yang mana tim dokter sudah “angkat tangan” terhadap penyakit tersebut. Senyuman yang terus terbingkai pada wajah lusuh dan pucat memberikan gambaran bahwa akan ada masa depan yang cemerlang. Tuhan memiliki rencana tersendiri bagi para pasien dan cara-Nya menepati janji-Nya itu sungguh luar biasa dan tak terduga. Ia datang tidak terlambat dan juga tidak terlalu cepat.

Pekerjaan di bidang ini memang tidak memerlukan keahlian khusus dan kenyataannya adalah bahwa para karyawan PasSosMed memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Semuanya memiliki satu tujuan yakni ingin melayani pasien agar dapat pulih dari sakit dan menerima kondisi dan penyakit mereka. Satu hal yang sungguh dibutuhkan di sini adalah sikap mau mendengarkan. Selama saya mengunjungi Pasien, saya melihat bahwa mereka sungguh ingin didengarkan. Mereka membutuhkan perhatian kita, mereka membutuhkan “tempat sampah” untuk membuang segala gundah dan kepenatan hati mereka dan dengan begitu mereka dapat merasa bebas dan lega. Saya dapat mengatakan demikian karena saya melihat sendiri ada seorang pasien yang tidak bisa dijaga oleh keluarganya karena kesibukan masing-masing sehingga keluarga pasien tersebut menyewa seorang pemuda lain untuk datang dan menemani si pasien, membantu pasien ke kamar mandi, atau sekadar mengajak pasien berbicara. Sungguh sangat disayangkan karena hal yang paling mereka butuhkan adalah kekuatan dari orang-orang yang dicintai namun tidak bisa mereka dapatkan. Kami menyebutnya sebagai pasien istimewa yang perlu mendapat perhatian lebih.

Dengan jumlah pasien yang cukup besar per harinya, terkadang karyawan PasSosMed tidak dapat menjangkau seluruh pasien Rumah Sakit karena keterbatasan pekerja dan jam kunjungan yang dimulai dari jam 10 pagi sampai jam 3 sore. Terkadang dalam satu kali kunjungan kerja hanya bisa mengunjungi beberapa pasien saja. Sudah dibuat sebuah pembagian kerja dengan memberikan tanggungjawab beberapa unit perawatan kepada masing-masing karyawan PasSosMed namun masih sulit untuk mengunjungi semua pasien. Terkadang pasien tersebut belum sempat dikunjungi atau didoakan namun sudah harus meninggalkan rumah Sakit. Jumlah karyawan yang semakin sedikit dan hampir mencapai umur pensiun menjadi ancaman tersendiri bagi eksistensi Divisi PasSosMed Rumah Sakit Carolus karena tidak ada regenerasi yang melanjutkan tugas mulia ini. Saya melihat bahwa karyawan PasSosMed memiliki kepribadian yang baik sehingga mereka bisa menjadi motivator yang baik bagi para pasien dan kepribadian semacam ini sulit ditemukan apalagi terkadang orang berpikir bahwa karyawan PasSosMed bukanlah sebuah profesi karena tidak membutuhkan suatu ijazah khusus. Ini adalah pendapat yang keliru karena kenyataannya bahwa sangat sulit menjalankan tugas ini dan kita tidak bisa bersikap munafik “memakai topeng” sepanjang jam dinas karena semua pelayanan ini berasal dari ketulusan hati, kerelaan dan pengorbanan yang besar.

Harapan saya ke depannya bahwa divisi ini tetap bertahan agar dapat membantu kesembuhan pasien dari dua sisi yakni dari sisi jasmani dan rohani agar dapat menjadi pribadi yang utuh. Ketika terjun langsung ke lapangan, saya memahami bagaimana dunia luar. Tantangan-tantangan apa saja yang dihadapi di luar tembok biara. Saya belajar pola hidup manusia di luar dan karakteristik serta cara pandang mereka dalam menyikapi sesuatu. Ini membatu saya dalam proses pengembangan kepribadian dan panggilan saya bahwa ada umat yang memiliki iman yang rapuh namun ada pula yang memiliki iman yang teguh dan kuat. Selama saya menjalankan Live In di Rumah Sakit Carolus, saya melihat Tuhan banyak bersabda bagi saya melalui para Pasien. Saya melihat betapa kuatnya sebuah doa yang tulus dengan bercucuran air mata, betapa sakral hosti kudus yang saya bawakan kepada para pasien, dan betapa besar harapan mereka untuk sembuh melampaui batas pengharapan. Kini saya tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu (Rm. 8 : 28).

YOHANES NICHOLINDOO PUTRA
Mahasiswa Tingkat II Filsafat
STF Driyarkara-Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: