Ketaatan kepada Hukum Allah sebagai jalan keselamatan dan memahami cinta Allah

Ketaatan kepada Hukum Allah sebagai jalan keselamatan dan memahami cinta Allah

Renungan prapaskah ketiga
Bacaan pertama Kel 20:1-17 (20:1-3. 7-8. 12-17)
Bacaan kedua (1Kor 1:22-25)
Bacaan Injil (yoh 2:13-25)

Dalam bacaan pertama (Kel 20:1-17 (20:1-3. 7-8. 12-17) ditunjukkan beberapa hal yang bagi kita dapat menjadi pegangan atau yang sering disebut dengan hukum-hukum Allah. Sebagai umat Kristiani, kita seringkali bertanya atau bahkan memohon kepada Allah saat berdoa agar Allah berkenan memberikan rahmat sehingga kita dapat mengetahui hal-hal yang benar dan hal-hal yang tidak benar. Kita seringkali berpikir terlalu jauh tanpa menyadari bahwa Allah dengan kesempurnaan cinta-Nya selalu rela memberikan petunjuk bagi kita dalam keseluruhan hidup kita. Hal yang paling praktis adalah mengenai hukum Tuhan. Hukum-hukum ini mestinya menjadi peringatan yang selalu menyadarkan kita akan arti cinta Allah kepada kita. Orang Kristiani sering mendengar kalimat yang bunyinya begini, “Rahmat dan anugerah Allah itu merupakan hadiah yang gratis bagi umat-Nya atau Allah itu sumber cinta, jadi sudah menjadi hal yang pasti bahwa Allah selalu mencintai umat-Nya.” Dalam merenungkan kalimat ini, saya merasa bahwa memang tidak ada salahnya dan ini merupakan gambaran iman orang yang yakin akan cinta dan rahmat Allah.

Akan tetapi satu hal yang perlu diingat bahwa rahmat dan cinta Allah itu tidak akan pernah bertumbuh dan berkembang dalam diri kita jika kita hanya berpegang pada prinsip Allah yang mencintai tanpa saya membuka diri pada cinta Allah itu dan mau diresapi bahkan dibentuk serta dibarui oleh-Nya. Mengenal Allah pasti tidak terlepas dari kata cinta karena Allah adalah Cinta. Dalam Perjanjian Lama, hukum Allah itu menjadi pwerwujudan cinta Allah kepada umat-Nya agar selalu menjadi umat yang utuh dan bersatu. Jika direnungkan secara mendalam mungkin kita akan berpikir bahwa “Hal apalagi yang kurang dari Allah sampai-sampai demi cinta-Nya yang super hebat itu, Allah “membuat” hukum sebagai penuntun dan petunjuk bagi perjalanan hidup manusia?”

Ternyata kebaikan Allah itu masih dirasa belum cukup oleh manusia yang penuh dengan kelemahan. Hal ini kita temukan dalam Perjanjian Lama bahwa dalam perjalanan menuju tanah terjanji, bangsa Israel mengalami liku kehidupan yang membuat mereka berpaling dari cinta dan kebaikan Allah. Dalam renungan ini, saya menemukan bahwa kecemburuan Allah bukanlah kecemburuan seperti yang dipikirkan manusia, melainkan kecemburuan yang berasal dari kesempurnaan kekayaan cinta-Nya, bahwa Allah tidak bisa tidak untuk mencintai umat-Nya.

Dalam Perjanjian Baru, Allah mengutus Tuhan Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai milik yang dipertahankan, melainkan merendahkan diri menjadi manusia dan rela menderita sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib (Filipi 2:6-8). Hal ini sebenarnya merupakan tanda yang tampak jelas, tetapi kelemahan manusia masih sulit untuk menangkap pesan Allah itu. Dalam bacaan Injil (yoh 2:13-25), kehadiran Yesus menjadi rupa yang membawa terang akan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa. Yesus menunjukkan gambaran cinta yang mendalam antara diri-Nya dengan Bapa-Nya di Surga. Akan tetapi, lagi-lagi ditunjukkan pula bahwa manusia lamban menangkap pesan cinta Allah itu. Setelah memberi hukum dalam Perjanjian Lama dan kehadiran Yesus dalam Perjanjian Baru, manusia masih belum menangkap pesan Allah bahkan hatinya semakin membatu sehingga Bait Allah dijadikan tempat berjualan.

Jika dikaitkan dengan zaman sekarang yang semakin maju dengan teknologi dan gaya hidup sekuler, tampak sikap manusia yang semakin terlena dan menjauhkan diri dari Allah. Manusia saling membenci bahkan menjadikan teknologi sebagai sarana untuk menebar ujaran kebencian. Manusia menjadi tidak menyadari cinta Allah dan memaknai cinta dengan segala tindakan yang mencoreng diri dan tubuh yang adalah Bait Allah. Kita mesti belajar banyak dari bacaan kedua (1Kor 1:22-25), bahwa Kristus yang selalu menyertai kita mestinya kita sadari sebagai hikmat Allah karena kita, umat kristiani, dipanggil untuk menebarkan cinta dan kebaikan Allah kepada sesama. Kita mesti masuk ke kedalaman cinta Allah bukan menurut ukuran cinta manusia. Ukuran mencintai sebagai umat Kristiani adalah mencintai tanpa ukuran dan tidak juga dengan kriteria seperti cinta Allah.

Mari, nikmatilah masa prapaskah ini sebagai kesempatan untuk berdamai dengan Allah yang selalu mencintai kita sebab kita telah jauh melangkah dari-Nya. Semoga.

Fr. Arnold, SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: