BIARLAH DIA YANG MENUNTUN

BIARLAH DIA YANG MENUNTUN

Fr.Wandi,SX sedang selfie

Fr.Friwandi,SX -Perjalanan kerasulan saya tahun ini menjadi tantangan yang sama sekali baru. Saya mengatakan demikian karena saya belum pernah berkelana di tempat kerasulan seperti ini, yaitu Bina Iman Remaja (disingkat BIR, bukan minuman yang itu yah). Ada beberapa alasan mengapa saya memilih kerasulan di tempat ini. Salah satunya adalah karena saya ingin berhadapan dengan sesuatu yang baru bagi saya. Memang, jika melihat ke belakang, bahkan ketika di seminari menengah, saya sudah biasa menjadi pendamping bina iman. Akan tetapi, itu dalam konteks anak-anak bukan remaja yang tentu kalian semua tahu, masih dalam proses yang labil.

Pengalaman yang ingin saya bagi adalah terutama pengalaman saya beradaptasi di tempat ini (maklum baru di tahap awal…hehehe). Saya datang dengan semangat yang menggebu-gebu dan dengan visi yang bagi saya sudah mantap—membangun kembali BIR di Paroki Santa Maria de Fatima, Toasebio. Akan tetapi, semangat saya hampir luntur ketika pada hari pertama merasul, kegiatan yang ada tidak berjalan sistematis. Pesertanya mempunyai jenjang usia yang berbeda-beda hingga muncul sebutan BIR senior dan junior. Di sisi lain, mereka semua punya handphone yang sulit untuk dilepas selama kegiatan berlangsung. Saya bingung dan saya merasa perkenalan pada hari pertama berlalu begitu saja. Mungkin ketika ditanya pada pertemuan berikutnya, paling-paling mereka belum kenal karena kebanyakan sibuk pada gadget masing-masing.

Minggu demi minggu berlalu. Saya masih duduk dan ikut irama yang berbeda dengan bayangan saya. Saya selalu bertanya-tanya apa yang harus saya lakukan. Syukur alhamdulillah, ternyata pada semester ini saya mengikuti kuliah Katekese. Pucuk dicinta, ulam pun tiba dan gayung kini bersambut. Saya menjadikan kerasulan saya sebagai tempat untuk merealisasikan apa yang saya peroleh di kampus. Ketika menjadi PIC kegiatan, saya mengubah sistematikanya. Saya memberikan semangat, sapaan, tepukan, nyanyi, dan permainan serta tak lupa untuk masuk pada pewartaan iman dan renungan kitab suci bersama. Dalam hal ini, saya berharap mereka bisa ikut dalam dinamikanya. Sayangnya, tak selalu apa yang saya harap itu berjalan lancar. Ada saja yang menjadi penghambat, ada yang malas gerak, nyeleneh menjawab-jawab dan terutama tidak mau lepas dari HP. Semenit dua menit masih oke, setelahnya emmm, tangan gatal dan ambil lagi.

Di sinilah tantangan kerasulan saya. Bukan hanya bertemu dengan remaja yang masih labil tetapi juga yang tengah candu dengan teknologi. Saya kembali memutar otak dan mencoba memberi irama-irama baru. Pada akhirnya, berhasil atau tidak pelayanan ini saya serahkan kepada Roh Kudus. Biarlah Dia yang menuntun mereka pada iman akan Kristus. Saya pun hanya bergumam, “Ya Tuhan, biarlah aku menjadi kecil dan Engkau menjadi besar. Siapalah aku ini.? Ya, aku hanya hamba yang tidak berguna yang melakukan apa yang harus aku lakukan.”

 

Melalui kegiatan kerasulan ini, mau tidak mau saya pun dipaksa untuk semakin kreatif dan penuh dengan persiapan. Maka, saya selalu mempersiapkan bahan pada malam minggu. Begitulah dinamika yang harus saya lalui. Saya berdiam di kamar tuk merenung dan merancang kegiatan kerasulan saya.  Meskipun tidak bertanggung jawab sebagai PIC, tapi siapa tahu rekan pembina lainnya belum siap, saya yang akan mem-backing-nya. Nah, jika anda menemukan saya tidak berada di kamar, itu berarti saya sedang mencari angin segar untuk hati dan budi saya. Selain itu, saya selalu mohon Roh Kudus untuk membantu saya dalam kegiatan kerasulan ini.

Puji Tuhan, sampai saat ini belum ada dinding penghambat yang sulit untuk dirobohkan. Hanya, kerasulan di tempat saya memang sedang “skarat” dan perlu nafas baru, dalam artian  anak-anak remaja lainnya juga tertarik tuk bergabung dengan BIR. Inilah tugas kami para pendamping BIR di Toasebio saat ini. Kami sedang bahu membahu untuk menemukan dinamika yang tepat dan penuh sukacita. Satu hal lagi, untuk perencanaan lebih lanjut, dan semoga dapat terlaksana, kami sedang merencanakan regenerasi. BIR senior tetap ikut dalam kegiatan tetapi sebagai rekan pendamping. Oh iya, sekadar pemberitahuan dan jangan sampai keburu lupa. Kalau Anda berminat tuk menjadi pendamping atau pun peserta BIR, kami membuka pintu lebar-lebar yah.! Mucas Gracias, Hermano! Dios esté contigo..!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: