Dunia industri dan Dampak Kulturalnya

Dunia industri dan Dampak Kulturalnya

Analisis Sosial Juli 2018

Pengantar

Tulisan ini mencoba membahas secara sangat ringkas mengenai unsur budaya dalam dunia industri. Unsur budaya yang dimaksud ialah bahwa dunia perindustrian mengandung nilai-nilai yang sangat erat kaitannya dengan ide-ide dasar revolusi industri yang dimulai di Eropa pada abad ke-18. Hal ini menyangkut pola pikir, relasi, cara pandang, dan prinsip hidup. Artinya, orang-orang yang bergelut dalam dunia industri secara perlahan terbentuk mengikuti kultur industri. Untuk itu, penulis akan mencoba membantu pembaca dengan berbagai informasi yang relefan dengan tujuan penulisan ini seperti ide dasar revolusi industri, unsur budayanya, serta dampak sosialnya. Hal ini bermaksud untuk memperlihatkan bagaimana dampak budaya itu mungkin terjadi dan secara rasional menuntut untuk diterima. Saya akan menyajikan data hasil pengamatan saya selama tiga minggu live in di PT. Setia Pratama Lestari Pelletizing yang tentunya cukup terbatas dan bisa jadi bersifat subjektif.

Revolusi Industri abad ke-18
Revolusi industri sebenarnya merupakan buah dari proyek besar abad pencerahan (aufkalrung/enlightenment) atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama “Fajar Budi.” Gerakan pencerahan ini berlangsung sejak abad XVII dan terutama pada abad XVIII yang dimulai negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman. Gerakan ini meliputi apa yang disebut The Glorious revolution di Inggris 1688 yang menghasilkan The Declaration of rights yang kemudian dikenal dengan sebutan Bill of Rights dan revolusi Prancis 1789. Pencerahan memiliki semboyan yang termahsyur, yaitu sapere aude (beranilah berpikir). Hal ini menegaskan optimisme pencerahan akan masa depan yang cerah berkat iman pada akal budi, suatu pembebasan melalui ilmu pengetahuan. Dengan demikian, pencerahan memberi tekanan pada subjektivitas, yaitu manusia sebagai makhluk rasional, bebas dan otonom (auto: sendiri nomos:hukum). Hal ini tampak bagi Kant misalnya mengatakan bahwa akal budi manusia merupakan ukuran segalanya. Prinsip inilah yang kemudian mendorong munculnya liberalisme yang menekankan kebebasan manusia untuk hidup, merdeka, dan mencapai kebahagiaan.

Liberalisme pada dasarnya merupakan suatu paham atau aliran pemikiran yang menekankan kebebasan individu manusia melawan kekuasaan luar. Individu dilihat sebagai fakta primer, sedangkan negara dan masyarakat bersifat sekunder terhadap individu. Paham ini pada gilirannya secara tidak langsung ikut mendorong tumbuhnya ekonomi pasar bebas hingga suatu pengaturan ekonomi yang erat kaitannya dengan perubahan masyaratak yang disebut revolusi industri. Revolusi industri merupakan perubahan cepat dalam masyarakat dari peradaban agraris ke peradaban industrial. Dengan penemuan mesin uap, kini terjadi percepatan produksi, penambaahn waktu kerja sesuai irama mesin, dll. Perubahan ini tentu saja berdampak sangat besar baik dalam cara kerja maupun dalam cara hidup. Intinya ialah bahwa revolusi industri mengusung ide pencerahan. Persis dalam hal inilah peradaban industrial membawa dampak kultural.

Ciri Masyarakat Industri

a. Orientasi hasil
Pada umumnya, masyarakat industri, dalam hal ini pekerja pabrik, sangat memprioritaskan hasil. Suatu pekerjaan akan dinilai baik sejauh produktivitasnya tinggi. Anak-anak lulusan SMK misalnya, cenderung gonta-ganti pabrik untuk mendapatkan kemudahan tetapi sekaligus jaminan yang memuaskan. Hal ini pun terjadi di luar jam kerja formal. Itu berarti, konsep mencapai hasil merupakan suatu pola yang membudaya. Orang seperti ini berusaha sebisa mungkin memiliki pekerjaan tambahan karena semakin banyak berbuat, prinsip orientasi pada hasil dapat tercapai. Orang seperti ini juga akan dengan mudah meninggalkan suatu pekerjaan yang tidak produktif secara ekonomis.

b.
Individualis
Masyarakat industri umumnya fokus pada bagiannya sendiri. Oleh karena itu, mereka sangat mandiri/individualis, tidak begitu banyak membutuhkan orang lain, berprinsip, dan otonom. Ia mampu memilih dan mempertanggungjawabkan pilihannya sendiri dan oleh karena itu sulit dipengaruhi. Saya sendiri berpendapat bahwa orang seperti ini tidak mudah diprofokasi oleh pihak manapun sejauh tidak cocok dengan prinsip-prinsip yang ia bangun secara mandiri.

c. Rivalitas

Lingkungan kerja yang terkategorisasi dan mekanistik menciptakan ruang interaksi sosial yang terbatas. Di sinilah iklim persaingan muncul. Masing-masing orang sibuk dengan urusannya sendiri dan sebisa mungkin menunjukkan sesuatu yang berbeda dan lebih baik dari yang lain, dapat diandalkan, dan memperoleh kepercayaan dari lembaga yang diabdi. Hal ini mempengaruhi juga kehidupan sosialnya dalam masyarakat, mereka lebih banyak bekerja ketimbang berbicara.

d. Materialis
Karakter-karakter yang disebutkan di atas “menjebak” mereka pada suatu sikap materialis. Selain berusaha keras untuk mendapatkan pemasukan yang tinggi, mereka juga jatuh pada konsumerisme. Pekerjaan yang super sibuk, sumpek dan melelahkan perlu diimbangi dengan kenikmatan yang sesuai. Oleh karena itu tak jarang mereka pun menikmati dunia hiburan secara berlebihan.

Penutup
Demikian analisis terbatas saya yang saya lakukan selama tiga minggu live in di PT. SPLP. PT ini merupakan perusahaan pembuat kulit kabel dengan bahan dasar plastik. Salah satu maksud dari kegiatan ini ialah sebagai satu tahap formasi yang titik beratnya ialah pendidikan karakter dan mental kami sebagai calon imam misionaris. Saya mengikuti kegiatan secara bertahap mulai dari gudang bahan baku, produksi, sampai pengiriman. Begitulah saya mengalami, merasakan, dan akhirnya sedikit mengerti cara mereka berpikir.

Fr. Patritius Arifin sx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: