PEREMPUAN PENENTU KARYA KESELAMATAN

PEREMPUAN PENENTU KARYA KESELAMATAN

Minggu, 12 Agustus 2018
HARI RAYA
SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA
Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; Mzm. 45:10bc,11,12ab; 1Kor. 15:20-26;
Luk. 1:39-56.
BcOEf. 1:16-2:10 atau Why. 12:1-17.
warna liturgi Putih

Perempuan dewasa ini gencar mendapat peluhuran dan pengagungan tidak hanya karena kemampuannya yang luarbiasa tetapi juga karena untuk memulihkan martabatnya yang sejak lama direndahkan oleh kaum patrikarkal. Peluhuran itu mendapat peneguhanya apalagi, ketika perempuan dikaitkan dengan peran seorang ibu, sebagai “pembina keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga dan masyarakat yang mempunyai ketangguhan mental, budaya, dan agama.”
Namun, tetap saja kita tidak boleh menutup mata bahwa pada abad milenial ini pun masih ada perempuan yang direndahkan martabatnya dan dipandang sebelah mata di tengah masyarakat. Bahkan kita mesti prihatin akan meningkatnya jumlah perdagangan manusia yang kebanyakan menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak. Penculikan terhadap ratusan perempuan yang terjadi di tengah perang yang tengah berkecamuk khususnya di timur tengah juga turut membuktikan masih kurangnya penghargaan akan harkat perempuan. Melihat realitas yang miris ini kita patut curiga dan kritis pada setiap peluhuran dan pengagungan terhadap perempuan, jangan sampai hal ini bertujuan guna menyamarkan bagaikan obat bius berbagai bentuk penindasan yang masih terjadi dewasa ini.

Hari ini Gereja memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria yang diangkat ke surga yang saya refleksikan juga dapat menjadi momen di mana perempuan benar-benar mendapat tempat dan perannya yang luhur bagi peradaban manusia. Kita ingat bahwa di awal kitab suci (Kitab Kejadian) dikisahkan bagaimana perempuanlah yang pertama kali berkontak dengan kejahatan (si ular) dan bahkan ditafsirkan sebagai orang yang mengantarkan si jahat kepada suaminya (laki-laki). Namun, kali ini Allah mengutus seorang perempuan yang bernama Maria sebagai pengantara Karya Keselamatan Allah kepada manusia, yang mampu menyalurkan kekudusan, kuasa pengampunan dosa, dan sumber kehidupan kekal kepada umat manusia.

Saya merenungkan bahwa kita tidak bisa dengan gampang menyimpulkan bahwa Maria dapat diangkat ke surga oleh Allah semata-mata hanya karena ia adalah Bunda Allah. Kita juga perlu melihat bahwa Bunda Maria dengan segenap kemanusiaannya mengikuti jalan salib Yesus secara sempurna. Dengan penuh iman Bunda Maria menyatukan dirinya dengan Kasih Sang Putera, Yesus Kristus. Hal inilah yang membuat Bunda Maria mengambil bagian dalam pertentangan Allah melawan Iblis (Munificentissimus Deus 39) dan membawa kepada hasilnya, yaitu kemenangan total dalam tubuh dan jiwa atas dosa dan maut. Saya sendiri setuju dengan apa yang direfleksikan oleh Mgr.Michael Cosmas Angkur OFM dalam majalah Hidup minggu ini:
“Maria mengajarkan kita kerendahan hati meskipun ia Bunda Allah. Ia membaktikan dirinya secara utuh dan total, suci murni dan tanpa cela. Ia mengambil risiko atas komitmennya menjadi Ibu Tuhan…”

Perayaan Santa Perawan Maria hari ini juga dapat menjadi satu momen bagi kita untuk ikut berjuang bersama Bunda Maria melawan segala bentuk kejahatan dan penindasan di dunia ini. Bersama bunda Maria kita diajak untuk membuka koridor bagi kemanusian; membangun satu ruang di mana setiap orang yang selama ini tidak diakui, tersingkir dan tertindas mendapatkan harkat dan martabatnya kembali sebagai anak-anak Allah. Khusus bagi para perempuan, perayaan ini dapat menjadi salah satu momen di mana perempuan diikut sertakan dalam menciptakan realitas dunia yang damai.

Fr. Ivan Pasca Putra, Sx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: