Who are You?

Who are You?

Bacaan: Mrk 11:1-10
Mrk 14: 1-15:47

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosanna di tempat yang maha tinggi!” (lih. Mrk 11:9-10) dan “Salibkanlah Dia” (lih. Mrk 15:13,14). Dua seruan ini merupakan dua seruan yang kembali lagi diperdengarkan pada kita. Dua seruan yang barangkali siap menanyai kita tentang suatu pertanyaan mendasar yang justru seringkali terlupakan. Siapa sebenarnya Yesus? Di hadapan peziarahan hidup kita yang penuh dengan berbagai pengalaman suka dan duka, siapakah sebenarnya Dia yang tersalib itu? Mungkin sebagian besar dari kita yang percaya dan menganut iman kepada-Nya akan berkata bahwa Dia adalah Tuhan. Akan tetapi apakah selesai sampai di situ? Tentu saja tidak. Apa arti kata Tuhan itu bagi setiap kita yang berkata bahwa kita beriman kepada-Nya? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama.

Tentu saya sengaja menaruh pertanyaan ini di awal permenungan ini. Dewasa ini dikalangan publik kita tentu sering mendengar ujaran kafir keluar dari mulut yang satu ke mulut yang lain. Ujaran yang digunakan secara serampangan ini tentu membuat orang, selain memang tidak pernah terpikir untuk bertanya tentang imannya kepada Tuhan, tetapi juga lebih-lebih menjadi takut untuk mempertanyakan hal yang demikian. Jadi, sebenarnya salahkah bertanya mengenai sesuatu tentang “Yang Ilahi” itu.

Dalam permenungan ini justru saya menemukan bahwa pekan suci yang kita buka hari ini dengan perayaan Minggu Palma menghantar kita pada suatu momen khusus dimana kita diminta untuk menarik diri dari kesibukan harian kita untuk kemudian bertanya pada diri kita sendiri. Bagi kita, siapakah Dia yang tergantung pada palang penghinaan itu? Seberapa penting Dia untuk hidup kita? Apa yang membuat Dia menjadi begitu penting bagi kita?

Bertanya tentang Yesus yang tergatung di salib itu membuat kita kembali disadarkan bahwa justru relasi yang harus kita bangun dengan-Nya merupakan suatu proses yang terus berjalan dan terus bergerak, bukan proses yang statis yang tenang-tenang saja. Di saat kita merasa tenang-tenang saja, merasa bahwa dengan serangkaian kewajiban keagamaan yang telah kita buat segalanya telah beres, merasa bahwa hanya itu yang perlu, justru kita perlu bertanya apa itu yang sebenarnya Tuhan inginkan dari kita. Allah pasti menginginkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hal-hal praktis macam itu. Kegelisahan kita saat membangun relasi dengan-Nya justru seringkali menjadi tanda bahwa Ia sedang menanti kita dalam sebuah relasi cinta yang sebenarnya.

Hari ini penginjil Markus mengundang kita dalam suatu dilema besar dari pertanyaan yang sejak awal telah menyambut kita masuk dalam permenungan sepanjang pekan suci ini. Dua bacaan yang menunjukkan suasana yang begitu kontras membuat saya melihat bahwa sejatinya di awal perayaan pekan suci ini kita, umat beriman, memang diminta untuk merefleksikan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang sudahkah kita membangun relasi dengan Allah atau sudah seberapa dalam relasi itu.

Bacaan dari Markus 11:1-10 yang biasanya dibacakan di luar gereja dalam perayaan liturgi pembuka mengundang kita untuk menyambut Kristus sebagai Raja damai dengan mengarak daun palma. Setiap gereja punya caranya masing-masing dalam merayakan kisah pengeluh-eluhkan Yesus ini. Tidak lama setelah itu sesudah perarakan, di dalam gereja kita disuguhkan kisah sengsara Sang Raja Damai yang sebelumnya kita eluh-eluhkan dengan sorak sorai kegembiraan. Markus 14:1-15:47 mengisahkan bagaimana kisah sengsara Yesus ini dimulai dengan kisah rencana pembunuhan-Nya dan ditutup dengan kisah penguburan-Nya. Bacaan yang cukup panjang dan tentu saja penuh dengan makna.

Jika kita lihat bersama, barangkali hanya perlu lima hari untuk mendengar sorak-sorai “hosana” berubah menjadi sorak “salibkan Dia,” hanya perlu membalik kurang lebih lima lembar halaman dalam kitab suci berukuran kecil untuk beralih dari sorakan yang satu ke sorakan yang lain dan hanya perlu beberapa langkah dari luar gereja menuju ke dalam gedung gereja untuk mendengar perubahan sorak sorai itu. Tidakkah ini sebuah simbol perayaan yang perlu kita renungkan bersama? Suasana gembira dan sorak sorai di luar gereja dan suasana duka penyaliban di dalam gereja. Apa arti semua ini?

Dewasa ini dalam perkembangan jaman, kita menemukan ada banyak tawaran-tawaran yang selalu mengajak kita untuk hidup lebih nyaman dan lebih instan. Tidak sedikit dari tawaran-tawaran itu yang sebenarnya bisa membuat kita lebih kreatif dalam menghidupi nilai Injil tetapi malah menjauhkan kita dari nilai-nilai itu. Kehidupan dewasa ini yang serba sekular membuat kita berhadapan pada dikotomi antara apa yang diharapkan Allah pada kita dalam hidup menggereja dan apa yang bertolak belakang dengan semua itu.
Gambaran perayaan liturgi yang kita rayakan hari ini membuat kita seharusnya sadar bahwa segala suasana bahagia dalam sorak-sorai hosana sebenarnya bukan inti dari peziarahan hidup kita. Intensi dibalik kebahagiaan itu tidak lain daripada intensi duniawi tentang kehadiran seorang mesias politik yang membawa kebebasan dari penjajahan Romawi. Kebahagiaan yang lahir dari penantian panjang akan penindasan yang akan berakhir tidaklah sepenuhnya salah tetapi itu bukanlah kebahagian sejati.

Kisah sengsara Yesus yang kita rayakan di dalam gereja justru merupakan sebuah misteri Ilahi yang mengundang kita pada suatu kebahagiaan yang sejati. Salib yang seringkali kita hindari dalam kehidupan kita, sebab kita cenderung mencari apa yang nyaman dan instan, ternyata memanggil kita untuk bersatu dalam cinta-Nya. Hari ini kita disadarkan bahwa di hadapan kita sedang ada dua pilihan, yakni hidup nyaman dengan segala tawaran dunia modern atau hidup bersama Kristus dalam relasi cinta yang mesra yang meskipun menuntut kita keluar dari kenyamanan tetapi menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar dari itu.
Barangkali pertanyaan berikutnya bagi kita ialah sudahkah kita membangun Gereja sebagai persekutuan umat beriman menjadi tempat di mana misteri sengsara itu menghidupkan relasi kita dengan Allah. Atukah Gereja selama ini hanya menjadi institusi yang sibuk dengan hal-hal praktis keagamaan serta sibuk mencari anggota tetapi lupa akan iman umat yang harusnya menjadi fokus utama? Iman kita lahir dari relasi yang mesra dengan Kristus, maka penting bagi kita untuk bertanya sudah sejauh apa relasi kita dengan Dia. Kedekatan kita dengan Allah tidak secara otomatis membuat kita mengenal semua tentang Dia. Pengenalan kita akan Allah merupakan suatu proses peziarahan yang panjang yang perlu dimulai dan dijaga sebab proses itu bukan sesuatu yang bisa selesai begitu saja. Itu kenapa penting untuk terus bertanya dalam refleksi kita, siapakah sebenarnya Dia yang tergantung di kayu salib itu untuk saya? Dari pada mengenal Allah yang sebenarnya justru kita seringkali menarik Allah dalam definisi-definisi yang kita kehendaki seturut kepentingan kita. Maka tidak mudah menemukan siapa sebenarnya Allah itu. Selain usaha dari kita sendiri tentu kita butuh rahmat Allah. Oleh karena itu, dalam perayaan Minggu palma ini mari kita mohon rahmat Allah agar di awal pekan suci ini kita dapat semakin menjalin relasi yang mesra dengan Allah dan dapat menemukan sedikit demi sedikit arti Allah yang sesungguhnya untuk kehidupan kita masing-masing. Satu hal yang pasti tentang Dia, yakni Allah selalu mencintai kita berapapun besar dosa kita pada-Nya.

Fr. Ambrosius Agung Surya Mentaram, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: