Renungan Minggu Prapaskah I

Renungan Minggu Prapaskah I

Kej. 9:8-15Mzm. 25:4b-5ab,6-7bc,8-91Ptr. 3:18-22Mrk. 1:12-15.

Tiga tahun yang lalu saya pernah mendoakan seorang bapak yang sedang sekarat di ruang ICU SintCarolus Salemba Jakarta, sebut saja namanya Pak Paulus (bukan nama sebenarnya). Mendengar cerita dari istrinya saya sedikit mengenal bahwa bapak ini semasa mudanya sangat jauh dari Tuhan; jarang berdoa dan sibuk dengan pekerjaannya. Puji Tuhan beberapa hari kemudian bapak ini membaik dan dipindahkan ke ruang perawatan biasa (saya sendiri heran karena selama live in di pastoral RS.SintCarolus baru kali ini pasien yang saya doakan bersama suster di ruang ICU tidak kembali ke rumah Bapa, melainkan membaik). Seperti biasa, sejak jam delapan pagi kami mulai berkeliling ke setiap pasien untuk mendoakan mereka hingga berjumpa lagi dengan Pak Paulus ini. Yang paling membuat saya takjub adalah bahwa bapak ini memberikan kesaksian akan pertobatannya. Setelah berdoa bersama, Pak Paulus mengaku bahwa dirinya benar-benar menyesal telah mengabaikan setiap kali istrinya mengajak dirinya untuk berdoa. Sambil menangis ia menyesal bahwa selama ini telah menganggap berdoa kepada Tuhan Yesus itu tidak penting, karena ia yakin bahwa hanya dengan kerja ia dapat memberi makan istri dan anak-anaknya. Namun, ketika mengalami sakratul maut ia sadar bahwa hidup atau nyawa itu tidak dapat dibeli dengan uang. Ketika mengalami sakratul maut benar-benar ia merasa ketakutan karena ia merasa jauh dari Tuhan. Setelah kondisinya membaik Pak Paulus ini pun berjanji akan rajin berdoa dan tidak mengabaikan ajakan istrinya untuk berdoa bersama.

Bila dibandingkan, kisah perjumpaan saya dengan Pak Paulus di atas berakhir dengan bahagia (adanya pertobatan dan keselamatan dari Allah) sama seperti yang dikisahkan oleh rasul Petrus pada bacaan kedua. Walaupun sudah berada di alam maut, Tuhan Yesus tetap menawarkan kabar keselamatan kepada roh-roh “yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.”

Bisa dikatakan bahwa keselamatan yang dibawa oleh Tuhan Yesus itu tidak terbendung dan terhalangi oleh apapun bahkan maut sekalipun. Akan tetapi, bukan berarti kita lebih baik bertobat sewaktu mati saja. Persis sama seperti yang pernah dikatakan anak bina iman saya, “kalau begitu sekarang kita tidak perlu bertobat dong frat! Kan nanti Tuhan Yesus tetap akan menyelamatkan kita di alam maut.” Masalahnya tetap sama apabila di alam maut pun orang yang berdosa itu tidak mau menerima keselamatan yang ditawarkan Yesus. Memang benar dengan apa yang pernah dikatakan oleh romo dosen saya,”Neraka itu adalah ketika di alam maut manusia tidak dapat menerima tawaran keselamatan dari Allah yang terus menerus menggema di telinganya.” Berbeda dengan yang dikatakan Dilan kalau yang berat itu rindu, namun yang benar-benar berat dan menyengsarakan itu adalah ketika kita tidak lagi dapat menerima tawaran keselamatan dari Tuhan; tidak mampu menanggapi cinta-Nya. Jadi apakah kita akan menunggu ajal tiba baru bertobat? Kalau sedari hidup kita sudah terbiasa menolak tawaran dari Tuhan, jangan harap kita dapat menerima tawarannya saat di alam maut, oleh karena habitus tidak hanya membentuk fisik tetapi juga jiwa manusia. Mari bertobat dan percaya pada Injil !

Fr.Ivan,SX

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: