Hukum Yang Membebaskan

Hukum Yang Membebaskan

Markus. 7:1-8.14-15.21-23.
Ulangan.4:12.6-8

Konstelasi politik tanah air, yakni pemilihan presiden yang akan dilaksanakan tahun 2019 mendatang diramaikan berbagai isu. Berbagai isu yang tengah beredar merupakan cara dari setiap calon untuk mencari dukungan dan mengalahkan lawan politiknya. Banyak cara yang digunakan baik yang positif maupun yang negatif. Fenomena ini merupakan hal yang lumrah dalam dinamika politik kita. Berkaca pada dinamika politik tanah air, kita sudah menyaksikan banyak hal yang dilakukan oleh para tim sukses untuk mempengaruhi masyarakat dan kebanyakan cara yang dipertontonkan lebih mengarah kepada hal-hal yang sensitif misalnya mengadakan deklarasi #2019 ganti presiden, mengumbar berbagai cacat-cela bakal calon, mencari-cari kesalahan lawan politik dan bahkan menyertakan isu agama dan kebudayaan di dalamnya. Cara-cara ini digunakan untuk memperoleh satu tujuan yaitu kekuasaan.

Bacaan injil hari ini sedikit menggambarkan fenomena politik sebagaimana yang terjadi di tanah air kita saat ini. Dalam bacaan injil hari ini kita bisa menggambarkan Yesus (bersama murid-muridnya) sebagai lawan politik dari orang Farisi dan ahli-ahli taurat. Yesus sebagai anak Allah hadir ke dunia dengan program yang sangat cemerlang, yaitu menawarkan suatu hukum baru yaitu suka cita injil yang membebaskan. Kehadiran Yesus oleh ahli-ahli taurat dan orang Farisi dipandang sebagai lawan “politik” yang bisa menggeser kursi kekuasaan mereka. Atas dasar itu mereka mencari titik kelemahan agar bisa meruntuhkan lawan politiknya dalam hal ini Yesus Kristus. Ahli-ahli taurat dan orang Farisi menemukan cara, yaitu menggiring Yesus dengan pertanyaan seputar hukum taurat. Ahli-ahli taurat dan orang Farisi adalah golongan yang terpandang yang tentunya sangat menguasai hukum taurat. Mereka menemukan cela dengan cara mempersoalkan para murid Yesus yang makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Dalam tradisi Yahudi hal seperti ini tidak diperbolehkan karena bertentangan dengan hukum taurat.”Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?”(Mark.7:5). Ahli-ahli taurat berharap pertanyaan itu bisa menjebak Yesus, tetapi sayang Yesus memberi jawaban yang mengguncang hati mereka.”Benarlah nubuat Yesaya hai kamu orang-orang munafik, sebab ada tertulis bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku….perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”(Mark. 7:6-7).

Yesus tahu apa yang menjadi tujuan ahli-ahli taurat yaitu menjatuhkan dirinya dengan memberikan pertanyaan seputar hukum taurat. Dalam tradisi Yahudi, mereka sangat ketat menghidupi hukum taurat. Hal itu disebabkan karena Musa telah memerintahkan mereka untuk menjaga dan menghidupi taurat secara sungguh-sungguh. Hal ini dapat kita jumpai dalam bacaan pertama. “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada pada perintah Tuhan Allah-Mu yang kusampaikan kepadamu…Lakukan itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di antara bangsa-bangsa…”(bdk, Ulangan 4:2-6).

Pesan ini disampaikan Tuhan melalui perantaraan utusan-Nya, yaitu Musa. Mereka menerima dan menghidupi hukum tersebut tanpa mempertimbangkan baik-buruknya. Mereka menerjemahkan secara literer pesan taurat. Yesus sebagai anak Allah hadir ke dunia mencoba meluruskan paham yang salah tersebut. Yesus menawarkan suatu cara baru dalam menafsirkan taurat. Yesus tidak melihat Sabda Tuhan sebagai hukum yang mengikat tetapi hukum yang membebaskan. Bukan lagi manusia untuk hukum tetapi hukum untuk manusia. Yesus hadir sebagai tokoh revolusioner yang tentunya dapat menggeser dominasi ahli-ahli taurat. Yesus menawarkan injil yang lebih manusiawi dan membebaskan. Bagi Yesus sabda Allah adalah suka cita yang memberikan kebebasan bagi semua manusia bukan yang mengikat dan menyiksa manusia sebagaimana yang ditunjukkan ahli-ahli taurat dan orang Farisi. Yesus sendiri menegaskan bahwa firman Allah adalah firman yang hidup, kekal dan membebaskan dan Yesus sendiri adalah firman yang hidup.

Hari ini kita memasuki minggu pertama pekan Bulan Kitab Suci Nasional.
Kita semua oleh Yesus dipanggil menjadi saksi suka cita Injil kepada sesama yang ada di sekita kita. Firman Tuhan adalah firman yang hidup dan membebaskan, kita diundang untuk menghidupi suka cita injil itu dalam diri kita masing-masing dengan suatu sikap kongrit. Kita tentu tidak dipanggil untuk menjadi bagian dari ahli-ahli taurat yang selalu mencari kelemahan orang lain, kaku dengan aturan yang membuat sesama yang ada di sekitar kita menderita dan tidak berdaya. Sebagai guru, pemimpin perusahan, pemimpin agama, atau yang memegang jabatan tertentu kita semua dipanggil untuk menwarkan suka cita injil kepada sesama dan karyawan kita. Kita diundang untuk tidak menerapkan aturan tegas dan kaku yang membuat orang lain tidak bebas dan menderita. Yesus dengan ajaran-Nya menawarkan injil yeng membebaskan bukan berati kita hidup tanpa aturan dan sistem tetapi lebih dari itu Yesus mengingatkan kita agar sistem dan aturan yang kita buat itu betul-betul kita hidupi dan dalam menghidupinya betul betul membebaskan dan mengarahkan kita pada kehendak Allah bukan sistem yang penuh dengan kemunafikan dan kepalsuan. Yesus mengajak kita untuk menjadi pribadi yang otentik. Semoga di bulan Kitab Suci ini kita bisa bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang mempunyai semngat injili dengan semakin banyak membaca Kitab Sici, merenungkannya, dan mengaplikasinya dalam pengelaman kongrit. Tuhan membrakati.

Fr. Ervino Hebry Handoko, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: