Rumah Persahabatan Mensa (San’t Egidio)

Pada awal semester ganjil tahun ajaran 2017-2018, saya diutus untuk menjalani kerasulan di Mensa (Italia: Kantin) Jl. Duri Raya, Kedoya. Dengan demikian, terhitung satu semester lebih tiga bulan saya merasul di sana. Sebelum saya berbagi pengalaman serta refleksi saya, saya akan menggambarkan (bisa dibilang demikian) apa itu Mensa, apa spiritualitasnya, siapa yang terlibat di dalamnya serta kegiatannya.

Tentang Komunitas

Rumah persahabatan Mensa merupakan salah satu cabang kegiatan atau lebih tepatnya pelayanan dari sedemikian banyak bentuk pelayanan yang diprakarsai oleh sebuah komunitas internasional yang bernama St. Egidio. San’t Egidio sendiri merupakan sebuah komunitas yang dibentuk di Italia oleh sekelompok anak muda pada tahun 1968, tepat setelah Konsili Vatikan kedua. Sant’Egidio adalah komunitas (awam) Kristen yang lahir atas inisiatif Andrea Riccardi, lahir di sekolah menengah di pusat kota Roma. Setelah hadir selama bertahun-tahun, San’t Egidio telah menjadi jaringan komunitas di lebih dari 70 negara di dunia. Komunitas memperhatikan orang-orang pinggiran dan periferal, mengumpulkan pria dan wanita dari segala usia dan kondisi, disatukan oleh ikatan persaudaraan melalui mendengarkan Injil dan komitmen sukarela dan bebas untuk orang miskin dan damai. Komunitas ini mengarahkan semua kegiatannya pada sekurang-kurangnya tiga pilar utama, yaitu doa, orang miskin, dan damai. Komunitas ini juga membantu menyekolahkan anak-anak yang datang dari keluarga kurang mampu. Secara garis besar, kiranya dapat digambarkan demikian. Untuk lebih lengkap, anda bisa mengunjungi web-sitenya di (https://www.santegidio.org/pageID/1/langID/id/idLng/1080/HOME.html).

Meskipun merupakan komunitas awam Katolik, komunitas ini menyebut dirinya komunitas tanpa batas. Mereka menerima siapa saja (tanpa batas agama, suku, negara, dll.) yang dengan kehendak tulus dan ikhlas menjunjung tinggi kemanusiaan untuk menjadi anggota komunitas ini. Menurut mereka, kemanusiaan merupakan tanggung jawab bersama. Hal ini kiranya menjadi salah satu alasan mengapa komunitas ini menyebar sedemikian pesat ke 70 negara di dunia hanya dalam waktu 50 thn.

Di indonesia, khususnya di Jakarta, komunitas ini menyebar di berbagai tempat dan dengan jenis pelayanan yang beragam. Di Kedoya tempat saya merasul, pelayanannya berupa sekolah damai dan makan bersama. Sekolah damai merupakan kegiatan belajar bersama terutama tentang nilai-nilai universal seperti toleransi, tenggangrasa, kerjasama, dll. Anak-anak yang mengikuti kegiatan ini berasal dari keluarga, ststus sosial, agama, budaya yang beragam. Mereka bersatI di tempat ini. Sekolah damai secara sederhana dapat disebut sebagai “tempat bermain.” Di sini anak-anak dibiasakan untuk bekerjasama, saling mendukung, menghargai perbedaan, dan berbagi. Hal ini diharapkan dapat membantu membentuk cara pandang mereka terhadap Tuhan, dunia, dan diri mereka sendiri. Kegiatan ini biasanya rutin dilakukan setiap hari minggu pkl. 16.00-17.00 WIB.

Selain itu, kegiatan pada hari minggu ini dilanjutkan dengan kegiatan makan bersama (perjamuan). Dalam kegiatan ini, anak-anak yang tadinya belajar diberi makan (makanan biasanya dibawa oleh donatur-donatur yang bermurah hati). Acara makan ini pun biasanya dilakukan sebanyak tiga “kloter”. Kloter pertama untuk anak-anak, selanjutnya untuk orang tua mereka. Hal ini terjadi selain karena terbatasnya ruangan, juga kerena jumlah saudara/i yang dilayani terus bertambah. Sebagai catatan, kegiatan makan ini bukanlah tujuan pada dirinya bagi anggota komunitas. Fokus kita bukan memberi makan. Artinya, anggota komunitas berusaha sebisa mungkin untuk menjadi teman bicara mereka, mendengarkan, berbagi tawa, sukacita, dll. Makanan hanyalah sarana yang kita gunakan. Dengan demikian hal ini mengandaikan kesediaan kita untuk hadir dan bersedia mendengarkan (karena siapa peduli cerita orang miskin di dunia yang semakin individualis ini?). kegiatan ini berakhir sampai sekitar pkl. 09.00-10.00 WIB.

 

Kepenuhan Hidup Kristiani

Sebagai Misionaris religius, saya menemukan sedikit-demi sedikit (dengan tidak menyamakan) wajah Yesus yang terluka, lapar, haus, sendiri/ditinggalkan malalui perjumpaan tanpa prasangka, saling percaya dan memberi dengan saudara/i yang kami layani di komunitas San’t Egidio. Saat ini, Yesus disalibkan di mana-mana di dunia ini dalam bentuk ketidakadilan, penindasan, perang, pemerasan, dsb., yang seharusnya menjadi perhatian gereja sebagai persekutuan umat Allah sebagaimana yang diteladani oleh Paus Fransiskus.
Ada dua hal penting yang saya refleksikan dalam pelayanan ini.

Pertama, pelayanan ialah sebuah liturgi suatu ekaristi bagi umat Kristen dan bagi seorang religius seperti saya. Kekristenan ialah pemberian diri sebagaimana roti yang dipecah-pecahkan menjadi berguna justru karena pemberian diri tersebut. Kekristenan menuntut kita secara personal pertama-tama untuk mengusahakan keadilan serta dalam ketidakadilan berusaha untuk tidak membiarkan salib kristus dipikul oleh sebagian orang saja. Kita dituntut untuk membantu meringankan, ambil bagian dalam penderitaan Kristus dengan keluar dari rasa takut, siakap kompromi dan cuek yang memalukan untuk berjuang bagi keadilan, kemanusiaan dan kesetaraan. Saya sendiri merasa bahwa dengan berbuat demikian saya bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya menghantar saya pada sebuah makna hidup sebab apakah hidup dengan membiarkan penderitaan terjadi di mana-mana merupakan sesuatu yang bermakna? Apa makna hidup tanpa peduli? Bisakah saya bahagia pada saat yang sama saudara/i saya menangis? Saya pikir, inilah yang diperintahkan Yesus dalam perjamuan malam terakhir sebelum penyaliban, yaitu pemberian diri “Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku.” Pemberian diri untuk melayani (membasuh kaki orang lain) merupakan peringatan akan Yesus, akan bagaimana ia membasuh saya dari dosa (kamu memang bersih tetapi tidak semua). Hanya melalui inilah saya sedikit mengerti apa artinya menjadi Kristen, menjadi sungguh-sungguh pengikut Kristus.

Kedua. Selain sebagai sebuah ekaristi, pelayanan ini bagi saya juga merupakan jalan menuju kekudusan. Kekudusan merupakan usaha terus menerus untuk merasakan kehadiran atau lebih tepat membiarkan diri ditemukan oleh Tuhan. Bagi saya, meskipun judulnya sebuah pelayanan, kegiatan ini tidak membiarkan saya pergi dengan penuh keangkuhan sebagai orang yang siap memberi saja dan bahwa orang yang saya layani hanya perlu menerima. Dalam pelayanan ini, relasi timbal baliklah yang terjadi. Maksud saya, selain saya memberi, saya juga belajar banyak hal dari mereka. Salah satu conto sederhana misalnya, saya pernah berpikir betapa mulia orang-orang ini yang tanpa rasa curiga, tetapi sebaliknya dengan penuh kepercayaan bahwa pelayanan kami tidak memiliki maksud lain selain berusaha menjadikan semua orang satu keluarga, tanggung jawab, dan bersahabat di bawah cinta kasih dan perdamaian. Inilah bentuk konkret dari iman, yaitu “percaya” dengan seluruh keberadaan kita. Sebuah relasi tanpa konsep, prasangka dan kecurigaan yang mencirikan relasi ilahi (transendensi total). Dalam hal inilah saya menemukan diri dalam suatu penghayantan akan kekudusan manusia, relasi dan cinta.

Harapan komunitas, semoga semakin banyak orang yang mau bergabung terutama kaum muda. Saat ini beberapa anak SMA dari British School dan Notre Dame mengikuti kegiatan sekolah damai setiap minggu. Bagi saya ini merupakan sebuah sukacita tersendiri. Luangkan waktu anda untuk peduli, Yesus hanya minta beberapa saat dari seluruh waktu dalam kehidupan kita yang sangat panjang. Ia tidak minta semua. Mari bergabung. Tuhan memberkati. Amin.

Fr. Patritius Arifin, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: